UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China

September 20, 2017

Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China

Uskup Hong Kong Michael Yeung saat diwawancara oleh ucanews.com 30 Agustus 2017.

Uskup baru Hong Kong, Mgr  Michael Yeung, menggambarkan pendekatannya dalam berurusan dengan rezim yang menekan kebebasan beragama di China sebagai satu pendekatan yang sehat, yang mempertimbangkan pembicaraan yang sedang berlangsung antara Vatikan dan Beijing.

Dalam sebuah wawancara dengan ucanews.com, Uskup Yeung ingin mengingatkan orang bahwa dia bukan seorang diplomat atau terlibat dalam negosiasi Vatikan-Beijing, dan dia tidak akan mengganggu hubungan antara gereja dan China daratan.

“Seandainya saya bukan uskup Hong Kong dan hanya seorang imam, mungkin saya akan bergabung dalam banyak demonstrasi. Tapi sebagai uskup Hong Kong, orang akan melihat saya secara berbeda. Saya harus memikirkan hubungan Vatikan-China, “kata Uskup Yeung di ruang kerjanya di Hong Kong.

“Saya tidak mau mengganggu situasi. Jika ada kemungkinan untuk mempertahankan dialog, saya akan dengan segala cara melakukannya jika itu mungkin,” katanya.

Uskup Yeung, 71, dan pendahulunya, Kardinal John Tong, 78, yang mengundurkan diri pada bulan Juli, dikritik oleh beberapa kalangan Katolik karena tidak cukup banyak berbicara mengenai isu-isu yang mempengaruhi umat Katolik di daratan.

Misalnya soal nasib para uskup dan imam yang ditahan secara tidak sah atau ditempatkan di bawah tahanan rumah, atau kampanye anti-agama resmi seperti kampanye penurunan salib dan pembongkaran gereja di provinsi Zhejiang dan tempat lain.

Uskup Yeung percaya selalu ada tempat dalam situasi seperti itu. “Dalam bahasa China, ada pepatah ‘jangan pernah mengejar seseorang yang lari ke jalan buntu, karena tidak ada tempat baginya untuk lewat dan kemudian dia akan balik dan berkelahir dengan anda,” lanjutnya.

“Saya mencoba melihat isu-isu itu sebagai masalah lokal, bukan untuk meningkatkannya menjadi isu politik utama,” katanya.

“Jika pemerintah Wenzhou menurunkan salib dan hanya terjadi di Wenzhou maka ini adalah masalah lokal dan jika itu adalah satu gereja, sebuah gereja Protestan, maka anda harus menjaganya tetap kecil,” katanya. Uskup tersebut mengaku bahwa  tidak banyak gereja Katolik yang terkena imbas dalam kampanye pemindahan salib dan pembongkaran gereja.

Uskup Yeung mengatakan pemerintah China tidak mau kehilangan muka. “Jika anda mengatakan anda melawannya, maka mereka akan mengatakan, baiklah, mari berkelahi,” katanya.

Uskup Yeung mengatakan bahwa Gereja China menghadapi situasi tiga tingkat: pemerintah, Asosiasi Patriotik Katolik China (CPA), dan gereja.

“CPA sebenarnya (bekerja) sebagai jembatan antara pemerintah dan gereja. Pemerintah tidak akan menangani apa yang disebut Konferensi Waligereja  China (walaupun itu juga tidak disetujui secara resmi oleh Roma dan merupakan organisasi yang dikelola oleh Partai) mereka memberi tahu CPA apa yang harus dilakukan, “katanya.

Uskup Yeung menyatakan dengan tegas  bahwa Gereja Katolik bukanlah sebuah organisasi politik, tetapi jika situasi itu muncul yang bertentangan dengan keadilan sosial dan ajaran Katolik, maka gereja harus berbicara.

Uskup juga mengambil kesempatan untuk menanggapi berita media yang mencirikan dia sebagai orang yang mendesak untuk menghindari peristiwa 4 Juni yang mengingatkan penindasan keras Beijing terhadap demonstran pro-demokrasi damai yang berlangsung di dan sekitar Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

“Untuk 4 Juni, saya merasa sangat sedih, saya pernah melakukan demonstrasi tahunan [di Hong Kong] beberapa kali saja. Tapi setelah 28 tahun, saya bertanya pada diri sendiri apa lagi yang bisa saya lakukan?” Ujarnya.

“Untuk memberikan penilaian adil pada tanggal 4 Juni, saya rasa tidak masalah, itu tertulis dalam sejarah,” katanya. “Tapi jika Anda, pada saat yang sama, katakanlah menyelesaikan negara satu partai, ada pepatah yang dimiliki orang Tionghoa: ‘Anda meminta harimau itu untuk memberi kulitnya.'”

 

Baca juga: Hong Kong’s new bishop admits to a realistic approach to China

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi