UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sekolah Dibakar, Para Siswa Terpaksa Belajar di Tenda, Duduk di Tanah

September 14, 2017

Sekolah Dibakar, Para Siswa Terpaksa Belajar di Tenda, Duduk di Tanah

Yansen Binti, 60 tahun, seorang politikus Partai Gerindra and anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, ditangkap karena diduga menyuruh orang untuk membakar sejumlah sekolah yang mengakibatkan proses belajar mengajar terganggu. (Foto: DPRD Kalteng)

Para pendidik termasuk dari kalangan Gereja Katolik, menyambut positif tertangkapnya anggota DPRD provinsi Kalimantan Tengah yang diduga mendalangi serangkaian serangan pembakaran sekolah dasar di Palangkaraya.

Yansen Alison Binti, 60 tahun, seorang politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang juga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, saat ini masih ditahan di Mako Brimob.

Polisi mengatakan Binti adalah dalang dibalik pembakaran terhadap tujuh sekolah di Palangkaraya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Juli. Di antara tujuh sekolah yang dibakar tidak ada satu pun sekolah katolik.

Delapan tersangka pelaku telah ditangkap dan mengaku saat ditanyai bahwa Binti memerintahkan mereka untuk membakar sekolah tersebut, kata beberapa penyidik.

“Dia memerintahkan sekolah-sekolah tersebut dibakar untuk membuka jalan bagi proyeknya sendiri di tempat tersebut,” kata juru bicara kepolisian, Martinus Sitompul.

Jika terbukti bersalah, Binti akan menghadapi hukuman 15 tahun penjara, sementara delapan pelaku pembakaran menghadapi 12 tahun di balik jeruji besi.

Serangan tersebut mengejutkan para pendidik di seluruh Indonesia.

Imam Fransiskan, Vinsensius Darmin Mbula dari Dewan Nasional Pendidikan Katolik, mengatakan apapun motifnya, membakar sekolah adalah tindakan barbar.

“Ini adalah ancaman serius terhadap tujuan pendidikan, yaitu untuk memanusiakan manusia dan menciptakan masyarakat yang lebih beradab dan adil,” kata Pastor Mbula, yang juga anggota komisi pendidikan keuskupan.

“Ini menyakitkan anak-anak yang sedang memperjuangkan haknya mereka untuk mendapat pendidikan,” katanya.

Pastor Silvanus Subandi, ketua Dewan Pendidikan Katolik di Keuskupan Palangkaraya mengatakan bahwa serangan tersebut menodai institusi pendidikan, dan merobek hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak di wilayah di mana gedung sekolah dan fasilitas sangat dibutuhkan.

“Sekarang siswa harus belajar di bawah tenda yang disediakan oleh pemerintah di komplek sekolah yang terbakar,” kata Pastor Subandi, yang juga wakil vikjen Keuskupan Palangkaraya, kepada ucanews.com, pada 12 September.

Imam tersebut mengatakan bahwa para siswa masih dalam trauma akibat serangan tersebut dan orang tua mereka bingung karena anak-anak mereka harus belajar di tenda.

Orang tua dari seorang anak di salah satu sekolah, Paulus Ekot, telah menyuarakan frustrasinya pada pihak berwenang atas tanggapan mereka terhadap serangan tersebut.

Semua peralatan sekolah juga dibakar, sehingga siswa yang menghadiri kelas sekarang harus duduk di tanah, tanpa kursi atau meja.

“Ini sudah berlangsung selama sebulan,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi