UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Membawa Harapan Bagi Muslim yang Menderita Akibat Perang

September 7, 2017

Membawa Harapan Bagi Muslim yang Menderita Akibat Perang

Suster Betsy Espana menyapa seorang gadis Muslim saat merayakan Idul Fritri di pusat pengungsian di Kota Iligan, bulan Juni lalu.

Gadis-gadis Muslim muda, dengan kepala ditutupi syal, berlari menuju seorang wanita yang berbusana cokelat yang baru saja tiba di sebuah kamp pengungsi di luar kota Marawi yang sudah diporakporanda di Filipina selatan.

Selama dua bulan belakangan ini, Suster Betsy Espana membawa bantuan pangan kepada keluarga pengungsi. Sekitar 400.000 orang terkena dampak bentrokan bersenjata antara tentara pemerintah dan orang-orang bersenjata.

Biarawati dari Kongregasi Bunda Maria dari Kemenangan Salib itu mengatakan bahwa dia ingin menjalankan misinya “tanpa ada sorotan,” dan bahwa dia ada di sana bersama orang-orang untuk melayani mereka.

Suster Betsy memimpin tim penyedia bantuan pangan dari Keuskupan Iligan, namun dia mengatakan timnya tidak hanya menyediakan makanan.

“Kami bertujuan untuk mengembalikan martabat mereka dan membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam masalah ini,” katanya kepada ucanews.com.

Bagi umat Islam, kehadiran Suster Betsy sangat berarti.

Salah seorang perawat di pusat evakuasi mengatakan bahwa Suster Betsy membuat mereka lupa bahwa mereka memiliki masalah.

Arracmah Lumabao, seorang perawat Muslim berusia 23 tahun yang empat saudara kandungnya masih hilang di Marawi, mengatakan bahwa dia menemukan harapan “setiap kali Suster Betsy bermain dengan anak-anak.”

“Dia memperlakukan mereka sebagai adik-adiknya, saya melihat diriku dan saudara-saudaraku di dalam dirinya dan anak-anak itu,” kata Arracmah.

Biarawati tersebut memberi Arracmah harapan “bahwa ada orang baik seperti Suster Betsy yang mungkin merawat saudara kandungnya meskipun perbedaan iman.”

Suster Betsy bukanlah orang baru yang bekerja untuk masyarakat dan memberikan respon kemanusiaan terhadap masyarakat yang menderita bencana di Mindanao.

Dia masuk biara pada tahun 1999 dan mengikrarkan kaul kekal sebagai seorang religius pada tahun 2008.

Biarawati tersebut ditugaskan di kota Iligan pada tahun 2015 untuk mengorganisir sebuah komunitas yang terlantar akibat topan besar pada tahun 2011 yang menyebabkan setidaknya 2.000 orang meninggal.

“Kongregasi melihat perlunya mendirikan tempat untuk pendidikan nilai di lokasi relokasi,” kata suster yang bekerja di sebuah tempat relokasi yang menampung hampir 300 keluarga.

Dia berkata, “Gereja ada untuk membangun sebuah komunitas” dari berbagai budaya dan orang-orang di lokasi ini.

James Degumbes, seorang penduduk yang tinggal di lokasi relokasi tempat biarawati tersebut ditugaskan, menggambarkan Suster Betsy sebagai “mediator” dalam perselisihan di antara penduduk.

“Orang datang kepadanya untuk mendapatkan nasehatnya atau jika seseorang membutuhkan pertolongan,” kata James.

Biarawati itu berkata, “Begitulah cara kerja belas kasihan … dengan membayarnya ke depan.”

“Jika kita menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, mereka akan memberikan belas kasihan yang sama dengan yang mereka terima kepada orang lain,” katanya.

Dia bilang James dan orang-orang lain seperti dia pernah sangat membutuhkan. Mereka sekarang bekerja dengan biarawati tersebut untuk membantu pengungsi Muslim dari Marawi.

Pastor Albert Mendez, direktur seksi sosial Keuskupan Iligan, mengatakan bantuan biarawati  seperti Suster Betsy dan sukarelawannya mengalami “tantangan besar” karena kurangnya tenaga kerja di tempat-tempat evakuasi.

Imam itu mengatakan bahwa para biarawati tersebut adalah “pemain kunci” dalam karya kemanusiaan gereja tersebut.

“Mereka adalah perespon pertama,” kata Pastor Albert.

“Para biarawati dan orang-orang di komunitas mereka adalah pembuluh darah yang membiarkan belas kasihan dan kasih sayang mengalir dan hidup,” kata pastor itu.

Suster Betsy mengakui bahwa masih ada “jalan yang panjang” sebelum pengungsi Marawi dapat pulih.

“Kami benar-benar mempersiapkan yang terburuk saat bantuan dari organisasi mulai berkurang,” katanya.

Biarawati itu mengatakan bahwa tugasnya adalah “menjaga semangat mereka tetap hidup” dan “bertindak sebagai sumber kegembiraan dan optimisme” kepada ribuan keluarga yang “merasa sakit namun tetap bisa tertawa.”

-ucanews.com-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi