UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Memahami Tantangan yang Dihadapi Biarawati di China

Agustus 31, 2017

Memahami Tantangan yang Dihadapi Biarawati di China

Dengan pakaian khas mereka para suster sedang berdoa di salah satu gereja Katolik di China. (Foto: Michel Chambon)

Di sebelah utara Cina, ada ordo religius yang terkenal: Suster-Suster Hati Kudus Maria. Kongregasi ini merupakan sebuah komunitas keuskupan beranggotakan 95 suster. Di China, hanya ada komunitas diosesan, karena tidak ada kongregasi nasional atau internasional yang terdaftar secara resmi. Tetapi jika kategori tunggal ini menunjukkan sebuah organisasi yang homogen, tampak dari dekat bahwa kehidupan religius perempuan menunjukkan realitas yang kompleks.

Sebagian besar tarekat diosesan memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-19, para suster Hati Kudus Maria mulai sebagai sekelompok perawan yang dikonsekrasi untuk menyediakan perawatan medis dasar, mendidik orang miskin, mengajar tentang Kristus, dan membantu para rohaniwan. Cara hidup mereka menarik begitu banyak wanita muda sehingga pada tahun 1932 mereka menjadi sebuah kongregasi religius yang secara resmi disetujui oleh Tahta Suci.

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, Cina utara mengalami turbulensi. Kekaisaran Qing lenyap, pemberontakan Boxer membawa bencana, orang-orang Jepang menyerang Manchuria dan Soviet Rusia mendorong komunis lokal.

Di tengah perang sipil, perawatan kesehatan dan pendidikan bukanlah prioritas calon pemimpin China. Akibatnya, periode ini menjadi vakum untuk misi. Para suster terlibat dalam kegiatan seperti menjalankan apotik, sekolah dan panti asuhan serta rumah sakit jiwa untuk orang tua yang terlantar.

Tapi ketika Komunis akhirnya menguasai negara China pada tahun 1949, para suster harus meninggalkan misi keagamaan dan layanan sosial. Para suster yang tidak melarikan diri ke Taiwan harus kembali ke keluarga mereka. Tapi para biarawati lansia bersikeras bahwa banyak biarawati menjalani kehidupan doa rahasia dan terus melayani orang-orang yang membutuhkan di sekitar mereka.

Ketika Komunis China menjadi kurang anti-agama dan memperkenalkan reformasi pada akhir 1970-an, komunitas Katolik dan ordo religius diizinkan muncul kembali di ranah publik. Dengan bantuan uskup setempat dan beberapa umat Katolik yang setia, belasan suster Hati Kudus Maria yang sudah lanjut usia berkumpul dan menghidupkan kembali kongregasi mereka.

Tapi Cina telah berubah. Para suster harus menemukan cara baru untuk eksis dan melayani gereja dan masyarakat serta mendefinisikan ulang karya mereka.

Saat ini, para Suster Hati Kudus Maria telah membangun kembali sebuah biara besar di kota bersejarah mereka. Di jalan-jalan di sekitarnya, warga terbiasa melihat para suster dengan pakaian religius khas mereka. Meskipun tidak mungkin lagi menjalankan sekolah, beberapa biarawati memberikan bantuan medis dasar kepada mereka yang masih terbelakang di China yang sudah modern. Beberapa mengelola panti jompo di biara mereka.

Beberapa suster melayani di paroki lain di wilayah itu. Di sana mereka terlibat dalam berbagai aspek pelayanan pastoral, mengawasi persiapan untuk sakramen, mengajar katekese dan membantu memelihara bangunan paroki.

Jelas, jumlah suster yang relatif besar dan jangkauan layanan mereka yang luas patut disyukuri. Bersama-sama, Suster-Suster Hati Kudus Maria merawat kehadiran Kristus yang penuh kasih di Cina modern. Tapi tantangan dan kesulitan tetap ada.

Pertama-tama, para suster menghadapi dilema keuangan yang serius. Sejauh ini, mereka telah menjalani kehidupan yang sederhana. Tapi lingkungan sosio-religius mereka berkembang dengan cepat. Untuk mendapatkan asuransi kesehatan untuk semua 95 suster itu, kongregasi perlu mendapatkan dana awal sebesar US $ 1 juta dan kemudian memberikan kontribusi sekitar US $ 100.000 per tahun.

Tapi sifat layanan keagamaan mereka tidak memungkinkan mereka mendapatkan jumlah yang begitu besar sehingga kebanyakan dari para suster hidup tanpa jaminan kesehatan. Umat Katolik China lebih memilih memberi uang untuk proyek yang terlihat, seperti bangunan baru. Jadi, sangat sulit bagi para suster untuk mengharapkan sumbangan dermawan untuk memenuhi kekurangan finansial.

Tantangan kedua bagi para suster berkaitan dengan evolusi klerus China.

Dalam konteks di mana Suster-Suster Hati Kudus Maria semakin terdidik, dengan pengalaman internasional dan keahlian pastoral mereka sendiri, mendapatkan hubungan yang harmonis dengan imam diosesan lokal sangat menantang. Para imam dan biarawati memiliki pandangan yang semakin berbeda mengenai gereja dan misi dan tugas mereka sendiri.

Hal ini, tentu saja, dicampur dengan norma budaya gender yang cenderung memposisikan wanita di posisi terendah. Selama dekade terakhir, ketegangan di dalam paroki lokal antara para imam dan suster telah menjadi lebih umum. Seringkali, susterlah yang akhirnya harus pergi.

Ketegangan ini juga ada di tingkat keuskupan antara beberapa uskup dan tarekat diosesan. Kasus yang paling diberitakan adalah di keuskupan Changzhi, provinsi Shanxi, di mana Uskup Li Suguang membubarkan kongregasi local dan menyita barang-barang kolektif mereka.

Tantangan ketiga dan terakhir adalah tentang identitas kongregasi. Dalam sejarah modern, Gereja Katolik berasumsi bahwa sebuah kongregasi religius harus mendefinisikan dirinya sendiri melalui pendiri dan karisma tertentu. Tetapi dengan Suster-Suster Hati Kudus Maria, seperti kebanyakan kongregasi diosesan di China, tidak ada pendiri yang begitu jelas.

Selama masa awal yang panjang, para suster merupakan para wanita yang menjalani hidup selibat dan hidup di bawah arahan uskup setempat, lalu didukung oleh berbagai pihak, termasuk para uskup luar.

Baru kemudian mereka menjadi tarekat religius dan sekarang mereka terus menyesuaikan misinya. Para suster China ini dibiarkan mencoba untuk memutuskan apakah akan berfokus pada perawatan medis, pendidikan atau layanan keuskupan lainnya.

Setelah hampir 40 tahun kelahiran dan pertumbuhan kembali, kehadiran nyata dari kehidupan religious Katolik menjadi cukup kuat di China saat ini. Kendati demikian, tantangan dan kesulitan tetap ada. Kebanyakan tantangan itu bukan semata-mata dari negara, tapi dari perubahan sosial ekonomi dan ekspektasi eklesiologis.

Michel Chambon adalah seorang teolog Katolik asal Prancis-Katolik yang sedang menempuh pendidikan doktor antropologi di Boston University di Amerika Serikat. Saat ini dia berada di China selama satu tahun untuk kerja lapangan di antara Protestan setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi