UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Rencana Pemulangan Hindu Rakhine ke Myanmar Dapat Tanggapan Beragam

Nopember 8, 2017

Rencana Pemulangan Hindu Rakhine ke Myanmar Dapat Tanggapan Beragam

Pengungsi Hindu yang melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ke Bangladesh sedang antri untuk mendapatkan bantuan di Kutupalong, distrik Cox's Bazar 28 Sept. (Piyas Biswas/ucanews.com)

Rencana pemerintah Myanmar untuk memulangkan dan memukimkan kembali pengungsi Hindu dari provinsi Rakhine yang dilanda konflik mendapat tanggapan beragam antara antusias dan skeptis di dalam negeri juga di perbatasan Bangladesh dan India yang mayoritas Hindu.

Sedikitnya 3.000 dari sekitar 8.000 orang Hindu yang tinggal di Maungdaw, Buthidaung dan ibukota Rakhine Sittwe telah mengungsi di tengah eksodus Muslim Rohingya karena operasi “pembersihan” militer Myanmar, sementara sekitar 500 orang melarikan diri ke Bangladesh.

Juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay mengatakan departemen imigrasi negaranya telah meminta Bangladesh untuk segera memulai proses pemulangan 500 orang Hindu.

“Kami siap untuk memulainya hari ini tapi semuanya tergantung pada pihak Bangladesh karena mereka belum mengirim daftar pengungsi dan mendiskusikan tentang kelompok kerja sama,” kata Zaw Htay kepada ucanews.com.

Tapi Muhammad Abul Kalam, kepala Komisi Pengungsi dan Pemulangan pemerintah Bangladesh, telah mengkritik tindakan tersebut.

“Kami tidak memiliki informasi yang jelas bahwa umat Hindu akan dipulangkan terlebih dahulu, jika itu terjadi, saya pikir itu tidak masuk akal dan tidak adil. Semua pengungsi harus dipulangkan tanpa memandang apa agama karena mereka adalah rakyat Myanmar”. Kata Kalam kepada ucanews.com.

 

Para pengungsi

Niranjan Rudra, 50, seorang Hindu yang sekarang tinggal bersama delapan anggota keluarganya di sebuah peternakan unggas yang telah ditinggalkan di dekat kamp pengungsi Kutupalong, mengatakan bahwa mereka tiba di Bangladesh pada pertengahan September dari Maungdaw.

Rudra mengatakan bahwa dia siap untuk segera kembali ke Myanmar tapi pertama-tama menginginkan beberapa jaminan.

“Kami ingin kembali tapi pemerintah harus memastikan kami akan kembali ke rumah kami dan bukan di kamp, ​​dan bahwa tanah dan properti kami harus dikembalikan kepada kami, Kami juga menginginkan jaminan keamanan, jadi kami tidak pernah berada di bawah serangan seperti itu di masa depan, “kata Rudra kepada ucanews.com.

Kanika Bala, 40, seorang janda Hindu datang ke Kutupalong dari Maungdaw pada pertengahan September dengan kedua putrinya dan seorang anak laki-laki.

Bala mengatakan bahwa orang-orang bersenjata bertopeng membunuh suaminya pada akhir Agustus dan bahwa dia tidak mau kembali ke Myanmar.

“Suami saya terbunuh, jadi saya tidak punya orang untuk mendukung saya di sana, saya khawatir anak-anak saya dan saya mungkin akan menghadapi lebih banyak kekerasan. Saya tidak ingin kembali ke Myanmar tapi ingin pindah ke Bangladesh atau India,” kata Bala kepada ucanews.com

Ketika Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi melakukan kunjungan yang mundur sehari dari yang dijadwalkan ke Rakhine utara yang dilanda konflik pada 2 November, dia memeriksa sebuah perkemahan yang akan digunakan untuk pemukiman kembali para pengungsi. Dia juga meminta pihak berwenang setempat untuk mengirim orang-orang yang kembali ke rumah asalnya sesegera mungkin.

 

Kuburan massal

Lebih dari 605.000 etnis Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari tindakan keras militer yang brutal di Negara Bagian Rakhine dalam rangkah menanggapi serangan kelompok Rohingya militan terhadap pos pemeriksaan keamanan pada 25 Agustus, menurut Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kekerasan tersebut juga berimbas pada ribuan orang Hindu Rohingya. Militer Myanmar dilaporkan menemukan dua kuburan massal dengan 45 mayat orang Hindu di Rakhine dan menyalahkan pembunuhan dilakukan oleh gerilyawan dari Arakan Rohingya Salvation Army.

Pemimpin Hindu yang berbasis di Yangon Hla Tun senang dengan rencana pemulangan pengungsi Hindu namun memilih pemindahan mereka yang terpisah dari Rohingya.

“Mengenai pemukiman kembali masyarakat Hindu, kami sangat memperhatikan keamanan mereka, jadi mereka harus dimukimkan kembali di antara komunitas etnis Rakhine dan kelompok lainnya daripada dengan komunitas Muslim,” kata Hla Tun kepada ucanews.com.

Dia mengatakan bahwa organisasinya akan mengirim surat kepada pemerintah dengan keprihatinan dan rekomendasi mereka mengenai masalah tersebut.

“Baik Muslim maupun Hindu telah hidup bersama secara damai namun orang Hindu menjadi sasaran sejak serangan 25 Agustus. Jadi, tidak mungkin untuk hidup bersama lagi,” kata Hla Tun.

Pada 1 Oktober, Dewan Hindu nasional Myanmar mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa istilah Hindu Rohingya tidak pernah ada di Myanmar dan meminta media internasional untuk tidak menggunakan istilah tersebut.

Hindu hanya memiliki 0,5 persen populasi di Myanmar sementara 89 persen adalah umat Budha dan 4,3 Muslim, menurut sensus 2014.

Maolana Azharudin dari Jammu dan Kashmir satu-satunya negara bagian yang berpenduduk mayoritas Muslim di India yang menampung ribuan pengungsi Rohingya mengkritik tindakan tersebut yang mengatakan bahwa mereka membenarkan bahwa kekerasan tersebut adalah “sebuah genosida terhadap umat Islam.”

“Ini juga menunjukkan ‘sikap keibuan’ pemerintah Myanmar terhadap umat Islam dan bagaimana Muslim dipandang dengan curiga,” kata Azharudin kepada ucanews.com.

Dia mengatakan sebuah negara modern seharusnya tidak melakukan diskriminasi terhadap rakyatnya sendiri atas dasar agama dan bahwa pemerintah Myanmar memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa semua Muslim dengan aman tinggal kembali di rumah mereka.

Ashwani Kumar, seorang pemimpin Hindu di Jammu, mengatakan bahwa langkah Myanmar untuk menarik kembali orang-orang Hindu dan kesunyian terus-menerus terhadap pengungsi Muslim tidak dapat diterima.

“Harus dipulangkan orang-orang Muslim dan Hindu yang mengungsi karena kekerasan tanpa membedakan mereka atas dasar agama,” kata Kumar.

Rana Dasgupta, seorang pengacara dan pemimpin Hindu yang bermarkas di Dhaka mengatakan kepada ucanews.com bahwa dia menyambut baik langkah tersebut.

“Tidak masalah siapa yang pergi lebih dulu tapi masalah utamanya adalah pemulangan dan harus dimulai dengan cepat,” kata Dasgupta. “Mengambil kembali [Rakhine] orang Hindu terlebih dahulu mungkin atau mungkin bukan langkah strategis di pihak Myanmar untuk menjaga India tetap di sisi mereka,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi