UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ketika Upaya Damai Dibayangi Ketakutan akan Perang Nuklir

Agustus 21, 2017

Ketika Upaya Damai Dibayangi Ketakutan akan Perang Nuklir

Orang-orang meletakkan bunga dan mengadakan doa pagi hari sebelum peringatan 72 tahun korban bom atom di Peace Memorial Park di Hiroshima pada 6 Agustus. Sebuah pesawat B-29 AS menjatuhkan sebuah bom di kota itu pada pukul 8:15 pagi pada 6 Agustus, 1945, menandai penggunaan senjata atom pertama yang pada akhirnya merenggut nyawa 140.000 orang. (AFP)

Setiap tahun dari 6 hingga 15 Agustus, Gereja Katolik di Jepang menandai Sepuluh Hari untuk Damai. Periode tersebut dibuka pada peringatan bom atom Hiroshima dan berakhir pada peringatan hari Jepang menyerah, yang mengakhiri perang paling merusak dalam sejarah manusia, Perang Dunia II.

Selama waktu itu, ada doa, pertemuan, pembicaraan dan semacamnya untuk merenungkan dan mengukuhkan kembali komitmen gereja untuk berdamai.

Pesan tahun ini dari presiden Konferensi Waligereja Jepang, Uskup Agung Mitsuaki Takami dari Nagasaki -yang ibunya selamat dari pemboman kota Nagasaki ketika sedang mengandung uskup itu dalam rahimnya- menekankan pentingnya sebuah komitmen terhadap antikekerasan.

Namun, tahun ini sepuluh hari itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena dua gangguan besar. Mereka didominasi oleh dua pria dengan gaya rambut lucu – satu hitam, lainnya oranye.

Di barat Jepang, kita menghadapi orang narsis yang tidak menentu, tidak dapat diprediksi, tidak dewasa, yang berbicara dengan mudahnya bicara tentang menggunakan senjata tersebut. Di sebelah timur, kita berhadapan dengan narsisis yang sama, yang bersedia untuk menggunakan senjata tersebut.

Perbedaannya adalah beberapa orang berspekulasi (lebih dengan harapan yang menakutkan daripada dengan keyakinan) bahwa perbuatan dan kata-kata aktor barat setidaknya dilakukan dengan perhitungan cermat untuk mencapai tujuan tertentu.

Kedua tipe aktor ini membayangi Sepuluh Hari Perdamaian Jepang karena alasan sederhana bahwa jika mereka terbawa oleh kata-kata atau emosi mereka sendiri, Jepang akan berada di jalur kekacauan.

Sejak akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat telah mempertahankan kehadiran militer di Jepang, dengan pangkalan di seluruh negeri. Tentu saja, pangkalan tersebut terutama melayani kepentingan strategis Amerika, kepentingan yang mencakup kewajiban perjanjian pertahanan terhadap Jepang.

Namun, alasan utama penempatan kekuatan militer di Jepang pada dasarnya adalah untuk menyediakan basis operasi di semenanjung Korea jika kebutuhan tersebut muncul.

Rudal dari atau ke semenanjung Korea kemungkinan akan terbang di atas Jepang. Beberapa pemerintah prefektur telah mendekati pemerintah nasional di Tokyo untuk mendapatkan jaminan bahwa mereka akan dilindungi jika Korea Utara menembakkan rudal melalui wilayah udara Jepang ke Guam. Jika rudal mulai terbang, pertahanan anti-rudal Jepang, baik orang Jepang maupun Amerika, bisa menjadi bagian dari baku konflik itu.

Meskipun pangkalan Amerika di Jepang secara resmi ditujukan untuk pertahanan Jepang, kehadiran mereka pada kenyataannya membuat negara ini berpotensi, atau bahkan mungkin, menjadi target jika terjadi konflik yang melibatkan Amerika Serikat.

Jika senjata nuklir digunakan – meskipun Kim Jong-un maupun Donald Trump memberikan banyak alasan untuk meyakinkan bahwa mereka tidak akan digunakan jika permusuhan terjadi – Jepang bisa berada di jalur kejatuhan radioaktif meskipun tidak ditargetkan secara langsung.

Dalam hal ini, masa depan Jepang berada di luar tangan Jepang. Korea Utara, Korea Selatan, China dan Amerika Serikat akan membuat keputusan yang bisa berarti kehancuran.

Untuk saat ini, Kim tampaknya melangkah mundur dari ancamannya untuk menembakkan rudal di atas Jepang menuju wilayah Guam di A.S. Dan pemerintah Korea Selatan telah mengumumkan bahwa mereka telah menerima jaminan dari Washington bahwa A.S. tidak akan mengambil tindakan sepihak tanpa persetujuan Seoul.

Namun, dapatkah para pemimpin Korea Utara dan Amerika yang gigih dipercaya untuk mengikuti kesepakatan hari ini di kemudian hari?

Apa yang akan dilakukan dunia, terutama bagian dunia yang disebut Jepang, ketika kita tidak memiliki kendali atas situasi ini? Mungkin jawabannya ada dalam Sepuluh Hari untuk Damai yang berada di bawah bayang-bayang kegelapan Kim dan Trump.

Saya bukan di antara orang-orang Kristen yang mengklaim bahwa cukup dengan mengucapkan doa saja dan semuanya akan baik-baik saja. Kita manusia mungkin telah berdoa sejak kita keluar dari pepohonan, dan bukti bahwa itu “terjawab” kurang, paling tidak bisa dikatakan begitu.

Salah satu peristiwa penting dalam sepuluh hari ini adalah prosesi obor yang menandai bom atom 9 Agustus di Nagasaki. Bom itu meledak hampir secara langsung di atas katedral di kota itu, ketika orang-orang di dalamnya berdoa untuk perdamaian.

Kegiatan sepuluh hari itu diisi doa, refleksi, pembelajaran dan tindakan. Kegiatan-kegiatan itu, pada akhirnya, lemah dalam menghadapi kekerasan yang mana Uskup Agung Takami mendesak kita untuk menyangkalnya.

Mereka mungkin melakukan satu hal penting dalam menghadapi kenyataan ketidakberdayaan. Mereka memperbarui keyakinan bahwa St. Paulus berbicara tentang di Roma, bahwa baik “bahaya atau pedang” maupun “penguasa” “tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Ketidakberdayaan kita melawan sikap orang kuat dapat mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, bagaimana kita dapat menentukan kemenangan atau kekalahan, mereka tidak akan menghalau Tuhan dari kita. Dari sudut pandang kita, mungkin tidak banyak harapan, tapi kejadian saat ini mengingatkan kita bahwa ini mungkin satu-satunya harapan yang realistis.

 

Pastor William Grimm, MM, adalah publisher ucanews.com, tinggal di Tokyo, Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi