UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengangguran di Kalangan Anak Muda Sri Lanka Tinggi

Nopember 20, 2017

Pengangguran di Kalangan Anak Muda Sri Lanka Tinggi

Anak muda yang menganggur melakukan aksi protes di depan sebuah gedung pemerintah pada 24 Oktober di Kolombo, Sri Lanka. (Foto oleh Mahesh Vimukthi)

 

Pengangguran di kalangan anak muda di Sri Lanka masih menjadi persoalan karena pemerintah belum memenuhi janjinya untuk mengatasi masalah tersebut meski sejumlah aksi protes sudah dilakukan.

Salah satu anak muda yang terlibat dalam aksi protes menuntut pemerintah untuk segera mengambil tindakan adalah Mahesh Vimukthi, pendiri Perhimpunan Sarjana Pengangguran.

Sayangnya, aksi protes biasanya ditanggapi dengan gas air mata dan semprotan air agar para demonstran membubarkan diri.

Bagi Vimukthi and demonstan lainnya, mereka tidak punya pilihan lain kecuali terus melakukan aksi protes karena para penguasa belum mengembangkan sebuah strategi konret untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja untuk anak muda.

Ada lebih dari 60.000 sarjana dan lulusan sekolah yang menganggur dan jumlahnya terus meningkat, katanya.

Menurut survei yang dilakukan oleh Departemen Sensus dan Statistik, jumlah penduduk yang menganggur diperkirakan mencapai 352.875 orang hingga April tahun ini.

Sementara angka pengangguran tertinggi di kalangan anak muda berusia 15-24 tahun mencapai 18,5 persen. Angka pengangguran di kalangan perempuan lebih tinggi dibanding angka pengangguran di kalangan laki-laki.

Aruna Sanjeewa, 23, sudah melewati sembilan kali wawancara kerja. Menurutnya, pekerjaan di sektor umum sulit didapat tanpa akses ke jaringan partai politik.

Kegentingan politik yang terjadi di negeri itu pada 1970-an dan 1980-an, katanya, terkait dengan rasa frustrasi di kalangan anak muda akibat pengangguran.

Salah satunya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Janatha Vimukthi Peramuna (Front Pembebasan Rakyat). Dalam pemberontakan ini, sekitar 60.000 orang terbunuh atau hilang.

Selain itu, katanya, pengangguran juga turut memicu perang sipil yang berlangsung cukup lama antara milisi Tamil dan pasukan keamanan.

Konflik tersebut mulai terjadi pada 1983 dan belum berakhir hingga milisi yang dikenal dengan sebutan Macan Tamil dikalahkan oleh militer pada 2009. Sekitar 100.000 orang terbunuh dalam konflik ini.

Menurut PBB, lebih dari 40.000 warga sipil tewas selama tahap-tahap akhir pertempuran tersebut.

Direktur Pusat Pelatihan Teknik Tec Vithanika Pastor Anton Ranjith menggambarkan pengangguran di kalangan anak muda di negeri itu sebagai persoalan yang “membara.”

Ia mengatakan bahwa pusat pelatihan yang dikelola oleh Gereja itu telah melatih sejumlah anak muda baik laki-laki maupun perempuan sebagai teknisi sejak 1983. Tahun ini, ada 100 anak muda yang dilatih.

“Pusat ini membuka kursus pelatihan mekanik untuk motor, kulkas dan pendingin ruangan,” katanya.

“Kami memberi pelatihan kepemimpinan dan sertifikat yang berafiliasi dengan Kementerian Pelatihan Ketrampilan,” lanjutnya.

Dengan kualifikasi semacam itu, mereka bisa mendapat pekerjaan baik di dalam dan di luar negeri.

Bagi Aruna Shantha Nonis yang mengelola “Born To Win Relationships” untuk anak muda, tenaga mentor masih kurang.

Pelatihan ketrampilan hendaknya bersifat holistis dan mengembangkan sikap positif yang diperlukan sehingga anak muda bisa mendapat pekerjaan, katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi