UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mari Alkatiri Kembali Menjadi Perdana Menteri Timor-Leste

September 13, 2017

Mari Alkatiri Kembali Menjadi Perdana Menteri Timor-Leste

Sekjen Partai Fretilin, Mari Bin Amude Alkatiri, pada saat konferensi pers di Dili, 26 Juni 2007. (AFP)

Mari Alkatiri, seorang politisi Muslim yang mundur sebagai perdana menteri tahun 2006 setelah empat tahun sebagai pemimpin pertama negara mayoritas Katolik itu pasca kemerdekaannya, ditetapkan kembali menjadi Perdana Menteri untuk memimpin pemerintah selama lima tahun ke depan.

Keputusan koalisi pimpinan Fretilin untuk mendukung Alkatiri dengan suara bulat, mengakhiri masa jabatan Perdana Menteri Rui Maria de Araujo, dilakukan hanya seminggu setelah sebuah koalisi dibentuk antara Fretilin, Partai Demokrat dan Khunto dan pelantikan 65 anggota parlemen baru pada 6 September.

Pada 12 September, para pemimpin partai bertemu dengan Presiden Francisco “Lu-Olo” Guterres, yang juga anggota Fretilin untuk meminta persetujuannya.

Alkatiri yang sebelumnya tidak secara jelas menyetujui atau menolak nominasinya, akhirnya menerima keputusan partainya.

“Saya menghormati keputusan partai tersebut, tapi beri saya waktu, kami harus mendapat persetujuan dari presiden,” kata Alkatiri sebelum bertemu presiden.

Dalam pidato tahun 2006, Alkatiri yang berusia 68 tahun mengatakan bahwa dia mengundurkan diri setelah mengindahkan desakan Presiden Xanana Gusmao untuk mengundurkan diri, untuk mencegah kekerasan lebih lanjut.

Gusmao sekarang adalah menjadi pemimpin oposisi di negara tersebut.

Ditanya mengenai jabatan menteri, Alkatiri membantah spekulasi bahwa ini adalah tujuan akhir koalisi.

“Kami membentuk sebuah koalisi tapi bukan untuk kepentingan kursi menteri namun berpartisipasi dalam melayani rakyat,” kata Alkatiri kepada wartawan pada 11 September.

Camilo Ximenes, seorang analis politik dari Universitas Negeri Timor-Leste, mengatakan bahwa keputusan Fretilin untuk mendukung Alkatiri adalah keputusan yang tepat.

Menurut undang-undang pemilihan Timor-Leste, sekretaris jenderal partai pemenang secara otomatis akan berhak mendapatkan jabatan perdana menteri.

Namun, Ximenes mengatakan bahwa nominasi Alkatiri tidak hanya karena dia adalah sekretaris jenderal Fretilin tapi dia memiliki kapasitas karena sudah berpengalaman.

“Yang terpenting bagi pemerintahan baru di bawah kepemimpinannya adalah menjamin stabilitas hingga 2022,” kata Ximenes kepada ucanews.com, 12 September.

Satu-satunya masalah sekarang, kata Ximenes, adalah bahwa meskipun kemampuannya untuk menjadi perdana menteri, Alkatiri mungkin masih trauma dengan situasi politik yang memaksa dia untuk mengundurkan diri pada tahun 2006.

Alkatiri menghabiskan puluhan tahun di pengasingan di negara-negara berbahasa Portugis di Angola dan Mozambik di mana dia belajar hukum sebelum kembali ke Timor-Leste dan berhasil mencalonkan diri ke parlemen dan menjadi perdana menteri pertama di negara itu pada tahun 2002.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Fretilin untuk mempertahankan stabilitas politik selama lima tahun ke depan, dengan memperkuat koalisi dengan Partai Demokrat dan Khunto, serta membangun hubungan baik dengan partai-partai oposisi, kata Ximenes.

Dalam pemilihan parlemen bulan Juli, Fretilin memperoleh 23 kursi, Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT) 22 kursi, Partai Pembebasan Populer (PLP) 8 kursi, 7 kursi untuk Demokrat dan Khunto 5 kursi.

CNRT dan PLP di bawah kepemimpinan mantan presiden Taur Matan Ruak telah menolak untuk berkoalisi dengan Fretilin dan memilih untuk menjadi oposisi.

“Fretilin harus memperkuat koalisi dan membangun komunikasi politik yang baik dengan partai-partai politik lainnya,” kata Ximenes.

Yang terpenting, untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, pemerintah selanjutnya harus dapat menangani sektor-sektor utama, seperti bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat desa.

“Anggaran pendidikan harus meningkat dari 6 persen menjadi lebih dari 15 persen, untuk meningkatkan kualitas masyarakat Timor-Leste agar bisa bersaing di kawasan Asia,” katanya.

Pastor Herminio Goncalves, kepala Komisi Keadilan dan Perdamaian di Keuskupan Dili, mengatakan bahwa umat Katolik Timor-Leste menyambut baik siapa saja, termasuk Mari Alkatiri, terlepas dari latar belakang agama mereka untuk memimpin negara tersebut, selama mereka menempatkan kepentingan masyarakat terlebih dahulu, bukan kepentingan partai.

“Sebagai negara Asia yang paling Katolik kita harus menjadi contoh demokrasi,” kata Pastor Gonclaves kepada ucanews.com.

“Gereja membutuhkan seseorang yang memiliki prinsip dan komitmen untuk membawa negara ini maju, keluar dari kemiskinan dan korupsi,” imam itu menambahkan.

Ketua Partai Demokrat, Mariano Assanami Sabino, mengatakan bahwa menjadi bagian dari koalisi membawa semangat baru bagi partainya untuk bekerja lebih baik dalam pengembangan masyarakat Timor-Leste.

“Kami siap bekerja sama dengan pemerintah untuk rakyat,” katanya kepada wartawan.

Perdana menteri baru tersebut dijadwalkan untuk mengumumkan anggota kabinet pada 15 September. Mereka akan dilantik pada 22 September.

-ucanews.com-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi