UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Filipina Mengalami ‘Persekusi Media Sosial’

Nopember 24, 2017

Umat Katolik Filipina Mengalami ‘Persekusi Media Sosial’

Umat Katolik di Filipina mengenakan T-shirt berwarna merah pada perayaan Red Wednesday, sebuah kampanye global untuk menunjukkan solidaritas kepada umat Kristiani yang mengalami persekusi. (Foto: Karl Romano)

Umat Katolik di Filipina tetap mengalami persekusi meskipun mereka adalah kelompok mayoritas di Filipina, kata seorang imam pada serangkaian kegiatan yang diadakan untuk merayakan Red Wednesday.

Red Wednesday merupakan kampanye global yang bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada umat Kristiani yang mengalami persekusi.

Meski “tidak ada siksaan fisik” di kalangan umat Kristiani di negara itu, Pastor Alvin Platon dari Keuskupan Lingayen-Dagupan mengatakan bahwa persekusi bisa dilihat di media sosial.

“Ini bentuk baru persekusi,” katanya. Persekusi ini tidak seperti apa yang terjadi di masa lalu ketika persekusi “lebih pada fisik, seperti penganiayaan.”

Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Socrates Villegas mengatakan bahwa para pemimpin Gereja menjadi “martir” di media sosial karena mengkritik kebijakan pemerintah.

Para pemimpin Gereja, katanya, diserang di media sosial karena bertindak sebagai “kompas moral bagi masyarakat.”

“Kapan pun kami mengimbau penghormatan kepada kehidupan dan martabat manusia, kami dicap sebagai musuh dan menjadi target paratroll,” lanjutnya.

“Troll” adalah istilah gaul untuk seseorang yang menabur perselisihan dengan mengunggah pesan-pesan yang berisi hasutan, tidak relevan atau di luar topik di internet.

Menurut Pastor Platon, umat Katolik di negara itu menghadapi “perang kata” yang menguji iman mereka.

“Kami berharap dan berdoa semoga umat Kristiani yang mengalami persekusi lewat media sosial tetap teguh dalam iman dan tidak menyerah,” katanya.

Untuk melawan perang kata, katanya, Gereja terlibat dalam evangelisasi melalui media sosial “di mana umat berada.”

Sebanyak 45 katedral, 24 tempat ziarah dan lima basilika di Filipina ikut dalam serangkaian kegiatan Red Wednesday tahun ini. Mereka berdoa dan menghiasi bagian depan gedung gereja dengan warna merah.

Kampanye Red Wednesday diluncurkan oleh Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan dan bertujuan untuk menciptakan kesadaran tentang persekusi terhadap umat Kristiani di seluruh dunia.

Di Manila, Uskup Marawi Mgr Edwin de la Pena mengatakan kepada umat Katolik yang berkumpul di Katedral Manila bahwa ia tidak mengharapkan adanya serangan teroris di wilayah prelaturnya yang berakibat pada konflik selama lima bulan.

Sekitar 400.000 orang terkena dampak dari pertempuran yang mulai terjadi sejak 23 Mei lalu ketika kelompok bersenjata yang diiinspirasi oleh ISIS menyerang dan menduduki Kota Marawi di Filipina bagian selatan.

“Kami tidak pernah menyangka bahwa persekusi umat Kristiani yang bermula dari Timur Tengah, sebagai akibat dari meningkatnya terorisme dan ektstremisme Islam radikal, akan sampai ke Filipina,” katanya.

Uskup de la Pena mengambil kesempatan itu untuk berterima kasih kepada umat Katolik yang turut membangun kembali Kota Marawi “dengan berbagi tugas yang berat dalam membangun kembali kehidupan yang hancur.”

Tahun ini, bagian dari misi Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan, sebuah kelompok karitatif Katolik internasional, adalah mencari dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Marawi.

Prelatus itu berjanji akan melakukan berbagai upaya guna menghentikan persekusi umat Kristiani “dengan kekuatan Injil tentang cinta kasih, pengampunan dan belas kasih Allah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi