UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Taiwan Merestui Donor Organ Setelah Detak Jantung Berhenti

Oktober 30, 2017

Taiwan Merestui Donor Organ Setelah Detak Jantung Berhenti

Fakultas Kedokteran Universitas National Taiwan. Peraturan akan segera diumumkan agar rumah sakit merumuskan prosedur donor organ setelah jantung berhenti.

Taiwan telah menyetujui apa yang dinamakan donor organ tubuh “tanpa detak jantung’ atau setelah dinyatakan meninggal, dan menjadi negara Asia pertama yang melakukannya.

Donor organ telah dibatasi di seluruh Asia untuk kasus “kematian otak”.

Namun, sumbangan setelah jantung berhenti berfungsi telah dilakukan selama lebih dari satu dekade di negara-negara barat seperti Inggris, Belanda, Spanyol, Amerika Serikat dan Kanada.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan mengharapkan agar liberalisasi peraturannya akan memungkinkan donor organ tumbuh hingga 20 sampai 30 persen tahun depan.

Menurut statistik resmi Taiwan, saat ini ada lebih dari 9.000 calon yang menunggu untuk transplantasi organ, namun hanya sekitar 265 donor yang sudah meninggal tersedia.

Kekurangan donor organ berarti banyak pasien meninggal sebelum organ yang dibutuhkan tersedia.

Konsensus donor “tanpa-detak jantung” dicapai pada 5 Oktober dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh pejabat pemerintah, ahli medis dan pengacara.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan empat kriteria untuk sumbangan organ setelah kematian jantung, termasuk pengamatan lima menit setelah jantung berhenti berdetak.

Shih Chung-liang, direktur jenderal Departemen Urusan Medis, mengatakan bahwa peraturan akan segera diumumkan sehingga rumah sakit dapat merumuskan prosedur untuk donasi tanpa detak jantung tersebut.

Para penentang khawatir bahwa prosedur baru tersebut tidak akan sesuai dengan persyaratan ‘donor yang telah meninggal’ melarang pengangkatan organ yang benar-benar menyebabkan kematian pendonor.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa periode pengamatan lima menit tidak dapat memastikan pasien benar-benar sudah mati.

Selain itu, organ akan cepat memburuk setelah jantung berhenti berdetak.

Jadi, ada kekhawatiran bahwa organ yang dikeluarkan setelah jantung berhenti berfungsi akan lebih sulit dipertahankan dalam kondisi baik dibandingkan yang dikeluarkan setelah kematian otak.

Chen Yih-sgarng, seorang profesor bedah kardiovaskular di Universitas Nasional Taiwan, mengatakan sumbangan non-detak jantung pada tahap pertama program akan terbatas pada kasus di mana kematian otak tidak dapat ditentukan.

Kriteria perawatan rumah sakit dan paliatif juga harus dipenuhi, kata Chen.

Diharapkan jumlah organ yang disumbangkan akan meningkat sekitar 70 per tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi