UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Militer Filipina Ingatkan Para Uskup ‘Hati-hati Melindungi Saksi Pembunuhan’

Oktober 10, 2017

Militer Filipina Ingatkan Para Uskup ‘Hati-hati Melindungi Saksi Pembunuhan’

Kelompok Gereja mengadakan protes di Manila pada 6 Oktober mendesak diakhirinya pembunuhan terkait narkoba di negara tersebut.

Militer Filipina memperingatkan para pemimpin Gereja Katolik untuk berpikir secara matang dalam menawarkan bantuan kepada polisi dan saksi yang ingin mengungkapkan informasi tentang pembunuhan yang terkait dengan perang melawan narkoba Presiden Rodrigo Duterte.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Restituto Padilla mengatakan bahwa “mungkin tidak semua orang yang mencari pertolongan dari Gereja bukan seperti yang mereka katakan tentang diri mereka.”

Dia menyambut baik “upaya gereja tersebut sebagai bagian dari masyarakat,” namun mengatakan beberapa dari mereka yang mengaku sebagai saksi, mungkin “hanya ingin menggunakan Gereja sehingga mereka bisa lolos dan kembali lagi ke cara hidup mereka yang lama.”

Pekan lalu, beberapa uskup Katolik menyatakan kesediaannya untuk melindungi polisi yang akan bersaksi mengenai serentetan pembunuhan pengguna dan penjual narkoba di negara tersebut.

Para uskup membuat pengumuman tersebut setelah Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan, presiden konferensi para uskup, mengatakan pada 2 Oktober bahwa beberapa polisi telah meminta perlindungan Gereja untuk bersaksi tentang pembunuhan tersebut.

Juru bicara Presiden Duterte, Ernesto Abella, mengatakan bahwa pemerintah menyambut baik “upaya Gereja untuk membantu [polisi] yang nakal ini memperbaiki hidup mereka.”

“Namun, kami berharap Gereja benar-benar mempelajari ini karena ada pelindung narkoba, penculik, [dan polisi korup] yang ingin menghancurkan upaya melawan obat-obatan terlarang,” katanya.

“Selanjutnya, kami mendesak objektivitas tertentu untuk menghindari diperalat oleh penyimpang tersebut,” tambah Abella.

Kepala Polisi Nasional Filipina Ronald dela Rosa juga mengatakan bahwa dia bersedia mendengar pernyataan polisi yang diduga ingin mengakui keterlibatan mereka dalam pembunuhan tersebut.

“Kami siap untuk mendengarkan, mungkin banyak hal yang terjadi di lapangan,” kata Dela Rosa dalam sebuah wawancara. “Jika mereka bermasalah, maka [Polisi Nasional] siap membantu mereka,” tambahnya.

Kepala polisi mengatakan tidak ada masalah tentang polisi yang mencari pertolongan Gereja namun dia berharap agar penegak hukum mengatakan yang sebenarnya.

 

Yang terbunuh

Sementara itu seorang pejabat sebuah kelompok hak asasi manusia internasional membantah klaim Kepala Urusan Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano bahwa 3.800 orang yang dilaporkan terbunuh oleh polisi tewas karena mereka melakukan perlawanan selama operasi anti-narkoba oleh polisi.

John Fisher, direktur Human Rights Watch, mengatakan bahwa mereka yang terbunuh adalah korban “pembunuhan di luar proses hukum.”

Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Al Jazeera, Cayetano mengatakan bahwa polisi membunuh tersangka karena mereka semua adalah pengedar narkoba yang berusaha menembak petugas penegak hukum yang hendak menangkap mereka.

Akan tetapi Fisher mengatakan bahwa mereka yang telah meninggal “telah tertembak saat menjalankan bisnis mereka. Tidak ada proses peradilan …. Itulah mengapa mereka disebut eksekusi ekstra-yudisial karena tanpa proses pengadilan.”

“Sudah jelas bahwa banyak pembunuhan yang terjadi di sini terjadi tanpa proses peradilan,” katanya.

Juru bicara pemerintah Martin Andanar mengatakan bahwa tanpa adanya hukuman mati, tidak ada pembunuhan di luar hukum.

“Kita tidak memiliki pembunuhan yudisial, tidak memiliki hukuman mati. Di negara kita dilarang membunuh. Jadi mengapa ada pembunuhan di luar hukum bila tidak ada pembunuhan menurut hukum? Mengapa mengatakan ‘di luar [hukum]?” kata Andanar.

Polisi Nasional Filipina sebelumnya mengumumkan bahwa telah terjadi 6.225 kematian terkait obat antara Juli 2016 dan September 2017, 3.850 orang di antaranya “meninggal dalam operasi polisi.”

Polisi mengatakan setidaknya 2.290 yang disebut “kematian yang sedang diselidiki” telah diketahui terkait narkoba.

 

Berita terkait: Philippine military vs bishops

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi