UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Diakon Ini Ditahbiskan Imam oleh Paus Fransiskus pada 1 Desember

Desember 1, 2017

Para Diakon Ini Ditahbiskan Imam oleh Paus Fransiskus pada 1 Desember

Para diakon yang akan ditahbiskan oleh Paus Fransiskus dalam Misa pada 1 Desember 2017 di Dhaka, Bangladesh

Sampai kelas sepuluh di sekolah, Vincent Kanak Gomes tidak tahu apa panggilan hidupnya.

Kemudian pastor paroki setempat memperhatikan remaja laki-laki yang rendah hati dan pemalu itu yang menghadiri misa pada hari kerja, bertugas di altar dan membaca Alkitab di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius di Keuskupan Agung Dhaka.

“Suatu hari, Pastor memanggil ibuku dan bersikeras agar dia mengirimku ke seminari untuk menjadi imam,” kenang Gomes.

Gomes kemudian memasuki sebuah seminari keuskupan di Dhaka, dan memulai perjalanannya menuju imamat.

“Setelah masuk seminari, saya menyadari bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk menjadi imam untuk melayani umat,”kata Gomes, yang sekarang berusia 31 tahun.

Setelah lebih dari satu dekade mengikuti pendidikan akademis dan formasi religius, Gomes, mendekati hari terhebat dalam hidupnya, pentahbisan oleh Paus Fransiskus di sebuah lapangan terbuka di Dhaka pada 1 Desember.

Paus dijadwalkan menahbiskan 16 diakon untuk menjadi imam dalam Misa di Taman Udyan Suhrawardy di pusat kota Dhaka,  10 orang calon imam diosesan, lima dari kongregasi Salib Suci (OSC) dan satu dari kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI).

Bagi Gourob G. Pathang, 34, dari kongregasi Salib Suci, kongregasi religius terbesar di Bangladesh, panggilan untuk menjadi religius sudah tumbuh sejak usia dini.

“Ayah saya adalah seorang katekis dan sewaktu kecil saya bergabung dengannya dalam pelayanan doa,” kata Pathang, seorang Katolik suku Garo dari Gereja St. Teresa Keuskupan Mymensingh, kepada ucanews.com.

Pathang mengatakan sebagai imam dia ingin bekerja untuk kaum muda dan memperjuangkan keadilan sosial.

“Gereja melakukan banyak hal untuk masyarakat termasuk pendidikan, kesehatan dan pembangunan, tapi kadang-kadang gagal mengambil sikap tegas mengenai masalah keadilan ketika orang-orang tertindas,” tambahnya.

“Berdiri untuk kebenaran dan keadilan tidaklah mudah, tapi saya akan menjadikannya sebuah motto hidup imamat saya.”

 

Persiapan untuk hari besar

 

Para diakon telah menyelesaikan enam tahun belajar teologi, spiritualitas dan psikologi di Seminari Tinggi Roh Kudus di Dhaka, yang berafiliasi dengan Pontifical Urbaniana University di Roma.

Diakon Rinku Cizar Costa, 32, dari Keuskupan Rajshahi, mengatakan kepada ucanews.com bahwa akan sangat istimewa jika di tabiskan Paus Fransiskus.

Persiapan untuk hari besar tersebut mencakup retret dalam diam serta spiritual dan konseling pribadi, menurut Pastor Emmanuel Kanon Rozario, rektor Seminari Roh Kudus.

“Ini menyangkut sukacita dan privalese bagi para diakon dan gereja bahwa paus, Vikaris Kristus di dunia, akan menahbiskan mereka,” kata Pastor Rozario.

 

Peralihan panggilan religius

 

Di Bangladesh, orang Katolik sangat kecil jumlahnya dibandingkan dengan mayoritas Muslim.

Ada sekitar 375.000 umat Katolik yang tersebar di delapan keuskupan, setengah dari kelompok etnis Bengali dan sisanya dari masyarakat adat.

Dalam beberapa dekade terakhir, panggilan religius telah menurun di masyarakat Bengali dan meningkat di daerah-daerah adat.

Karena semakin banyak orang memperoleh pekerjaan di negara-negara Teluk Persia, Eropa dan Amerika, mereka menjadi lebih kaya dan keluarga mereka semakin kecil.

Hal ini terbukti menjadi pukulan bagi panggilan religius, meskipun orang-orang masih berpandangan religius.

Akibatnya, panggilan religius telah beralih ke keuskupan-keuskupan yang didominasi masyarakat adat seperti etnik Garut yang didominasi oleh kaum Pathang yang mendominasi Mymensingh.

“Tahun ini kita akan memiliki 16 imam baru, yang luar biasa,” kata Pastor Rozario antusias.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan imam yang tidak hanya melayani orang Kristen tapi juga komunitas miskin dan terpinggirkan lainnya.

Rata-rata, 10 sampai 15 imam baru ditahbiskan di Bangladesh setiap tahunnya.

 

Kenangan pentahbisan oleh Paus Yohanes Paulus II

 

Pastor Tapan C. De Rozario adalah di antara 18 diakon yang ditahbiskan menjadi imam oleh Paus Yohanes Paulus II saat ia mengunjungi Bangladesh pada 19 November 1986.

“Dia sekarang orang suci di gereja dan saya merasa bangga mengatakan pada diri sendiri bahwa seorang suci menahbiskan saya!” kata Pastor Rozario, ketua Departemen Agama dan Budaya Dunia di Universitas Dhaka.

“Setelah penahbisan tersebut, paus menyentuh pipi saya dengan pipinya dan saya menyambutnya dengan mengatakan,” Damai sejahtera bagimu! ”

 

Nikmati juga theme song kunjungan Paus Fransiskus di Bangladesh:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi