UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Black Nazarene Jadi Tumpuan Harapan Korban Haiyan

Nopember 7, 2017

Black Nazarene Jadi Tumpuan Harapan Korban Haiyan

Seorang perempuan mengatur apa yang tersisa di altar sebuah kapel yang hancur di provinsi Leyte setelah topan besar Haiyan menerjang wilayah itu tahun 2013. (Vincent Go)

Umat ​​Katolik Filipina yang terkena terdampak bencana yang ditimbulkan oleh topan super Haiyan pada 2013 terus menemukan penghiburan dalam devosi kepada Black Nazarene.

Orang-orang dari seluruh wilayah Visayas Timur di Filipina tengah berbondong-bondong ke kota Tacloban minggu ini untuk memberi penghormatan kepada Black Nazarene. Gambar replika patung abad ke 16 yang berukuran besar dari Yesus yang berkulit hitam dan sedang memanggul salib itu, dibawa ke Tacloban pada untuk mengenang empat tahun bencana topan Haiyan pada minggu ini.

Pastor Erby Davy Lajara, pastor kepala paroki San Jose di kota tersebut, mengatakan bahwa orang-orang di Visayas Timur “memiliki devosi yang besar kepada Black Nazarene.”

“Kita dapat berempati dengan Black Nazarene karena menggambarkan penderitaan yang dialami Kristus. Kita dapat merasakan bahwa penderitaan kita lebih ringan karena mengetahui bahwa Tuhan menyertai kita,” kata imam itu.

Pastor Lajara mengatakan bahwa patung tersebut dibawa ke kota karena permintaan umat paroki dan peziarah dari berbagai wilayah di wilayah tersebut.

“Mereka ingin mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan, dan pada saat yang sama mengungkapkan penderitaan yang masih banyak dialami oleh mereka,” kata pastor tersebut.

Perempuan membawa replika Black Nazarene untuk diberkati sehari menjelang Pesta Black Nazarene di Quiapo, Manila

 

Dia mengatakan bahwa kehadiran gambar Black Nazarene yang perayaannya dirayakan setiap bulan Januari di Manila “mempersatukan orang-orang dalam kasih karunia Tuhan.”

“Kunjungan Black Nazarene ini membawa banyak berkah, rahmat, kebahagiaan, harapan, dan kedamaian bagi kita semua,” kata Pastor Lajara.

Seorang devosional, 42 tahun, Teresita Homeres membuktikan bagaimana doa-doanya kepada Black Nazarene menyelamatkan dua anaknya yang ditinggalkannya di Tacloban pada tahun 2013.

“Hanya mukjizat yang menyelamatkan keluarga saya karena kami tinggal tepat di pantai,” katanya. “Pikiran saya mengatakan kepada saya bahwa tidak mungkin mereka bertahan tapi saya tahu bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya,” kata Homeres.

Sejak Black Nazarene tiba di kota minggu lalu, Homeres dan keluarganya mengadakan doa. “Ini adalah cara kami untuk berterima kasih kepada Tuhan karena menjaga keluarga saya aman,” katanya.

 

Korban masih mengharapkan bantuan

Di provinsi Samar Utara, korban bencana yang mengelompokkan diri mereka ke dalam sebuah organisasi yang disebut People Surge meminta pemerintah untuk menghentikan pengiriman tentara ke masyarakat yang terkena dampak bencana.

“Bencana yang disebabkan manusia seperti militerisasi berada dalam lingkup prioritas pemerintah sementara kebutuhan dasar kita untuk pemulihan telah diabaikan,” kata Jemmar Tenedero, ketua organisasi tersebut.

Angkatan Bersenjata Filipina telah menempatkan pasukan di wilayah tersebut untuk mengejar pemberontak komunis setelah perundingan untuk menegosiasikan kesepakatan damai gagal awal tahun ini.

Akan tetapi People Surge mengatakan bahwa dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pasukan negara, dan kelambanan pemerintah atas masalah rehabilitasi telah menambah kesulitan masyarakat.

Haiyan, topan terkuat yang pernah terjadi dalam catatan sejarah, mengisyaratkan kedatangan topan berturut-turut di Filipina tengah yang melanda wilayah tersebut.

“Dampak langsung dari kemarahan alam terhadap komunitas ekonomi kita yang rentan,  tidak lain, adalah kelaparan dan kemiskinan yang memburuk,” kata Tenedero.

Sebuah laporan dari Departemen Pertanian mengungkapkan bahwa produksi beras di provinsi Samar Utara mengalami penurunan yang  dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2014, produksi beras di provinsi ini mencapai 117.965 metrik ton, namun pada 2016, turun menjadi 111.086 metrik ton.

Perkebunan abaca yang rusak setelah serangkaian topan mencapai 99,97 persen, mempengaruhi ribuan petani dan kehilangan tanaman serat senilai lebih dari US $ 3,4 juta.

Dewan Perwakilan Rakyat telah mengesahkan sebuah proposal untuk mendeklarasikan 8 November setiap tahun sebagai “Hari Ketahanan Topan Yolanda” di wilayah Visayas Timur.

Anggota dewan  Yedda Marie Romualdez mengatakan bahwa langkah yang diambilnya akan menghormati orang-orang yang tewas dalam bencana tersebut dan mereka yang membantu daerah tersebut untuk pulih.

Dia mengatakan memperingati  hari bencana tidak untuk merayakan tragedi tersebut “tapi kekuatan dan ketahanan masyarakat kita (dan) kemampuan fenomenal kita untuk bertahan hidup.”

“Rasa sakit yang disebabkan oleh [Haiyan] agak dinegasikan oleh kesempatan fenomenal untuk dapat membangun kembali dengan lebih baik, mengingat dukungan yang luar biasa yang menyertai kita,” kata Romualdez.

Topan Super Haiyan yang melanda negara itu pada tahun 2013 berdampak pada 1,5 juta keluarga, 18.261 di antaranya kehilangan rumah mereka.

Pemerintah memperkirakan jumlah mereka yang meninggal pada 6.300 sementara 1.061 lainnya dinyatakan hilang, dan 28.689 orang luka-luka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi