UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Perjuangan Petani Timor-Leste Melawan Kekeringan

Nopember 21, 2017

Perjuangan Petani Timor-Leste Melawan Kekeringan

Kebun padi milik Filomena da Costa mengalami kekeringan akibat musim kemarau panjang.

Panas terik begitu menyengat. Filomena da Costa, 48, hanya bisa duduk terdiam di bawah sebuah gubuk kecil sambil menatap sawahnya yang kering.

Lahan seluas satu hektar yang terletak di Distrik Manatuto tersebut ia beli bersama suaminya, Stanislao Ramos dos Reis, 58, beberapa tahun lalu.

Bertani padi adalah mata pencaharian mereka sejak 2007.

Awalnya semua berjalan baik, namun kemudian berubah ketika kekeringan parah sebagai dampak dari fenomena El Nino melanda Timor Leste sejak akhir 2015 lalu.

“Saya panen sekali setahun sejak saat itu. Panennya sedikit, tidak banyak. Kemarau panjang tidak menghasilkan padi yang baik,” kata Filomena, ibu dari tujuh anak.

Bahkan tahun ini paling parah.

“Saya sudah coba menyalurkan air ke sawah. Tapi panen Juli lalu hanya satu ton,” lanjutnya.

Sebelumnya ia biasa menanam padi dua kali dalam setahun. Panennya pun bisa mencapai dua hingga tiga ton.

Menyadari bahwa bertani padi tidak bisa lagi diandalkan, Filomena dan suaminya mulai beternak sapi untuk bertahan hidup.

Namun sayang, panas terik pun mulai mengincar ternaknya.

“Satu dari 33 sapi saya mati tahun ini karena panas,” katanya.

Domingos Ramos Correira, 57, pernah terpaksa meninggalkan sawah seluas 1,5 hektar yang terletak di Distrik Baucau agar ia bisa bekerja sebagai kuli bangunan.

“Lebih baik jadi petani sawah,” kata bapak dari tujuh anak itu.

Selain Filomena dan Domingos, ada ratusan ribu orang yang terkena dampak dari kekeringan parah yang melanda negara itu.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Timor-Leste telah mengalami kemarau panjang selama sekitar dua tahun. Sekitar 350.000 orang atau sepertiga dari 1,3 penduduk negara itu tekena dampaknya.

Sebagian besar masyarakat yang terkena dampak kekeringan tinggal di Distrik Baucau, Distrik Cova LIma, Distrik Lautem, Distrik Oucesse dan Distrik Viqueque.

Assessment Capacities Project (ACAPS), sebuah NGO yang berbasis di Jenewa, Swiss, mengungkapkan bahwa pada musim hujan terakhir yang berakhir Mei lalu jarang terjadi hujan sehingga kondisi kekeringan di seluruh wilayah negara itu terus terjadi.

“Ini berdampak pada masyarakat petani,” kata Nivio Leite Magalhaes, mantan Direktur Pusat Logistik Nasional.

Lebih parah lagi, pertanian merupakan aktivitas utama di Timor-Leste. Hasil panen makanan pokok seperti beras dan maizena mengalami penurunan. Begitu pun hasil panen lainnya seperti ketela, ubi dan pisang.

Di Distrik Baucau, para petani yang tinggal di tujuh desa mengalami gagal panen.

“Ada sekitar 1.300 kepala keluarga yang mendapat bantuan emergensi selama 45 hari berupa beras dan beberapa paket bibit sayur,” kata Jaime dos Reis, koordinator Advokasi dan Komunikasi World Vision Timor-Leste.

Sementara itu, pemerintah menyatakan bahwa distribusi beras kepada masyarakat yang membutuhkan sudah dilakukan dan penjualan beras harga murah sudah dilaksanakan.

Namun bagi petani seperti Filomena dan Domingos, mereka hanya berharap agar hujan segera turun.

“Supaya sawah bisa dialiri air,” kata Filomena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi