UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mengurangi Ancaman Kekeringan dengan Program Biogas

September 6, 2017

Mengurangi Ancaman Kekeringan dengan Program Biogas

Masyarakat kecamatan Musuk, kabupaten Boyolali, mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari saat musim kemarau panjang.

Daerah lereng gunung umumnya mudah dilanda kekeringan atau kesulitan air terutama bila kemarau panjang. Hal itu semakin parah apabila komponen-komponen pengikat air seperti pohon-pohon jumlahnya tidak mencukupi atau berkurang. Sumber-sumber mata air umumnya banyak terdapat di daerah yang banyak pohonnya. Kalau pohon-pohon itu ditebangi maka sumber mata air juga akan berkurang atau bahkan bisa mati.

Untuk mengatasi kekeringan biasanya pemerintah atau atas swadaya desa setempat mendatangkan tangki-tangki air bersih untuk mencukupi kebutuhan air. Akan tetapi hal ini semakin lama tentu bisa mendatangkan kerepotan karena jumlah kebutuhan air akanmeningkat seiring dengan bertambahnya penduduk.

Menyikapi hal ini, KARINAKAS hadir dengan program biogas. Program biogas adalah usaha untuk mengatasi krisis air sampai ke akar-akarnya. Lalu apa kaitannya program ini berkaitan dengan ancaman kekeringan?

Latar Belakang Munculnya Program Biogas

Pasca erupsi Merapi 2010, KARINAKAS melakukan pendampingan untuk para petani di 7 paroki lingkar Merapi. Pendampingan tersebut bertujuan untuk membantu para petani bangkit kembali dari keterpurukan terlebih setelah lahan pertanian mereka rusak akibat erupsi Merapi.

Pada saat memberikan pendampingan tersebut, KARINAKAS melihat bahwa beberapa wilayah di lereng timur Merapi khususnya 8 desa di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Selo di Kabupaten Boyolali, sering mengalami kekeringan. Kekeringan ini terjadi hampir setiap tahun. Bahkan menurut cerita warga, sumber mata air yang ada di wilayah Kecamatan Musuk dan Selo dari waktu ke waktu banyak yang hilang.

Di wilayah ini pula KARINAKAS menjumpai realitas dimana banyak warga yang menggunakan kayu bakar dalam jumlah besar untuk keperluan memasak. Rata-rata wargamemperoleh kayu bakar dari area Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) atau juga dari ladang mereka sendiri.

Umumnya jumlah pohon yang ditebang untuk keperluan memasak sekitar 1-2 batang per bulan per kepala keluarga. Lambat laun hal ini tentu saja menyebabkan semakin berkurangnya jumlah pohon di daerah ini. Padahal pohon itulah yang membantu peresapan air hujan dan menahan air di tanah agar tidak hilang. Kemungkinan besar inilah yang menyebabkan berkurangnya sumber mata air di daerah tersebut.

Sumber energi, yakni api inilah yang menjadi pokok permasalahan untuk dicari solusinya, yakni bagaimana agar masyarakat di sekitar lereng timur Merapi tidak menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi, sehingga tidak melakukan penebangan pohon di hutan. Apa ada sumber energi selain dari kayu bakar? Akhirnya KARINAKAS melihat adanya potensi di masyarakat tersebut yang dapat menjadi jalan keluarnya. Ternyata selain bertani, hampir semua warga memiliki ternak sapi di rumah mereka masing-masing.

Rata-rata sapi yang mereka miliki adalah jenis sapi perah. Sapi-sapi inilah yang menjadi potensi itu. Kotoran sapi ini dapat menjadi bahan baku biogas. Berangkat dari refleksi inilah, KARINAKAS mencoba mendampingi warga dengan membawa program biogas. Biogas ini merupakan energi alternatif yang menghasilkan api yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan energi khususnya untuk memasak. Harapannya biogas ini dapat menggantikan kayu bakar sebagai sumber energi.

Sebetulnya program biogas sudah masuk ke wilayah ini cukup lama, akan tetapi biogas tidak berkembang dengan baik, dan banyak warga yang tidak tertarik untuk menggunakan biogas, karena proses pembuatan biogas membutuhkan dana yang sangat besar yakni sekitar 30 juta. Lagi pula, warga yang akan membuat biogas harus memiliki minimal 4 ekor sapi, lahan harus luas dan tersedia air yang cukup. Selain itu, warga yang menggunakan biogas umumnya hanya tinggal menerima jadi saja. Warga tidak pernah dilibatkan saat membuat biogas, sehingga mereka sendiri tidak paham bagaimana cara kerja dan perawatannya.

Dengan kondisi yang seperti itu, memang tidak mudah bagi KARINAKAS untuk masuk dengan program biogas. Namun, KARINAKAS mencoba masuk melalui aspek ekonomi yakni keuntungan ekonomis dari biogas. Lalu KARINAKAS menggagas program biogas dengan biaya yang murah, cukup dengan 1 ekor sapi, dan dengan dana sekitar 3,5 juta sampai 4 juta warga sudah bisa membuat biogas dalam skala rumah tangga.

Program biogas yang didampingi KARINAKAS ini dilakukan dengan cara bergotong royong sehingga semua warga paham bagaimana cara kerja, proses pembuatan dan perawatan instalasi biogas. Dengan demikian keberlangsungan biogas akan terjamin.

Keuntungan Ekonomis dan Kelestarian Alam

Warga pada awal mula tidak melihat dampak bahwa dengan menggunakan biogas bisa menyelamatkan lingkungan. Banyak warga yang mula-mula melihat biogas dari segi ekonomisnya saja. Dengan menggunakan biogas mereka sudah tidak lagi menggunakan kayu bakar, artinya sudah tidak perlu lagi mencari kayu bakar di hutan atau dari ladang sendiri atau membeli kayu bakar. Mereka pun juga tidak perlu membeli gas elpiji. Ini berarti terdapat penghematan ekonomi bila menggunakan biogas.

Dalam praksisnya, setelah warga mulai menggunakan biogas, mereka dapat menabung mulai 100.000-600.000 ribu perbulan. Namun lambat laun, warga (dalam hal ini kelompok tani) mulai diajak untuk melihat dampaknya terhadap lingkungan. Maka KARINAKAS mulai mengajak kelompok-kelompok tani untuk melakukan Kajian Resiko Bencana Partisipatif (KRBP).

Dari hari hasil kajian ini, ditemukan bahwa ancaman utama yang mereka hadapi setiap tahun sebetulnya adalah kekeringan. Mereka juga diajak untuk melihat bahwa hutan pohon-pohon hutan adalah komponen alam yang menyerap dan menyimpan air (desa mereka sendiri adalah kawasan penyangga hutan TNGM). Maka bila pohon-pohon tersebut ditebang dan dijadikan kayu bakar, air tidak dapat terserap dan tersimpan dengan baik di tanah, sehingga dapat mengakibatkan sumber mata air semakin lama semakin berkurang. Hal ini dapat mendatangkan bencana kekeringan terutama di musim kemarau.

Oleh sebab itu, kelompok tani yang semula hanya memikirkan pertanian untuk lahan mereka sendiri, sekarang mereka sudah mencanangkan diri sebagai kelompok tani peduli lingkungan. Mereka sudah mulai sadar bahwa mereka harus melakukan penyelamatan hutan dengan tidak menggunakan kayu sebagai bahan bakar, dan juga perlunya menanam pohon.

Mereka juga sudah mulai membuat biopori dan sumur resapan. Aksi ini membantu menjaga lingkungan hidup terutama mengurangi ancaman kekeringan di musim kemarau.

Selain itu, biogas juga menghasilkan sisa atau residu. Residu biogas ini ternyata juga bisa digunakan sebagai pupuk organik untuk mendukung pertanian mereka. Residu ini berasal dari kotoran sapi yang sudah digunakan untuk biogas. Jadi warga dapat mengambil residu ini di instalasi biogas dan dapat digunakan secara langsung sebagai pupuk organik.

Budaya Setempat dan Gotongroyong

KARINAKAS juga melihat ada potensi lain yang bisa dikembangkan dalam rangka menjaga kelestarian alam, yaitu budaya. Di wilayah Kecamatan Musuk dan Selo, terdapat budaya “merti tuk” yang mereka lakukan setiap tahun. Ritual ini bertujuan untuk menjaga sumber-sumber mata air.

Biasanya warga akan melakukan kenduri di sekitar sumber mata air, dan juga mengadakan gelar seni budaya. KARINAKAS melihat hal ini sebagai peluang untuk melakukan kampanye tentang kelestarian lingkungan hidup. Maka KARINAKAS bekerjasama dengan warga mulai menggunakan event “merti tuk” untuk mengadakan sarasehan tentang lingkungan selain melakukan penanaman pohon. Warga pun semakin melihat dan sadar bahwa lingkungan memang perlu dilestarikan dan dijaga.

KARINAKAS sendiri melihat bahwa kesadaran akan lingkungan ini perlu ditanamkan sejak dini, maka KARINAKAS bekerjasama dengan Dinas Pendidikan melakukan pendampingan untuk guru-guru Sekolah Dasar di dua Kecamatan yakni Musuk dan Selo untuk melakukan program PRB untuk siswa kelas 4 dan 5.

Para guru pun diajak untuk membuat modul PRB yang mereka implementasikan langsung kepada para siswa. Maka kampanye kelestarian lingkungan hidup juga dilakukan lewat pendidikan terutama pendidikan usia dini, agar anak-anak sejak dini sudah mulai bersahabat dengan lingkungan.

Selain itu, ternyata ada pembelajaran dari program biogas yang dapat dipetik. Dengan adanya program biogas ini maka budaya gotong royong masyarakat semakin tinggi. Pada saat pembuatan instalasi biogas, warga saling bekerjasama dan bergotongroyong. Mereka hadir untuk memberikan bantuan tenaga dan dukungannya. Semangat kerjasama dan gotong-royong ini lahir ketika proses pembuatan maupun perawatan instalasi biogas.

Kerjasama dengan Berbagai Pihak

KARINAKAS dan warga dampingan juga membangun komunikasi maupun kerjasama dengan berbagai pihak yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali, Dinas Pekerjaan Umum – Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Boyolali, Taman Nasional Gunung Merapi serta warga sekitar lereng Merapi.

Kini, selain warga paham akan cara kerja dan proses pembuatan biogas, mereka saat ini juga sudah mendapat undangan dari desa-desa tetangga bahkan dari wilayah propinsi DIY dalam untuk berbagi suatu hal tentang penggunaan dan pembuatan biogas. Salah satu kelompok yang lahir karena dampingan dari desa di lereng timur Merapi ini adalah Kelompok Geni Panguripan Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Mereka mengembangkan biogas dengan cara yang sama seperti yang mereka laksanakan di Kabupaten Boyolali.

Selain itu, dengan adanya biogas ini, satu desa yakni Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali sudah mendapatkan nominasi juara 1 sebagai Desa Mandiri Energi di Tingkat Propinsi Jawa Tengah. Selain itu juga, komunitas di Desa Sruni ini juga sudah dicanangkan sebagai Desa Proklim Utama Tingkat Nasional, penghargaan ini diterima dari Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Biogas: Energi Alternatif Pengganti Kayu Bakar

Bagi sebagian masyarakat di desa sekitar lereng timur Merapi, khususnya di Kabupaten Boyolali, menggunakan kayu bakar maupun gas elpiji untuk memasak merupakan kebiasaan hidup sehari-hari. Memasak dengan menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi kelihatannya memang sudah menjadi hal biasa dan tampaknya wajar-wajar saja.

Akan tetapi penggunaan kayu bakar dalam jangka waktu lama akan merugikan kelestarian alam yang pada gilirannya akan berdampak pada meningkatnya ancaman bencana kekeringan, longsor, banjir dan sebagainya. Maka dibutuhkan energi alternatif untuk mengganti kayu bakar tersebut, yang dalam hal ini adalah biogas.

Mengapa Biogas ini menjadi pilihan? Ada 4 alasan, pertama, hampir sepertiga jumlah penduduk Boyolali adalah peternak sapi mereka memelihara sekitar 88.533 ekor sapi perah dan 98.248 ekor sapi potong, hal ini sangat potensial untuk penyediaan bahan baku biogas.

Kedua, ramah lingkungan, karena dengan menggunakan biogas akan mengurangi penggunaan kayu bakar sehingga penebangan pohon dapat dihindari. Masyarakat juga terbantu mengolah limbah kotoran sapi yang pada gilirannya mengurangi emisi gas CH4, serta dapat menghasilkan pupuk organik.

Ketiga, pembuatan biogas sangat mudah, pengoperasiannya pun sederhana dan aman. Keempat, murah dan efisien, investasi yang diperlukan untuk membangun 1 unit biogas sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta, namun dalam jangka panjang mereka akan menghemat pengeluaran karena tidak perlu membeli kayu bakar atau gas elpiji untuk memasak.

Penutup

Salah satu kebutuhan besar masyarakat lereng timur Merapi adalah kebutuhan akan energi yakni api untuk memasak. Salah satu sumber energi api itu adalah kayu bakar. Namun penggunaan kayu bakar yang berlebihan dapat berakibat pada berkurangnya sumber air, karena tidak ada komponen alam yang “menangkap” dan menampung air terutama air hujan.

Air hujan yang ditangkap oleh akar-akar pepohonan, membuat ketersediaan air di tanah bisa mencukupi kebutuhan seluruh mahluk. Maka bila ketersediaan pohon itu banyak, ketersediaan air tentunya juga banyak.

Jadi inilah keterkaitan antara biogas dengan ancaman kekeringan. Ada keterkaitan antara keduanya, yakni bila masyarakat menggunakan biogas, maka mereka akan mengurangi penggunaan karyu bakar. Bila mereka mengurangi penggunaan kayu bakar, berarti mereka juga mengurangi penebangan pohon di hutan, karena sebagian besar kayu bakar, didapatkan di hutan atau lereng gunung.

Bila pohon-pohon di hutan itu tidak ditebangi, maka akan membantu menjaga ketersediaan air, sehingga ketika musim kemarau tiba, air tidaklah hilang sama sekali. Hal ini akan semakin baik bila didukung dengan program kelesatarian alam lainya misalnya pembuatan biopori maupun reboisasi.

Maka biogas ini secara tidak langsung membantu mengurangi ancaman kekeringan, karena membuat warga mengurangi konsumsi kayu bakar yang mereka peroleh dari hutan, sehingga hutan menjadi lebat dan sumber mata air terjaga. Karena, menjaga kelestarian alam, berarti menjaga mata pencaharian, berarti pula menjaga penghidupan.

Romo Martinus Sutomo adalah wakil direktur KARINA Keuskupan Agung Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi