UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Aung San Suu Kyi Lamban, Warga Muslim di Asia Kecewa

September 25, 2017

Aung San Suu Kyi Lamban, Warga Muslim di Asia Kecewa

Pendemo membawa poster Aung San Suu Kyi dan seorang biarawan garis keras Budha saat aksi protes di Jakarta 16 Sept.2017.

Muslim di Asia marah, frustrasi dan kecewa dengan kurangnya tindakan dari pemerintah Myanmar yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi dalam menangani eksodus besar orang Rohingya dari negara bagian Rakhine utara.

Demonstrasi massal di Pakistan, Indonesia, Malaysia dan India semakin meningkat saat para pemimpin Muslim di negara-negara tersebut berbicara menentang apa yang secara luas digambarkan sebagai pembersihan etnis di Rakhine.

Pidato Suu Kyi pada 19 September yang berbicara tentang “perlu pembuktian” dan berbagi kesalahan telah menciptakan perasaan bahwa dia telah membenamkan kepalanya dalam pasir, menurut Amnesty International.

Nor Hussain Arkani, presiden Organisasi Kesejahteraan Muslim Burma di Pakistan, mengatakan bahwa pidato Suu Kyi tidak lain hanyalah sebuah usaha untuk meredakan tekanan internasional yang meningkat setelah pembersihan etnis Rohingya.

“Mengapa dia menunggu begitu lama untuk bersuara sementara lebih dari 400.000 orang telah melintasi perbatasan ke Bangladesh dan ratusan lainnya meninggal?” Tanya Arkani.

“Tujuan utama pembersihan etnis Rohingya dari Rakhine tampaknya telah tercapai dan sekarang mereka ingin menipu masyarakat global dengan membuat pernyataan palsu,” katanya.

“Jika Aung San Suu Kyi sangat tulus untuk membawa pulang orang-orang Rohingya yang mengungsi akibat kekerasan, dia harus mengizinkan pasukan penjaga perdamaian PBB untuk memastikan keamanan mereka untuk kembali.”

Arkani mengatakan bahwa tanpa pengerahan pasukan PBB, orang akan takut untuk kembali ke Rakhine dalam keadaan sekarang.

Hafiz Naeem, ketua partai Islamis Jamaat-e-Islami cabang Karachi, yang melakukan demonstrasi besar-besaran untuk mendukung Rohingya pada 10 September, mendukung dua pernyataan Arkani.

“Rohingya Muslim adalah korban kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka harus diberi kewarganegaraan Myanmar dan hak yang sama,” kata Naeem kepada ucanews.com.

“Rohingya telah tinggal di Rakhine selama berabad-abad, namun mereka tidak memiliki kewarganegaraan,” katanya.

Pemimpin Jamaat-e-Islami juga menyerukan pengerahan misi penjaga perdamaian PBB ke Negara Bagian Rakhine untuk memulihkan perdamaian dan mengawasi kembalinya orang Rohingya ke rumah mereka.

Anggota masyarakat madani terkemuka India Shakeel Qalander mengatakan kepada ucanews.com bahwa pernyataan Suu Kyi bertentangan dengan apa yang dunia amati.

Organisasi hak asasi manusia internasional telah membuktikan tanpa keraguan adanya pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum Muslim di Myanmar, katanya.

“Video-video yang telah menjadi viral menggambarkan genosida terhadap kaum Muslimin. (Suu Kyi) mencoba menipu dunia.  Kami menuntut agar Hadiah Nobel diambil darinya, dia tidak pantas mendapatkannya sama sekali,” kata Qalandar.

Yasin Khan, Ketua  Forum Pedagang dan pengusaha Kashmir yang terkemuka, yang memimpin demonstrasi di Kashmir dalam solidaritas dengan Rohingya mengatakan bahwa Suu Kyi “berbohong dan berusaha membodohi dunia.”

“Dia mengatakan bahwa dia memerlukan bukti genosida yang kuat untuk mengambil tindakan. Apakah dia mencoba mengatakan bahwa kecuali dia, seluruh dunia telah berbohong tentang kekejaman terhadap Muslim Myanmar?” Kata Khan

Molvi Javaid Ahmad, seorang pemimpin agama dan aktivis sosial yang berbasis di Kashmir pusat, mengatakan bahwa Suu Kyi bersuara karena teriakan di PBB dan bahwa pernyataannya mencerminkan bahwa dia tidak akan bertindak melawan orang-orang yang telah melakukan kejahatan terhadap Rohingya .

“Dia belum mengecam tindakan militer terhadap orang-orang Muslim yang tidak berdosa, namun ia telah menggunakan istilah collateral damage (kerusakan sampingan bisa diterima demi mencapai suatu target yang lebih besar). Ini aneh dan tidak dapat diterima,” kata ulama itu.

Negara bagian Jammu Kashmir, satu-satunya negara bagian berpenduduk mayoritas Muslim di India, menampung sekitar 13.000 pengungsi Rohingya.

India telah mengumumkan rencana untuk mendeportasi pengungsi Rohingya dengan mengatakan bahwa mereka menimbulkan ancaman keamanan karena kemungkinan mereka dapat membantu kelompok Muslim garis keras yang beroperasi di Kashmir dan bagian India lainnya.

Novel Chaidar Hasan, juru bicara Front Pembela Islam (FPI), yang berada di garis depan dalam mengorganisir demonstrasi di Jakarta yang mendukung Rohingya, mengatakan bahwa tidak ada yang diharapkan dari pemerintah Myanmar, termasuk Suu Kyi.

Dia mengatakan lebih baik mengharapkan masyarakat internasional untuk menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya, yang telah terjadi lebih dari satu kali.

“Tidak peduli bagaimana mereka (pemerintah Myanmar) membela diri atau menjanjikan sebuah solusi, itu tidak akan mengubah apapun,” kata Hasan, yang mengklaim organisasinya memiliki keanggotaan enam juta orang.

Front Pembela Islam mengatakan, telah memberikan dukungan untuk perkara Rohingya sejak 2010.

Serangkaian demonstrasi publik telah diselenggarakan di Indonesia untuk mendukung Rohingya diikuti sekitar 30 organisasi Islam yang mengambil bagian dalam sebuah demonstrasi di Jakarta pada tanggal 16 September yang dikoordinasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Kami orang Indonesia diwakili oleh organisasi politik dan massa, meminta pemerintah Indonesia dan masyarakat internasional untuk secara kuat mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya,” kata Sukamta, direktur Pusat Krisis Rohingya, dalam sebuah pidato.

Prabowo Subianto, ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang kemungkinan akan menjadi lawan utama Presiden Joko Widodo dalam pemilu 2019 di Indonesia, mengatakan bahwa dia bergabung dalam demonstrasi tersebut untuk menunjukkan solidaritasnya dengan Rohingya.

“Jika mereka (pemerintah Myanmar) menganiaya umat Islam, kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita melindungi semua kelompok etnis dan agama dan menciptakan perdamaian dan keamanan bagi semua orang. Islam tidak boleh menyebarkan kebencian,” kata Prabowo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi