UCAN Indonesia Catholic Church News

PBB Berlaku Tidak Adil Terhadap Pengungsi Kristen di Bangkok

17/08/2017

PBB Berlaku Tidak Adil Terhadap Pengungsi Kristen di Bangkok thumbnail

Pengungsi Pakistani tiba di tempat penampungan sementara setelah dibebaskan atas jaminan di Bangkok. Para pengungsi Kristen asal Pakistan mengatakan UNHCR menggunakan penerjemah Muslim yang memiliki bias terhadap mereka. (Nicolas ASFOURI/AFP)

Kajian oleh komisi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap tuntutan orang-orang Kristen Pakistan di Bangkok untuk mendapat status pengungsi gagal karena tidak bisa menunjukkan bukti perpindahan mereka dari tanah air mereka sebagai pembenaran untuk mereka menerima status pengungsi, menurut para aktivis pendukung pengungsi di Bangkok.

Mengembalikan pengungsi dengan selamat ke negara asal merupakan pertimbangan utama dalam menilai kelayakan permohonan untuk status pengungsi. Mempertimbangkan situasi lebih lanjut, penilaian UNHCR menegaskan bahwa pencari suaka dapat dikembalikan ke rumah mereka tanpa risiko saat bukti dokumen yang disampaikan oleh mereka dengan jelas membuktikan hal yang sebaliknya, kata mereka menambahkan.

Umat ​​Katolik, orang-orang Protestan dan Muslim Pakistan telah melarikan diri ke Bangkok dalam jumlah ribuan untuk menghindari penganiayaan, diskriminasi sistematis dan undang-undang penghujatan yang berlaku di Pakistan. Undang-undang penghujatan diperkenalkan pada tahun 1987 dan memberi kuasa eksekusi terhadap siapa pun yang dituduh mencemarkan nama Nabi Muhammad.

Banyak pencari suaka yang statusnya telah dikonfirmasi oleh UNHCR, termasuk Ahmadi dan Muslim Syiah yang dianiaya oleh mayoritas Sunni di Pakistan.

Tetapi semakin banyak orang Kristen yang telah memberikan bukti dokumen tentang penganiayaan yang mereka alami namun klaim mereka ditolak oleh agen PBB dan mengatakan bahwa “kasus mereka ditutup”.

“Saya menunjukkan bukti sebuah fatwa yang menghukum saya sampai mati ke UNHCR,” kata Iqbal (nama palsu yang digunakan untuk melindungi identitasnya). “Saya memberi mereka salinan laporan resmi saya ke polisi di Pakistan dan pendaftaran pengaduan yang ditandatangani oleh petugas polisi,” katanya.

Masalah utama yang semakin mengganggu kedua klaim pengungsi ini dan di tempat lain adalah masalah bahasa.

“Pewawancara UNHCR tidak bisa berbicara atau membaca bahasa Urdu dan bahasa Inggris saya lemah dan saya jauh dari fasih dalam berbicara atau menulisnya, saya tidak punya uang untuk menerjemahkan dokumen,” katanya.

“Jadi, saya tidak dapat membuktikan bahwa saya adalah korban dari undang-udang pehujatan dan tidak ada bukti adanya keluhan kepada polisi, namun saya mencoba menyampaikannya tapi permohonan saya untuk status pengungsi ditolak oleh UNHCR.”

Orang-orang Kristen Pakistan yang berbasis di Bangkok juga melaporkan bahwa klaim mereka terhadap status pengungsi dinilai melalui interpretasi yang bias tanpa memperhatikan bukti dokumen yang mereka hadirkan untuk mendukung aplikasinya.

Orang-orang Kristen mengeluh bahwa UNHCR menggunakan juru bahasa Muslim, yang catatan bukti dalam bahasa Inggris diterima oleh petugas UNHCR. Namun pencari suaka tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah terjemahannya lengkap dan akurat, mereka baru mengetahuinya ketika ada penilaian kembali dari UNHCR yang ternyata apa yang para pengungsi katakan belum diberitahu kepada petugas UNHCR.

Sejumlah pencari suaka Pakistan yang berbasis di Bangkok mengatakan kepada ucanews.com bahwa ada bias terhadap mereka karena klaim mereka ditolak meski ada tindakan kekerasan di Pakistan – fatwas – bukti yang ditulis dalam bahasa Urdu asli. Adanya bukti ini dan efek panjang yang ditimbulkannya namun ternyata tidak dipahami oleh petugas UNHCR.

Sementara orang Kristen ditolak, Muslim Ahmadi secara rutin mendapatkan status pengungsi.

“Bagaimana mungkin dalam satu minggu, lima keluarga Ahmadi mendapat status pengungsi dan pergi ke Kanada dan enam keluarga Kristen ditolak status pengungsinya?” kata Seorang pencari suaka asal Pakistan, yang membantu warga desa yang mengungsi, kepada ucanews.com.

Keluarga Kristen Pakistan lainnya ditolak status pengungsinya meskipun bukti yang mengkonfirmasi perjuangan mereka untuk bertahan hidup dan berbagai ancaman yang terus-menerus terhadap mereka tersedia secara bebas di media surat kabar Pakistan yang masih dapat ditemukan di internet.

Keluarga ini ditembak beberapa kali karena terlibat dalam gerakan politik yang memprotes penganiayaan orang-orang Kristen namun oleh UNHCR permohonan pengungsi mereka dianggap mengada-ada meskipun hal itu terdokumentasi. Situasi serangan tersebut merupakan bagian dari “cerita penindasan” yang diajukan sebagai dasar klaim untuk status pengungsi kepada UNHCR.

Penghakiman “luar biasa” ini dibuat oleh UNHCR terlepas dari kenyataan bahwa target serangan ini telah berada pada posisi yang sama dalam gerakan pendahulunya – dan dia telah diberi status pengungsi pada saat kedatangan di Kanada.

Sementara itu, puluhan keluarga Kristen ini tetap terdampar di Bangkok selama proses UNHCR yang panjang yang telah berlangsung antara tiga sampai lima tahun. Pada saat ini, mereka dilarang bekerja, tinggal ditempat yang sempit dan tidak dapat kembali ke rumah.

UNHCR tidak memiliki proses peninjauan ulang dan oleh karena itu petugasnya secara efektif tidak bertanggung jawab atas keputusan mereka. Tidak ada ketentuan untuk badan eksternal, ombudsman atau proses transparan untuk menilai kewajaran keputusan yang dibuat di daerah setempat.

Upaya untuk mengajukan banding atas keputusan UNHCR ke kantor pusatnya di Jenewa telah gagal, terlepas dari kesalahan fakta, kurangnya proses hukum dan pengabaian hak asasi pengungsi. Aplikasi semacam itu dikirim langsung kembali ke Bangkok di mana semua masalah dimulai.

ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. VIDEO: Memahami Masyarakat China Modern
  2. Aung San Suu Kyi Lamban, Warga Muslim di Asia Kecewa
  3. Paus Akui Gereja Terlambat Menangani Pelecehan Seksual
  4. Menjadi Gembala “Berbau Ikan Asin”
  5. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  6. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  7. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  8. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  9. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  10. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  1. Pengertian radikal adalah konsep kebersamaan dlm Al-Quran dan hadist TDK boleh m...
    Said Ali Hanafiah on 2017-09-25 10:39:31
  2. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  3. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  4. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  5. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  6. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  7. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  8. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  9. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  10. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
UCAN India Books Online