UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemimpin Gereja Kritik Sikap Duterte Terhadap Keluarga Marcos

September 12, 2017

Pemimpin Gereja Kritik Sikap Duterte Terhadap Keluarga Marcos

Polisi dan demonstran berhadap-hadapan di kuburan nasional pada 11 September ketika keluarga (alm) diktator Ferdinand Marcos merayakan ulangtahunnya yang ke-100.

Pemimpin Gereja Katolik Filipina meminta kaum awam untuk mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk isu sekuler seperti hak asasi manusia, menjelang ulang tahun almarhum diktator Ferdinand Marcos yang keseratus tahun.

Para imam di Keuskupan Agung Manila di Manila pada 10 September, membacakan surat pastoral Uskup Agung Luis Antonio kardinal Tagle tentang pembunuhan di bawah perang obat-obatan Presiden Rodrigo Duterte.

“Kami tidak bisa membiarkan penghancuran kehidupan menjadi hal yang normal.  Kita tidak bisa memerintah sebuah negara dengan membunuh,” kata Kardinal Tagle dalam sebuah pernyataannya yang paling keras untuk melawan perang obat Duterte.

Kardinal itu memerintahkan untuk membunyikan lonceng gereja setiap pukul 8 malam, sebagai cara untuk mengenang mereka yang telah meninggal.

Pastor, biarawati, seminaris dan awam ikut serta dalam demonstrasi nasional pada 11 September, saat keluarga sang diktator, Marcos, merayakan ulang tahunnya yang ke 100.

Para uskup dan pastor lainnya tidak menyetujui apa yang mereka sebut, Duterte berpaling kepada ahli waris Marcos.

Duterte minggu lalu mengisyaratkan kemungkinan memberikan imunitas, setelah keluaga Marcos diberitakan menawarkan untuk “mengembalikan beberapa batang emas” yang dikumpulkan oleh ayah mereka beberapa dekade yang lalu “untuk menjamin ekonomi Filipina”.

“Biarlah ada keadilan bagi mereka yang telah tertindas, menjadi korban dan yang menderita selama masa darurat militer, kata Uskup Balanga Ruperto Santos.

Mereka pendukung [darurat militer] harus dan harus diadili, “kata Santos.

“Pertama, secara terbuka dan benar-benar mengakui semua kekejaman terhadap manusia tersebut, korupsi, dan secara terbuka menyesali, mengembalikan semua kekayaan yang tidak masuk akal tanpa prasyarat apapun,” kata Santos.

Uskup Arturo Bastes dari keuskupan Sorsogon mengkritik Duterte karena mengumumkan sebuah liburan khusus di provinsi Ilocos Norte, rumah Marcos.

“Tindakan Duterte untuk menghormati seorang diktator yang menyebabkan malapetaka besar di negara kita adalah parodi sejarah nasional kita,” kata Uskup Bastes.

 

Standar ganda

Pastor Amado Picardal, seorang Redemptoris mengatakan bahwa seharusnya tidak ada persyaratan apapun menyangkut tawaran anak Marcos untuk mengembalikan kekayaan yang dikumpulkan selama masa kepresidenan ayah mereka.

Pastor Picardial, yang disiksa sebagai seorang seminaris karena membagikan selebaran perlawanan, mengatakan bahwa ahli waris Marcos mengakui kesalahan mereka dengan tawaran tersebut.

Pastor Benjamin Alforque, seorang imam lain yang menderita penyiksaan di bawah Marcos, menunjukkan kontras antara “kemurahan hati” Duterte terhadap keluarga mantan pejabat dan sikap menghina terhadap pecandu dan pengedar narkoba yang dicurigai.

“Ahli waris Marcos mendapatkan karpet merah sementara pemerintah mencabut nyawa tersangka narkoba dalam prosesnya,” kata Alforque.

Ketua Konferensi Waligereja Philipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Keuskupan Agung Lingayen-Dagupan, memintah pastor, biarawati dan kaum awam untuk memperluas dukungan gereja kepada keluarga korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi