UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Hancur Saat Perang Vietnam, Gereja para Martir Ini Dibangun Lagi

Nopember 10, 2017

Hancur Saat Perang Vietnam, Gereja para Martir Ini Dibangun Lagi

Uskup Joseph Vu Van Thien dari Keuskupan Hai Phong dan 70 imam mengadakan Misa konselebrasi untuk pembangungan kembali gereja di Hai Duong Martyrs Shrine pada 6 Nov. (ucanews.com)

Keuskupan di Vietnam utara telah memulai pembangunan sebuah gereja yang didedikasikan untuk para martir Dominikan menggantikan puing-puing yang sebelumnya hancur akibat serangan udara AS pada tahun 1967.

Uskup Joseph Vu Van Thien dari Hai Phong merayakan Misa khusus pada 6 November untuk memulai pembangunan gereja baru di atas puing gereja para martir Hai Duong di kota Hai Duong, sekitar 60 kilometer tenggara Hanoi.

Tujuh puluh imam berkumpul dalam misa yang dihadiri oleh 7.000 orang dari seluruh negeri. Perwakilan dari instansi pemerintah dan umat Budha juga hadir pada acara tersebut dan banyak yang mengirimkan bunga ucapan selamat.

“Hari ini, 50 tahun setelah penghancuran gereja Martir, kami dengan senang hati memulai pembangunan gereja baru. Ini adalah tonggak bersejarah dari keuskupan kami,” kata Uskup Thien dalam Misa.

Uskup mengatakan bahwa acara tersebut merupakan hasil akhir dari para pejabat keuskupan yang dengan sabar mengadakan dialog dan kerjasama dengan pemerintah daerah selama bertahun-tahun. Otoritas pemerintah membantu merelokasi 43 rumah yang telah secara ilegal didirikan di daerah tempat suci dan memberi keuskupan sertifikat izin penggunaan lahan dan bangunan.

Uskup Thien mengatakan bahwa tempat suci tersebut adalah tempat di mana banyak umat Katolik dan misionaris dieksekusi karena iman mereka. Di antara mereka ada tiga orang Dominikan Spanyol – Uskup Jeronimo Hermosilla Liem dan Valentino Berrio Ochoa Vinh, dan Pastor Pedro Almato Binh – yang terbunuh pada 1 November 1861 dan Dominikan Vietnam Joseph Nguyen Duy Khang yang terbunuh pada 6 Desember di tahun yang sama .

Hari raya untuk keempat martir tersebut, di antara 117 martir Vietnam yang dikanonisasi pada tanggal 19 Juni 1988 oleh St. Paus Yohanes Paulus II, dirayakan oleh keuskupan pada 6 November.

Umat ‚Äč‚ÄčKatolik setempat membangun sebuah gereja yang didedikasikan untuk para martir di daerah suci tersebut pada tahun 1927. Gereja tersebut, yang dianggap sebagai yang terbesar di Indocina, dihancurkan oleh serangan udara AS pada 1 Juli 1967. Hanya sebagian menara dan beberapa dinding yang masih berdiri.

Pastor Joseph Duong Huu Tinh, seorang anggota dewan konstruksi, mengatakan kepada ucanews.com bahwa gereja baru tersebut akan memiliki luas 464 meter persegi dan dua menara menara setinggi 17,8 meter. Sebuah museum baru juga akan dibangun untuk menyimpan relik para martir.

Pastor Tinh mengatakan bahwa pemerintah meminta keuskupan tersebut untuk mempertahankan tembok tua seluas 25 meter persegi sebagai bukti dari apa yang terjadi selama perang.

Uskup Thien mengatakan bahwa fasilitas baru tersebut bertujuan untuk mengungkapkan rasa terima kasih umat Katolik setempat kepada para martir dan menunjukkan warisan iman mereka.

“Saya ingin memanggil kalian semua untuk mengikuti contoh-contoh cemerlang para martir dengan mencintai dan bekerja sama dengan orang lain untuk membangun masyarakat yang damai dan adil,” katanya.

 

2 responses to “Hancur Saat Perang Vietnam, Gereja para Martir Ini Dibangun Lagi”

  1. Jenny Marisa says:

    Bagaimana sikap pemerintah Vietnam terhadap umat Katolik sekarang? ..

  2. andreas sugihartono says:

    Semoga darah para Martir menjadi benihdan dasar bagi Gereja di Vietnam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi