UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Menghadapi Tekanan, Umat Katolik Vietnam Merenungi Pesan Fatima

September 29, 2017

Menghadapi Tekanan, Umat Katolik Vietnam Merenungi Pesan Fatima

Dalam foto yang diambil 13 Mei 2015 ini tampak Paus Fransiskus menyentuh patung Santa Maria dari Fatima saat akan melakukan audiensi di Vatikan. Tahun ini Gereja Katolik memperingati 100 tahun penampakan Maria di Fatima( AFP)

Dalam menghadapi tekanan negara yang terus berlangsung, sebuah keuskupan di Vietnam utara meluncurkan sebuah kampanye untuk merenungi pesan Fatima, melantunkan Rosario dan berdoa untuk perdamaian dunia.

Umat ​​Katolik di Keuskupan Vinh mulai merenungkan pesan Fatima dan melantunkan Rosario sejak 25 September ketika kampanye diluncurkan.

Bulan berikutnya, Pastor Anthony Nguyen Van Dinh, kepala Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Vinh, mengatakan bahwa para pastor paroki akan mengajarkan kepada orang Katolik tentang pesan Fatima dan surat apostolik St. Paus Yohanes Paulus II tentang Rosario St. Perawan Maria.

Pastor Dinh mengatakan pesan umum Fatima adalah  untuk mengubah kehidupan seseorang, melantunkan Rosario setiap hari dan melakukan devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, untuk perdamaian dunia dan berakhirnya perang.

Imam tersebut mengatakan bahwa pastor paroki dan umat setempat akan menghadiri doa Rosario setiap hari di gereja mereka. Keluarga juga diminta untuk mengatur waktu agar mereka bisa berdoa Rosario.

Imam setempat telah diminta untuk merayakan Misa dan berdoa untuk perdamaian pada 13 Oktober, menandai penampakan terakhir Bunda Maria di Fatima.

“Kami sebagai orang Kristen harus mempraktikkan pesan Fatima, terutama berdoa Rosario dengan tekun untuk membawa perdamaian sejati ke seluruh dunia, membantu bangsa ini keluar dari bencana besar, dan membantu orang hidup dalam keadilan dan kebebasan,” kata Pastor Dinh.

Imam tersebut mengatakan tantangan yang dihadapi Vietnam saat ini banyak dan umat Katolik perlu berdoa untuk membantu menyelesaikannya.

Di antara tantangan tersebut, kata Pastor Dinh, adalah pencemaran lingkungan, degradasi moral dan sistem pendidikan yang tidak terarah.

Negara ini juga menghadapi tingkat aborsi yang tinggi, korupsi yang tidak terkendali, dan kekerasan yang tampaknya didukung oleh pemerintah untuk menindas kelompok-kelompok agama, katanya.

Kampanye untuk melantunkan Rosario telah dilakukan dan pada saat yang sama umat Katolik di provinsi ini mendapat tekanan dari pemerintah komunis.

Tujuh imam dari dekenat Dong Thap di provinsi Nghe An telah mengajukan petisi kepada pemerintah setempat untuk menghukum para preman yang didukung polisi yang melemparkan batu ke rumah beberapa orang Katolik setempat, merusak properti mereka.

Mereka juga menghancurkan patung-patung Maria selama bulan September. Asosiasi pemerintah juga menaikkan bendera nasional dan spanduk dan menyebabkan kekacauan di sekitar Gereja Dong Kieu. Mereka juga berhasil mengusir seorang pastor dari daerah tersebut.

Warga di keuskupan yang meliput tiga provinsi di Nghe An, Ha Tinh dan Quang Binh tidak dapat makan makanan dari laut yang berasal dari perairan mereka karena tercemar oleh limbah beracun yang dibuang oleh perusahan Formosa milik Taiwan yang berbasis di provinsi Ha Tinh tahun lalu.

Pastor Dinh mengatakan bahwa di keuskupan itu, 535.000 umat Katolik akan berdoa Rosario walaupun ada tantangan di daerah tersebut.

Tahun ini, Gereja Katolik menandai peringatan 100 tahun Penampakan Bunda Maria dari Fatima pada tahun 1917. Bunda Maria yang Terberkati menampakkan diri kepada tiga anak gembala di Fatima, Portugal pada tahun 1917 dan mengatakan kepada mereka tiga nubuat: neraka, pertobatan Rusia dan kematian seorang paus dan tokoh agama lainnya.

Nubuatan kedua diyakini secara luas berkaitan dengan Perang Dunia Kedua dan disintegrasi Uni Soviet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi