UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kesepakatan Penting dari Pertemuan di Flores untuk Migran, Perantau

Oktober 13, 2017

Kesepakatan Penting dari Pertemuan di Flores untuk Migran, Perantau

Para peserta pertemuan kerja sama tripartit migran perantau usai misa penutupan di Kapela Kemah Tabor, Mataloko, 4 Oktober 2017. (Foto: Mirifica.net)

Ada tiga kesepakatan yang dihasilkan terkait karya pastoral bagi para migran dalam pertemuan pastoral lintas keuskupan yang diadakan minggu lalu di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pertemuan yang diadakan di Mataloko, Flores,  2- 5 Oktober 2017 itu membahas bagaimanan meningkatkan pelayanan pastoral bagi migran yang melibatkan keuskupan asal, keuskupan transit, dan keuskupan tujuan.

Ketua Komisi Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende Rm. Edu Raja Para, Pr mengatakan into pertemuan itu dalam rangka meningkatkan kerja sama segitiga antara keuskupan keuskupan asal para migran di Flores, Keuskupan Tanjung Selor sebagai tempat transit, dan tiga keuskupan tujuan migrasi di Malaysia yaitu Keuskupan Kota Kinabalu, Sandakan, dan Keningau.

Romo Edu, seperti diwartakan mirifica.net,  mengatakan bagi keuskupan-keuskupan asal, ada beberapa hal yang disepakati. Pertama, diperlukannya gerakan bersama keuskupan-keuskupan di Flores sebagai gereja kaum migran, karena belum semua perangkat pastoral menjadikan isu migran sebagai karya pastoral bersama.

Kedua, keuskupan asal para migran direkomendasikan untuk membentuk paroki migran, untuk melakukan kegiatan-kegiatan terkait, misalnya katekese tentang migrasi aman dan legal, menjadi perantau bermartabat.

Ketiga, keuskupan-keuskupan asal migran akan membentuk desk migran dan perantau serta melanjutkan pemberdayaan ekonomi bagi keluarga-keluarga migran.

Sedangkan bagi keuskupan transit, lanjut Romo Edu, perhatian pastoral dipusatkan bagi tenaga kerja yang tinggal sementara sebelum mereka pergi ke Malaysia atau kembali ke kampung asal. Misalnya membangunan paroki migran, rumah singgah, dan rumah advokasi di daerah perbatasan.

“Keuskupan Tanjung Selor akan mengoptimalkan paroki migran di daerah perbatasan, yaitu di Nunukan khususnya. Selain itu, disepakati juga pembangunan rumah singgah dan rumah advokasi. Ini untuk membantu para migran baik yang akan pergi ke Malaysia maupun yang akan pulang,” jelas Romo Edu.

Sementara bagi keuskupan tujuan, yang disepakati adalah pengiriman tenaga pastoral untuk melayani para migran. Melalui forum kerja sama tripartit migran dan parantauan ini, keuskupan-keuskupan itu membuat nota kesepahaman (MoU) dengan paroki-paroki di Flores untuk mengirim imam, suster, dan katekis.

“Masalah yang dihadapi keuskupan tujuan adalah keterbatasan tenaga pastoral. Karena itu, membuat MoU dengan keuksupan-keuskupan di Flores. Mereka juga akan memberdayakan tenaga katekis awam di sana para migran yang bis amenjadi pengajar iman di ladang-ladang,” kata Romo Edu.

Utusan Keuskupan Keningau, Malaysia, Mgr. Gilbertus Joseph Engan mengakui keterbatasan tenaga pastoral sebagai persoalan utama yang dihadapi keuskupan-keuskupan di Malaysia yang menjadi tempat tujuan para migran. Karena itu, kerja sama dengan keuskupan-keuskupan di Flores akan meningkatkan pelayanan pastoral bagi para migran di tempat mereka bekerja.

“Yang pertama adalah MoU antara keuskupan asal, transit, dan keuskupan tujuan. Karena kalau sudah ada MoU itu, lebih mudah untuk mengatur pastor, katekis atau suster untuk membantu melayani migran di Sabah,” kata Mgr. Gilbert.

Kerja sama dengan keuskupan – keuskupan asal para migran, lanjut Mgr. Gilbert, tidak hanya untuk pelayanan sakramen bagi para migran di keuskupan tujuan. Bidang-bidang lain dari pelayanan pastoral bagi para migran dapat dilakukan jika ada komunikasi yang lancar antarkeuskupan.

Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau KWI Romo Eko Aldilanto, O.Carm mengajak keuskupan-keuskupan lain untuk bergabung dalam forum kerja sama tripartit migran dan perantau, yang telah dimulai oleh keuskupan-keuskupan di Flores.

KWI, lanjut Romo Eko, telah melakukan pendampingan bagi para migran, baik yang mau berangkat, yang sedang transit, maupun yang sudah di tempat perantau dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Pendampingan antara lain meliputi pendidikan anak, perkawinan, ekonomi, dan pendidikan iman.

Namun demikian, ia mengakui, pelayanan pelayanan bagi para migran dan perantau itu belum maksimal terutama yang tidak berdokumen dan yang berada di wilayah-wilayah perbatasan.

 

Selengkapnya: Hasil Kesepakatan Pertemuan Pastoral tentang Migran di Mataloko

One response to “Kesepakatan Penting dari Pertemuan di Flores untuk Migran, Perantau”

  1. AB Raturangga says:

    “Gereja menyertai umatnya sepanjang jalan.” Terima kasih Gerejaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi