UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pastor John Prior Kritik Cara Vatikan Tangani Skandal dalam Gereja

Nopember 2, 2017

Pastor John Prior Kritik Cara Vatikan Tangani Skandal dalam Gereja

Pastor John Mansford Prior SVD, dosen misiologi di STFT Ledalero di Maumere Flores, Nusa Tenggara Timur. (Foto: P. Hubertus Tenga)

Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta Tahta Suci mengakhiri tradisi merahasiakan kasus-kasus moral yang melibatkan kaum Klerus dan mengubah tata cara penunjukan uskup.

Dalam artikelnya di Majalah Mingguan Hidup, misionaris kelahiran Inggris yang sudah 40 tahun berkarya di Flores itu mengatakan, proses penanganan kasus-kasus demikian mesti “serba transparan, sama seperti dalam negara.”

“Jika Tahta Suci memaksa seorang uskup menarik diri, hasil pemeriksaan  serta pengadilan atas uskup itu harus diumumkan secara resmi,” tegasnya.

Pastor John yang juga bekerja di lembaga kajian agama dan budaya Candraditya di Maumere adalah mantan penasehat untuk dewan kepausan untuk urusan budaya dan Federasi Konferensi Para Uskup se-Asia atau Federation of Asian Bishops’ Conference (FABC).

Tulisannya berjudul “Hasta Harapan” terbit dalam Hidup edisi 29 Oktober 2017 yang secara khusus mengulas soal kasus pengunduran diri Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng Pr.

Vatikan menerima pengunduran diri Uskup Leteng pada 11 Oktober setelah sebelumnya melakukan investigas terkait tudingan adanya penggelapan dana Gereja senilai lebih dari Rp 1,6 miliar dan isu terkait hubungan gelapnya dengan seorang perempuan.

Dalam pengumuman resminya, Vatikan tidak menjelaskan alasan pengunduran diri Uskup Leteng, yang kemudian diganti oleh Mgr Silvester San sebagai administrator apostolik hingga penunjukkan uskup yang baru.

Pastor John mengatakan kepada ucanews.com pada 1 November bahwa, selain transparansi, Gereja juga harus menerapkan proses yang adil.

“Kalau ada tuduhan yang kredibel, sang klerus, entah pastor entah uskup yang dituduh sebagai pelaku harus langsung dibebastugaskan – tentu dengan prasangka tak bersalah,” katanya.

“Gereja sendiri mengurus tak kredibel masalah seperti ini,” katanya, karena “imam selidiki imam, uskup selidiki uskup dan (dilakukan) secara tertutup,” katanya.

“Siapa yang bisa sungguh-sungguh percaya?,” lanjut Pastor John.

Ia menyebut contoh kasus di Flores, di mana seorang pastor biarawan diisukan memiliki “relasi khusus” dengan seorang perempuan yang kemudian diselidiki oleh provinsialnya.

“Hasilnya, itu (disebut) gosip. Masalahnya, proses penyelidikan tidak terbuka untuk umat. Lebih jelek lagi, hasil penyelidikan tidak diumumkan dari mimbar.  Alhasil, gosip jalan terus,” katanya.

Ia menegaskan, dengan mendorong tranparansi, Gereja “bersikap dan bertindak adil terhadap uskup atau pastor yang dituduh, juga adil terhadap umat yang dililiti gosip yang berleleran.”

Dengan model penanganan yang sekarang, kata dia, Gereja hanya fokus pada pelaku dan bukan korban.

“Korban harus didampingi, dengan counseling secukupnya dan menerima kompensasi sesuai aturan negara,” katanya, sementara “si pelaku diperlakukan sebagai pelaku.”

Dalam artikelnya, Pasto John juga menyinggung soal perlunya perubahan mekanisme dalam penunjukkan uskup.

Merujuk pada langkah terbaru Paus Fransiskus  yang secara terbuka meminta para pastor, anggota tarekat-tarekat religius serta umat awam se-Keuskupan Roma merekomendasikan kandidat-kandidat untuk jabatan Vikaris Jenderal yang de facto bertindak sebagai Uskup Roma, kata dia, hal itu kiranya perlu diterapkan di seluruh dunia.

“Kalau ini sudah terjadi di Roma, timbul pertanyaan, kapan Tahta Suci akan meluncurkan  model serupa bagi seluruh Gereja seputar pengangkatan uskup,” ungkapnya.

Menurut dia, tentu ada bahaya bahwa konsultasi terbuka bisa dipolitisir. Tetapi, lanjutnya, siapa bisa memastikan bahwa proses yang terjadi selama ini, yang juga dirwanai lobi-lobi di balik layar, lebih baik.

Ia menjelaskan, Dewan Sembilan Kardinal yang berkonsultasi dengan Paus setiap tiga bulan pernah membahas kemungkinan supaya prosedur pemilihan, pengangkatan dan pengunduran diri seorang uskup diatur melalui proses yang lebih terbuka.

“Kiranya rekomendasi -rekomendasi mereka segera dibahas secara luas supaya sebuah modus baru dapat diterapkan di seluruh Gereja,” tulisnya.

Rikard Rahmat, seorang awam menyebut gagasan Pastor John sangat berani mengingat banyak orang Katolik di Indonesia yang masih menganggap tabu kritikan terhadap Gereja.

“Untungnya bahwa pendapat tersebut disampaikan langsung oleh anggota klerus. Jika orang awam mengatakan itu, hal itu tentu akan dianggap merusak wibawa gereja,” katanya.

Ia mengatakan bahwa kasus Uskup Leteng memang harus mendorong Gereja untuk meninjau kembali mekanisme pemilihan uskup.

19 responses to “Pastor John Prior Kritik Cara Vatikan Tangani Skandal dalam Gereja”

  1. Fr Gregor Neonbasu SVD says:

    Sangat setuju dengan pikiran Pater John Prior SVD, namun ada tiga hal sangat penting yang harus diperhatikan dalam penyelesaian soal-soal seperti itu, pertama, BERLUTUT, kedua DIAM dan ketiga BERDOA. Ketiga hal utama ini harus dijalankan oleh para Uskup dan kaum klerus, lalu menyusul umat.

  2. Vinsensius Pakaenoni says:

    Sayangnya keberanian ini mesti diekspose secara gamblang tanpa melewati sebuah mekanisme internal yang santun? Bukankah model kritis seperti menunjukkan luka bathin seorang klerus juga? Apakah saluran komunikasi di dalam gereja sedang mengalami sumbatan sangat parah?

  3. Aris Sabnani says:

    Masalah ini sangat serius, sampai membuat dunia goyah. Kami yang berada di negri orang harus menahan malu ketika persoalan ini diperbincangkan di meja perjamuan. Makan terasa basi dan air terasa pahit. Kita percaya bahwa semua pemimpin Gereja dipilih oleh Tuhan melalui manusia. Tapi apa Tuhan keliru dalam memilih? TIDAK. Mari kita berdiam sejenak agar suara Tuhan bisa didengar.

  4. Alfons Liwun says:

    Hemat saya, catatan kritis yang disampaikan oleh Pater John Prior, SVD, sangat menarik dan inspiratif. Karena itu, perlu direnungkan dengan baik-baik. Lalu mengambil sikap berani untuk menindaklanjuti. Tentu kita ingin supaya perbaikan yang positip untuk sebuah kemapanan yang selama ini tidak relevan lagi, dibutuhkan!. Ecclesia semper reformanda est, tetap kita maknai sebagai sesuatu yang positip.

  5. John Jehuru says:

    Saya sangat setuju dengan Pater John Prior SVD. Gereja sudah saatnya harus tegas dan transparan dalam menangani skanda para Klerus (imam-uskup, suster). BERLUTUT, DIAM dan BERDOA: ini tindakan baik tetapi konyol, hanya membuat Tuhan kecewa, Ranting yang tidak berbuah sebaiknya dipotong lalu dibakar, inilah bukti ketegasan Yesus. Tugas imam, suster dan uskup adalah “menjadi karyawan pertanian” membersihan tanaman dari ilalang, menyiram, memupuk, menyemprot dengan obat supaya tidak kemakan hama. Karyawan yang merusak tanaman harus dibebaskantuaskan, dipecat, jangan dibiarkan untuk merusak tanaman”. STOP mengkulkaskan skandal para Klerus ( frater, bruder, suster, pastor dan uskup).

  6. Terserah kepada pemimpin pemimpin agama kita
    Kami anggota atau umat menuruti aja baik buruknya agama kita tergantung pada pemimpin terimakasih.

  7. Phosphorus says:

    Pertanyaannya adalah apakah umat akan tetap kuat imannya?

  8. Bernardus Wato Ole says:

    Apa yang dikatakan oleh P. John Prior SVD sebenarnya sudah didiskusikan oleh para awam selama ini, sekurang-kurangnya mereka yang pernah mengenyami pendidikan calon imam, namun tidak bisa diekspos karena takut merongrong kewibawaan gereja. Bertempatan dengan 500 tahun gereja reformasi, gereja Katolik pun perlu berefleksi tentang berbagai hal termasuk seperti yang diangkat Pater John Prior untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

  9. Jolo says:

    Memang Ironis sekali saat ini, sebuah kenyataan dimana banyak pastor yang penampilannya beda2 tipis dgn para pengusaha. Semangat hidup miskin dan sederhana hampir tidak terlihat lagi pada sosok seorang pastor yang bagi umat katolik sebagai suritauladan. Kasus-kasus moral yang terungkap dan tidak terungkap semua berawal dari uang. Ketika tidak ada auditor dari pihak gereja maka pertanggungjawaban penggunaan keuangan gereja yang terkumpul dari sumbangan tulus umat yang hidupnya menderita dan sengsara pasti cenderung bisa disalahgunakan, maka sy tidak tau bagaimana suara hatinya. Selain itu kita bangun rumah pastor dan bangunan gereja megah dan mewah padahal masih begitu banyak umat katolik yang menderita. untuk makan minum sj tidak cukup apalagi mau sekolahkan anak tapi mereka mau memberi dengan harapan tidak disalahgunakan. Pastor juga manusia sehingga ketika mereka berperilaku seperti itu maka umat hanya bisa elus dada atau tidak berani menegur kalaupun ditegur pasti jadi musuh pribadi. ini kenyataan. Kalau bencana ini dibiarkan terus dan tidak di kritik maka kita tunggu sj sampai bom waktu meledak. Betul kalau soal iman tidak tergantung pemimpin agama tapi pribadi masing-masing. Mari kita saling mendoakan sehingga kita kuat dalam Iman dan pengharapan

  10. Clara says:

    Saya sangat setuju dengan Pater John Prior SVD. Gereja harus transparan, dengan masalah-masalah skandal yang di lakukan oleh orang yang dipanggil secara Khusus ( kaum berjubah) apa bila sudah melakukan skandal harus ada ketegasan agar tidak merusak citra gereja.

  11. Benediktus Delo says:

    Kita tunggu kebijakan Gereja Katholik untuk menindaklanjuti segala permasalahan yang dialami oleh para klerus secara transparan,terbuka bagi umum. Gereja tidak pernah akan bubar jika masalah-masalah dalam gereja dibuka untuk masyarakat luas. Sebagai umat kitapun harus berdoa agar para pemimpin gereja menemukan jalan keluar terbaik bagi gereja kita.

  12. Alfons Mbuu says:

    Seorang Uskup, para imam, biarawan ,biara wati bahkan Paus adalah Manusia normal yg tak luput dari kekurangan dan kekilafan.Urusan Gereja harus berbeda dg urusan negara. Jika urusan negara segala sesuatu dibuat secara terbuka, maka dalam hal persoalan Gereja tentu sedikit tertutup dan privasi dan itulah Gereja.Manakala tetjadi persoalan maka diselesaikan secara internal, artinya diselesaikan secara baik dan tuntas, tidak harus dipublikasikan secara luas. Sehingga wibawa Gereja tetap terjaga. Gereja tentu punya mekanisme penyelesaian tersendiri.Berilah kesempatan bagi mereka yang dipercayàkan untuk menyelesaikannya.

  13. Christian Hallogen says:

    Pada saat terpilihnya paus Fransiskus, beliau berlutut dan menunduk memohon doa dr umat, yg tak lazim dilakukan oleh paus sebelumnya. Artinya paus Fransiskus merasa bahwa dia adalah manusia lemah yg dipercayakan oleh Allah dan tentunya oleh umat pula untuk menjalankan roda pelayanan Gereja. Maka dr itu segala kasus yg berhubungan dgn kaum klerus maupun biarawan biarawati harus diselesaikan dgn berpengharapan besar pd penyelenggaraan ilahi. Sy pikir paus dlm mengambil sebuah keputusan dlm menangani kasus penyelewengan kaum klerus maupun biarawan/i adalah karya Allah dlm Roh Kudus. Hal ini bkn dimaksudkan utk menyembunyikan atau merahasiakan kasus penyelewengan pengurus dan pelayan Gereja. Allah yg memilih adalah iman kristiani yg hrs disadari… Paus dan dewan Gereja adalah alat yg merupakan perpanjangan tangan Allah sendiri dlm Gereja saat ini.

  14. Adrian Diarto says:

    Secara iman, seorang klerus tidak otomatis lebih baik dari orang awam. Betul mereka telah berusaha dengan cara-cara yang lebih khusus. Secara imani, saya meyakini banyak awam yang memiliki keteguhan hebat. Posisi yang khusus dari para klerus tidak lalu secara otomotis, sekali lagi, menempatkan mereka lebih baik dari orang awam dari sisi kualitas iman. Klerus, saya kira, adalah jalan yang lebih khusus tetapi bukan otomatis lebih baik. Masih harus dibuktikan bila terkait iman. Skandal-skandal membuktikan mereka juga manusia biasa, jadi harus ditangani secara wajar, terbuka dan adil. Saya setuju dengan Pastor John, jangan sampai yang sudah lebih sungguh2 mengabdi menjadi terlukai.

  15. Ansel says:

    Menurut saya masukan dari P. Jhon Prior sangat setuju…selaras dengan era revolusi mental yang perlu juga dilakukan dalam Gereja. Tq

  16. yosafat says:

    Marilah kita saling mendoakan. Terutama Tuhan meminta agar slalu mendoakan para klerus, mereka manusia sama seperti kita.
    12 Murit Tuhan ada yg mengkianati Dia, itu sebagai contoh. Tdk mungkin itu tdk trjdi d zaman kta

  17. rau ndara says:

    Ingat para Klerus itu sama saja dgn umat biasa…cuma ada perbedaan dipendidikan utk mendapat jabatan tersebut…nah kita sbg awam pengin persoalan2 yg membelit dilingkungan klerus ditangani secara transparan dan disampaikan kpd umat,kalau memang ada pelanggaran hukum negara maupun hukum gereja kita serahkan kpd institusi2 terkait yg menangani.

  18. Matheus Krivo says:

    Gereja juga senantiasa berubah. Jangan cemas, selalu ada Roh Kudus yang menjiwainya. Jika peradaban manusia sudah berubah maka perubahan di kalangan Gereja pun dengan sendirinya. Kalau sekarang Paus sedikit sudah berani pasti akan datang berikut lebih berani lagi. Jangan takut!

  19. Robert EppeDANDO says:

    Sikat habis pelanggaran dalam Gereja Katolik. Usut tuntas. Umumkan tuntas ke publik. Yesus saja kena ‘hantam’, masa Gereja ‘takut’ dengan aibnya sensiri? Sikat habis… Sangat setuju dengan saran Pater John Prior, SVD.

    Lembaga yang alergi kritik dan publikasi hasil investigasi adalag lembaga yang ‘pengecut.’ Zaman sudah berubah, maka anggota Gereja juga mutlak turut berubah di dalamnya. Jika tidak maka lambat laun Gereja sebagai lembaga akan ditinggalkan anggotanya. Dan, ‘bangkrut’ alias bisa bubar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi