UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Cegah Terorisme, Pers Harus Kedepankan Profesionalisme

Nopember 13, 2017

Cegah Terorisme, Pers Harus Kedepankan Profesionalisme

Willy Pramudya (kanan) menekankan agar media meminimalisir persaingan sehingga profesionalisme wartawan tetap terjaga, termasuk dalam memberitakan terorisme (Foto: BNPT)

Persaingan media menjadikan profesionalisme wartawan menurun dan itu berdampak pada pemberitaan terkait radikalisme dan terorisme. Untuk mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme, media disarankan meminimalisir persaingan.

Hal ini disampaikan anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya,  saat menjadi narasumber Visit Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo ke Mimoza TV, 8 Nov. 2017).

“Karena alasan persaingan media sekarang mendewakan klik, rating dan oplah, yang ujungnya media menjadi tidak profesional,” kata Willy.

Ketidakprofesionalan media, lanjut Willy, di antaranya nampak dari terjadinya glorifikasi, fabrikasi, justifikasi, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Dalam isu terorisme, tak jarang berbagai pelanggaran menjadikan berita yang disajikan media menjadi teror baru bagi masyarakat.

“Contoh kasus bom di Jalan Thamrin, Jakarta. Kejadiannya tidak besar, tapi karena media mengejar rating dan membuatnya heboh, masyarakat yang di Gorontalo juga merasakan kengeriannya,” tambah Willy.

Willy menambahkan, menjadi tugas industri pers dan wartawan secara pribadi untuk meningkatkan independensi dan profesionalismenya. “Profesionalisme akan mencegah persaingan antar media,” tutupnya.

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, mengatakan pencegahan terorisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga pers.

“Pers adalah bagian dari yang wajib ikut terlibat dalam pencegahan terorisme. Bagaimana keterlibatannya, salah satunya dengan menjaga profesionalisme,” kata Yosep.

Ia mengaskan empat fungsi pers, yaitu penyampaian informasi kepada masyarakat, media pendidikan, media hiburan serta sarana pengingat dan pengawal pemerintahaan.

“Media harus mampu menyampaikan kritik apabila menemukan ketidakadilan, karena ketidakadilan dalah salah satu penyebab seseorang menjadi radikal dan mau melakukan aksi terorisme,” tandas Yosep.

Ia mengajak media menjalankan  fungsi mata dan telinga bagi masyarakat, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme ada di mana-mana dan bisa terjadi kapan saja.

Visit Media merupakan salah satu metode yang dijalankan di kegiatan Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah dialog Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat.

Sumber: BNPT.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi