UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Romo Magnis: Larangan Motor Ibarat Perang kepada Masyarakat Sederhana

September 8, 2017

Romo Magnis: Larangan Motor Ibarat Perang kepada Masyarakat Sederhana

Romo Franz Magnis Suseno, SJ mengatakan bahwa larangan bagi pemotor untuk melewati jalan-jalan protokol bak perang terhadap masyarakat kecil

Tokoh agama yang juga budayawan Franz Magnis-Suseno, SJ atau Romo Magnis mengkritik rencana Pemprov DKI melarang kendaraan bermotor di jalan protokol DKI Jakarta. Menurut Franz Magnis, pelarangan itu bak perang terhadap masyarakat yang sederhana.

“Sepuluh tahun lalu pemerintah DKI mau menutup beberapa jalan penting bagi sepeda motor, tetapi kemudian tidak jadi,” ujar Franz Magnis mengawali pernyataan tertulisnya yang berjudul ‘Perang Melawan Rakyat?’, Kamis (7/9/2017).

Namun, kata Franz Magnis, sekarang lagi-lagi ada omongan bahwa jalan seperti Rasuna Said dan Sudirman mau total ditutup untuk sepeda motor pada hari kerja. Dia mempertanyakan hal itu.

“Benarkah? Di sini saya hanya bisa mengulang yang saya tulis sepuluh tahun lalu: kalau itu terjadi, itu tak kurang perang terbuka kelas priayi, para pemilik Indonesia, terhadap orang kecil,” kata Franz Magnis.

“Betul, kami para pemakai kendaraan beroda dua pantas ditegur. Motor memang paling tak disiplin. Lampu merah, kaki lima, jalan satu arah, jarak yang aman, sopan santun, perhatian biasa terhadap sesama pemakai jalan, belum lagi manuver-manuver berani ala Valentino Rossi (kadang-kadang satu keluarga lengkap): tak ada yang tidak dicuekkan. Maka, kalau peraturan yang sudah berlaku mau dilaksanakan dengan lebih tegas, dengan hukuman atas pelanggaran efektif lebih keras, akan dimengerti dan diterima,” sambungnya.

Menurut Franz Magnis, menutup jalan penting yang setiap hari diperlukan untuk ke tempat kerja atau melakukan tugas itu lain perkara. Klaim agar masyarakat mau menggunakan angkutan umum, menurutnya, tidak pas.

“Katanya, supaya masyarakat jadi biasa memakai angkutan umum. Tetapi, angkutan umum harus direalisasikan dulu, baru bisa ditawarkan. Coba berapa waktu saya butuhkan dari Jembatan Serong di Jalan Percetakan Negara menuju Dikti di Senayan kalau harus pakai kendaraan umum? Lagi pula, yang bikin macet jelas bukan sepeda motor,” ujar Franz Magnis.

“Kalau semua pemakai sedan ganti memakai motor, tak akan ada kemacetan. Lihat saja Jalan Gatot Subroto, foto-foto kemacetannya: yang bikin macet mobil. Jalan yang sudah tertutup bagi motor tetap macet. Dikatakan bahwa sepeda motor paling banyak menjadi korban kecelakaan. Perhatian itu mengharukan, tetapi munafik.”

“Kalau jutaan orang setiap hari pagi-sore dipersulit memakai motor, jauh lebih banyak orang akan sakit paru-paru dan saraf daripada yang ketabrak. Biar saja rakyat sendiri memutuskan apa mau mengambil risiko ketabrak daripada sakit menunggu kendaraan umum atau putar-putar di jalan tikus,” ujar Franz.

 

Selengkapnya: Romo Magnis Kritik Larangan Motor: Perang kepada Masyarakat Sederhana (Detik.com)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi