UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Nelayan NTT Ajukan Tuntutan Atas Tumpahan Minyak Laut Timor

September 11, 2017

Nelayan NTT Ajukan Tuntutan Atas Tumpahan Minyak Laut Timor

Nelayan tradisional menangkap ikan di wilayah laut provinsi Nusa Tenggara Timur

Nelayan di Nusa Tenggara Timur akan mengajukan tuntutan hukum terhadap perusahaan Thailand dan otoritas maritim Australia terkait tumpahan minyak di Laut Timor.

Pada bulan Agustus 2009, kecelakaan terjadi pada sumur pengeboran Montara di lepas pantai Australia yang dioperasikan oleh Petroleum Authority of Thailand Exploration and Production (PTTEP) Australasia,

Perusahaan yang berbasis di Australia ini merupakan anak perusahaan PTT, perusahaan minyak dan gas milik Thailand.

Setelah kecelakaan tersebut terjadi diperkirakan sekitar 2.000 barel minyak tumpah ke laut setiap hari –selama 74 hari- sebelum sumur itu ditutup.

Pihak berwenang Australia diberitakan telah menyemprotkan dispersan setelah kecelakaan tersebut.

Menurut nelayan Farren Mustafa, sampel air laut yang dianalisis oleh sebuah universitas di Jawa Timur menunjukkan adanya zat beracun.

Ada klaim bahwa tangkapan ikan menurun 80 persen.

Dikatakan bahwa sebelum kecelakaan itu, nelayan bisa mendapatkan 20 juta rupiah per minggu dari hasil memancing, tapi sekarang dikatakan kurang dari lima juta rupiah.

“Inilah alasan mengapa kami mengajukan tuntutan ke pengadilan tinggi provinsi pada bulan ini terhadap perusahaan tersebut dan Otoritas Keselamatan Maritim Australia karena menyemprotkan dispersan,” kata Mustafa kepada ucanews.com pada 6 September.

“Tuntutan hukum yang disusun oleh tim advokasi akan didasarkan pada undang-undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan tahun 2009” kata Mustafa yang juga koordinator Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor.

Pasal 105 undang-undang tersebut mengatakan bahwa seseorang yang membuang limbah ke laut dapat dijatuhi hukuman antara 4 sampai 12 tahun penjara dan didenda.

Menurut menteri Koordinator Kelautan, selain menghancurkan penghidupan nelayan, tumpahan minyak tersebut juga merusak 1.232 hektar hutan bakau, 1.429 hektar rumput laut dan 744 hektar terumbu karang.

Ferdi Tanoni, penasihat tim advokasi Yayasan Peduli Timor Barat, menganggap gugatan tersebut sebagai “pilihan lain” untuk menangani masalah ini.

Dia menambahkan, tumpahan minyak tersebut telah mempengaruhi sekitar 30.000 nelayan.

Berbagai “langkah hukum” yang diambil oleh masyarakat lokal dan pemerintah nasional sedang berlangsung.

Pada bulan Mei tahun ini, pemerintah pusat mengajukan tuntutan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk meminta ganti rugi.

Pada bulan Agustus tahun lalu, 13.000 petani rumput laut mengajukan class action di Australia.

Bulan lalu, Menteri Koordinator Kelautan Luhut Pandjaitan mendesak pihak berwenang Australia untuk mempercepat proses hukum.

Pastor John Kristoforus Tara, koordinator komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Penciptaan OFM di Timor, mendukung langkah nelayan tersebut.

“Mereka juga ingin menunjukkan semangat nasionalisme mereka, karena masalahnya terkait dengan kedaulatan kita,” katanya.

Sementara itu, Umbu Wullang Peranggi, ketua Walhi NTT, mengatakan bahwa tumpahan minyak telah mempengaruhi sekitar sepuluh kabupaten.

Dalam sebuah pernyataan PTTEP Australasia mengatakan bahwa pihaknya “mempertahankan posisinya, berdasarkan penelitian ilmiah independen dan ekstensif yang diawasi oleh pemerintah Australia, bahwa tidak ada minyak dari Montara sampai ke pantai Indonesia dan bahwa tidak ada kerusakan jangka panjang yang terjadi terhadap lingkungan di Laut Timor.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi