UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sejumlah Biarawati Membantu Petani Vietnam Hadapi Perubahan Iklim

Agustus 10, 2017

Sejumlah Biarawati Membantu Petani Vietnam Hadapi Perubahan Iklim

Suster Mary Vu Thi Ngoc, kepala kelompok perubahan iklim, mengunjungi petani di distrik Huong Thuy, Vietnam, 20 Juli.

Tujuh tahun lalu, Truong Thi Hat membudidayakan singkong di atas lahan seluas 3.000 meter persegi, namun menghasilkan panen yang buruk akibat kekeringan, banjir dan rayap di desa Quang Tho di Vietnam tengah.

Dia juga harus menjual pakaian bekas untuk mendapatkan uang ekstra, sedangkan suaminya bekerja di lokasi konstruksi.

Keluarga Hat yang terdiri dari tujuh anggota itu tinggal di sebuah rumah sederhana seluas 12 meter persegi, seringkali kekurangan makanan dan berutang enam juta dong (setara US $ 265) ke sebuah bank.

“Saat itu kami tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki hidup kami,” kata Hat.

Namun keberuntungan memihak keluarga tersebut. Dalam keadaan putus asa, mereka menghadiri sebuah lokakarya tentang pemilihan tanaman untuk mengatasi perubahan iklim dengan lebih baik.

Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Katolik untuk Pencegahan Perubahan Iklim yang dikelola para suster di kota Hue. Hat, seorang pengikut Buddha, mengatakan bahwa para suster menawarkan 3 juta dong (sekitar 1,7 juta rupiah) untuk menanam berbagai macam sayuran dan untuk memelihara unggas dan babi.

Dia diajarkan cara membuat pupuk alami dari daun kering dan jerami serta pupuk kandang dari unggas dan babi. Sekarang setiap hari dia menjual wortel, kol, okra, kembang kol, kacang hijau dan sayuran lainnya ke toko-toko di Kota Hue. Dia juga memelihara 100 ekor ayam dan selusin babi.

“Kami telah memperbaiki hidup kami, melunasi hutang dan membangun rumah baru,” kata Hat bangga.

Wilayah ini telah lama menderita cuaca ekstrim musiman – mulai dari musim dingin hingga kekeringan dan badai tropis yang parah – yang mengakibatkan panen yang buruk.

Namun, banjir yang disebabkan oleh hujan selama September sampai Desember 2016, telah menghancurkan hasil panen, rumah dan fasilitas umum senilai US $ 16 juta, menurut statistik pemerintah. Pemerintah daerah memberikan pasokan beras darurat serta bibit untuk ditanam.

Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan melaporkan bahwa Vietnam termasuk di antara negara-negara yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim, termasuk bencana alam.

Suster Mary Vu Thi Ngoc dari tarekat Putri Maria Tak Bernoda, selaku kepala kelompok perubahan iklim yang didirikan pada tahun 2010, membantu para petani dengan pilihan agar bisa bertahan dari dampak perubahan iklim.

Truong Thi Hat merawat bibit sayuran di kebun dekat rumahnya

Misalnya, kata Suster Ngoc, setiap anggota kelompok mengajari petani untuk membangun teralis kayu di atas tanah mereka yang terendam air untuk menanam sayuran dan bunga selama musim hujan. Dan mereka belajar bagaimana menghasilkan tanaman sehat tanpa menggunakan pestisida serta menggunakan nasi sisa, jerami dan serbuk gergaji untuk membudidayakan jamur.

Kelompok ini terdiri dari lima biarawati tiga tarekat yaitu Putri Visitasi Bunda Maria, Putri Maria Tak Bernoda, dan St. Paul de Chartres, serta 30 sukarelawan awam.

Mereka dilatih dalam keterampilan pertanian organik dan ketahanan terhadap perubahan iklim oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, sebuah organisasi non-pemerintah.

Suster Ngoc mengatakan pada awalnya kelompok tersebut menawarkan uang kepada petani untuk membeli benih, ternak dan unggas, membajak lahan pertanian mereka dan bahkan memperbaiki rumah mereka.

“Sejauh ini, kami telah mendirikan tujuh kelompok petani yang mengolah sayuran organik di paroki-paroki di enam kabupaten,” katanya.

Mereka menjual sayuran sehat ke supermarket dan pertokoan setempat. Para petani ini kemudian mengajarkan ketrampilan ini kepada para petani lain. Menurut Suster Ngoc, kelompoknya juga menawarkan keterampilan kejuruan kepada orang muda setempat, seperti cara membuat pakaian, bordir dan rosario dari kulit kerang.

Para biarawati itu juga secara teratur mengunjungi dan memberi perawatan kesehatan, obat-obatan, pakaian dan makanan kepada korban perubahan iklim di daerah terpencil.

Menurut Suster Ngoc kursus serupa diberikan kepada orang Katolik dan non-Katolik dalam hal keamanan pangan, pencegahan kanker, perawatan kesehatan untuk ibu dan bayi serta dampak perubahan iklim. Dia mengatakan bahwa kelompok tersebut berencana untuk mengirim beberapa petani untuk belajar bagaimana menghasilkan biogas dari kotoran ternak dan beternak babi selama musim hujan. Orang dengan keterbatasan fisik akan dilatih bagaimana menghadapi kondisi cuaca buruk.

Relawan juga memberikan kursus tentang pencegahan dalam hal kesehatan seperti pertolongan pertama, sengatan matahari, tenggelam, disambar petir, ketrampilan berenang dan bagaimana menghadapi penyakit lain yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Suster Teresa Nguyen Thi Lan dari tarekat Putri Visitasi Bunda Maria, seorang dokter dan anggota kelompok tersebut, mengatakan bahwa dia mengunjungi dan mendorong orang-orang yang terkena dampak perubahan iklim untuk makan makanan bersih, minum air matang, menggunakan kelambu, mengubur sampah dan mencegah diri dari gigitan ular

Suster Lan mengatakan bahwa para suster secara teratur mengunjungi dan menyediakan perawatan kesehatan, obat-obatan, pakaian dan makanan untuk korban perubahan iklim di daerah-daerah terpencil di provinsi Quang Tri dan Quang Binh.

 

Baca juga: Nuns help Vietnamese farmers adapt to climate change

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi