UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Pertama Laos Ingin Membangun Persatuan Antar Agama

Nopember 28, 2017

Kardinal Pertama Laos Ingin Membangun Persatuan Antar Agama

Kardinal Louis-Marie Ling Mangkhanekhoun di Vientiane. (ucanews.com)

Di Katedral Hati Kudus di Vientiane, terpampang spanduk besar yang mudah dilihat oleh siapa saja.

Spanduk “17 Martir dari Laos” itu tergantung di langit-langit Katedral Hati Kudus satu-satunya gereja di Vientiane untuk memperingati sekelompok umat Katolik, termasuk beberapa imam, yang meninggal antara tahun 1954 dan 1970 dalam sebuah tindakan keras terhadap agama oleh pemerintah komunis.

Setiap tahun, pada tanggal 16 Desember, Louis-Marie Ling Mangkhanekhoun, 73, memastikan bahwa para martir tidak dilupakan. “Kami mengingat mereka dengan sebuah upacara, karena mereka adalah saksi iman,” kata Ling di dalam katedral.

Ling, yang tumbuh dalam keluarga miskin tanpa ayah dan dibesarkan bersama minoritas etnis Khmu di provinsi Xiengkhouang di Laos, juga dapat digambarkan sebagai “saksi iman.” Ling, yang menjadi kardinal pertama Laos pada 28 Juni, dikirim ke penjara pada tahun 1984. Bukan karena melakukan kejahatan, tapi karena karyanya sebagai imam yang berkeliling di seluruh negeri.

Dia menghabiskan tiga tahun di balik jeruji besi. Tapi kardinal melihat waktu selama di penjara sebagai pengalaman spiritual dimana imannya diuji. “Ada beberapa kesulitan saat saya dikurung, kesulitan kesehatan misalnya,” katanya. “Tapi itu tidak merepotkan saya, itu tidak mengganggu saya dalam kehidupan pribadi saya, karena kita dapat menganggapnya sebagai ujian, di manakah iman Anda?”

 

Kardinal bagi gereja yang lemah

Penunjukan Kardinal Ling, yang belajar teologi dan filsafat di Kanada, mengejutkan banyak orang, termasuk dia sendiri, yang berada di kota kecil Laos, Pakse – tempat dia bertugas sebagai uskup – ketika mendengar kabar tersebut.

“Saya sedang berjalan-jalan saat seseorang memanggil saya, dan berkata: ‘Kakek, Anda terpilih sebagai kardinal’ Saya berkata ‘tidak, ini bukan saat bercanda’, karena saya tidak mempercayainya,” katanya sambil tertawa.  “Kemudian dikonfirmasi, dan saya harus pergi ke Roma.”

Menjadi kardinal seperti sesuatu yang tidak mungkin sehingga dia bahkan tidak pernah bermimpi tentang kemungkinannya, apalagi membicarakannya dengan orang lain. Bagaimanapun, Laos adalah negara kecil dengan komunitas Katolik kecil. Alasan di balik pengangkatannya menjadi jelas baginya ketika bertemu dengan paus. “Paus mengatakan ‘kekuatan gereja ada di gereja kecil dan lemah, karena mereka benar-benar berada di dalam gereja, mereka selalu ditantang untuk percaya.’

Jadi ketika Anda berada dalam situasi khusus, Anda harus waspada dan realistis, yang membuat Anda terjaga Dan Anda tahu, Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan dunia. Dia menerima penderitaan dalam hidupnya. Kita harus mengikuti Kristus, itu bukan hanya teoritis atau filosofis. Anda harus memasukkannya ke dalam hati dan tubuh Anda. ”

 

Gereja yang terus bertumbuh

Ada sekitar 45.000 umat Katolik di Laos, menurut sebuah laporan pemerintah AS pada 2007 tentang kebebasan beragama internasional. Tapi Kardinal Ling percaya jumlah sebenarnya mendekati 50-60.000, karena populasi Katolik Laos telah tumbuh secara perlahan tapi pasti. Beberapa tinggal di kota-kota utama di sepanjang sungai Mekong. Yang lainnya tinggal di daerah terpencil, seringkali tanpa gereja di dekatnya.

“Di daerah pegunungan Xiengkhouang, misalnya, gereja telah hancur, namun masih ada beberapa umat Katolik yang setia di sana,” kata kardinal tersebut.

Di seluruh negeri, hanya ada empat uskup dan 20 imam. Tapi jumlah yang rendah sama sekali tidak mengganggu Kardinal Ling. “Bagi saya bukan jumlah imam yang terhitung, tapi kualitasnya, kami harus melakukan yang terbaik untuk membuat mereka memenuhi syarat sebagai imam, dan bahkan tanpa hasil apapun, kami masih bisa melakukan sesuatu.”

Apa yang paling penting adalah bahwa komunitas Katolik Laos memiliki persatuan yang kuat, kata kardinal berulang kali.

Ini perlu di negara di mana pemerintah sangat curiga terhadap agama Kristen. Terutama di provinsi utara dimana orang-orang mengalami kesulitan untuk mempraktikkan iman mereka. Pemerintah komunis, yang telah memerintah Laos sebagai negara satu partai sejak 1975, melihat komunitas Katolik sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Kardinal Ling percaya bahwa kecurigaan ini tidak perlu, “Kita sama seperti semua orang di Laos, itu seharusnya tidak menjadi masalah, tapi terkadang kita harus menjelaskan kepada mereka bagaimana kita mempraktikkan iman kita. Kita memiliki kebebasan untuk mempraktikkannya di bawah Konstitusi, tapi apakah mereka mengerti dengan tepat apa artinya itu? ”

Bagi Kardinal Ling kurangnya pemahaman di pihak pemerintah mengakibatkan ia menghabiskan tiga tahun penjara. Tapi kardinal yakin itu bukan dia di balik jeruji besi tapi juga Yesus Kristus. “Saat saya tinggal di penjara, bukan saya, itu dia, Yesus Kristus, jadi saya bebas, karena Anda tidak dapat menghentikan kebebasan di dalam diri Anda.”

 

Menjangkau agama yang berbeda

Tak lama setelah menjadi kardinal, dia mendekati pihak berwenang setempat untuk sebuah pembicaraan. Dia mengundang mereka untuk mengikuti perayaan yang akan datang di gereja tersebut. Pertemuan semacam itu diperlukan untuk menciptakan saling pengertian, kata Kardinal Ling.

“Untuk memahami dan dipahami, kita harus berhubungan dekat dan benar-benar perlu berdialog, apakah Anda orang Katolik atau tidak, kita semua orang Laos, dan kita semua adalah anak-anak Allah. Kita tidak perlu membuat masalah satu sama lain. Fungsi kita di sini adalah menjadi pembawa damai. ”

Kardinal melihatnya sebagai tugasnya untuk mempersatukan keyakinan dan kepercayaan yang berbeda.

“Saya benar-benar menginginkan kita, gereja, dan agama-agama lain, untuk saling memahami”, katanya tentang negara yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha. “Karena itu membawa persatuan ke negara. Persatuan kita bisa membangun kekuatan yang kuat, kita bisa saling membantu membangun negara.”

“Saya hanya mengatakan, bersikaplah tulus kepada diri sendiri, Anda percaya apa yang Anda percaya, tapi tolonglah bersungguh-sungguh, dan cobalah untuk melakukan yang terbaik. Karena nama Tuhan, bisa jadi Allah, bisa jadi itu Manitou, bisa menjadi Buddha. Itulah nama-nama yang kita berikan kepadanya, tetapi Tuhan, pencipta itu lebih tinggi dari itu. ”

Umat ​​Buddha mungkin merupakan mayoritas besar di negara Asia kecil ini yang memiliki 6,7 juta orang, namun di mata Kardinal Ling mereka tidak berbeda dengan orang Katolik. “Saya pikir kita sama, kita semua sama.”

One response to “Kardinal Pertama Laos Ingin Membangun Persatuan Antar Agama”

  1. Eduardus Nugroho says:

    Hampir tidak pernah melihat seorang kardinal dlm pakaian awam sederhana spt ini. Contoh bagus. Kurangi simbol2 yg membedakan; tambah simbol yg menyamakan dengan awam. … Maka kita akan makin dekat dengan sdr2 kita Kristen Protestan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi