UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Indonesia Dukung Upaya Pemerintah Mencegah Perdagangan Orang

September 14, 2017

Gereja Indonesia Dukung Upaya Pemerintah Mencegah Perdagangan Orang

Aplonia Sara Mali Bere, 37, mantan pekerja migran dari Atambua, Kabupaten Belu, NTT yang pernah dua kali bekerja di Malaysia sebagai pekerja ilegal. (ucanews.com)

Pejabat gereja Indonesia menyambut baik langkah pemerintah untuk menangani perdagangan manusia dengan mempermudah pekerja migran mendapatkan status hukum dan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah meluncurkan layanan satu atap untuk menerbitkan dokumentasi resmi kepada pekerja migran di Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur, yang memiliki jumlah kasus perdagangan manusia tertinggi.

Perizinan yang digunakan menjadi proses yang sangat panjang dan bisa memakan waktu berbulan-bulan, kata Samuel Adu, seorang petugas ketenagakerjaan dan transmigrasi.

“Ini dimanfaatkan oleh calo,” katanya.

Dengan sistem yang baru, proses mendapatkan izin jauh lebih cepat, kurang dari seminggu.

Pastor Paulus Christian Siswantoko, sekretaris Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral untuk Migran Perantau menyambut baik langkah tersebut, namun meminta pemerintah untuk memastikan sistem yang baru tetap bebas dari korupsi.

“Korupsi umumnya dilakukan dalam mengeluarkan izin,” katanya.

Pastor Yohanes Kristoforus Tara, koordinator komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Penciptaan Fransiskan di Timor juga menyambut baik langkah tersebut, namun juga meminta pemerintah untuk menyediakan pelatihan ketrampilan bagi para calon pekerja.

“Ini akan membuat upaya pemerintah melawan perdagangan manusia sedikit lebih komprehensif, “katanya.

Reyna Usman, pejabat lain di Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan, layanan baru di Nusa Tenggara Timur juga akan membantu keluarga pekerja migran tetap berhubungan dengan mereka.

“Keluarga akan tahu di mana, dengan siapa dan berapa lama pekerja migran bekerja karena semua informasi ini akan dicatat,” katanya.

Menurut Polda Nusa Tenggara Timur, lebih dari 1.600 orang diperdagangkan selama dua tahun terakhir, banyak di antaranya adalah anak-anak.

Aplonia Sara Mali Bere, mantan pekerja migran dari Atambua di Kabupaten Belu yang dua kali pergi ke Malaysia untuk bekerja secara ilegal mengatakan bahwa sistem yang baru harus memberi perlindungan yang lebih baik kepada para pekerja migran seperti dirinya.

“Jika pemerintah sekarang berusaha membuat segalanya lebih mudah, saya yakin banyak pekerja akan melalui jalur resmi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi