UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus Tegaskan ‘Allah Hadir Melalui Rohingya’

Desember 4, 2017

Paus Fransiskus Tegaskan ‘Allah Hadir Melalui Rohingya’

Paus Fransiskus berbicara dengan Muhammad Nurullah, seorang pengungsi dari Rakhine State di Myanmar, pada sebuah pertemuan di Dhaka pada 1 Desember. (Foto: Joe Torres)

Paus Fransiskus tidak sekedar menyebut pengungsi Rohingya beragama Islam ketika bertemu mereka di Dhaka Jumat lalu, namun ia juga menyebut mereka “kehadiran Allah hari ini.”

Ini pertama kalinya Paus Fransiskus menyebut kelompok minoritas yang mengalami persekusi itu setelah sebelumnya muncul berbagai kritik yang mengatakan bahwa ia menghindari penggunaan kata tersebut selama kunjungannya ke Myanmar awal pekan lalu.

Pada Pertemuan Lintas-Iman dan Ekumene untuk Perdamaian di kediaman uskup agung Dhaka pada 1 Desember lalu, Paus Fransiskus menyalami dan berdoa bersama 16 pengungsi Rohingya – 12 laki-laki, tiga perempuan dan seorang anak – yang menempuh perjalanan dari Kota Cox’s Bazar di Banglades bagian selatan.

Dalam perjumpaan yang emosional itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “kita semua adalah citra Allah, termasuk pengungsi Rohingya.”

“Mereka juga citra Allah, Sang Pencipta,” katanya. “Hari ini, kehadiran Allah juga disebut Rohingya.”

Dalam sambutannya kepada para pemuka agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik dan Protestan, Paus Fransiskus menyampaikan kisah religi yang menceritakan seorang pencipta yang membuat manusia dari sedikit garam yang dicampur dengan tanah.

“Kita semua punya sedikit garam. Saudara dan Saudari ini juga mengandung garam,” katanya.

Paus Fransiskus menghabiskan waktu untuk menyalami para pengungsi dan mendengarkan kisah mereka. Kemudian ia mengatakan kepada mereka bahwa “tragedi yang kalian alami sangat sulit, tapi ini memiliki tempat di hati kami.”

“Atas nama mereka yang telah menganiaya dan menyakiti kalian serta ketidakpedulian dunia, saya meminta maaf kepada kalian,” katanya.

 

‘Katakan kepada dunia kisah kami’

 

Dalam wawancara dengan ucanews.com, sejumlah pengungsi mengatakan bahwa mereka meminta Paus Fransiskus untuk membantu menceritakan kisah mereka kepada dunia.

“Saya katakan kepada Paus Fransiskus bahwa kami minta keamanan bagi hidup kami, kewarganegaraan kami di Myanmar serta keadilan atas pembakaran rumah dan pembunuhan dua paman kami,” kata Muhammad Nurullah.

“Paus bilang ia akan berusaha membantu saya,” katanya.

Nurullah, kini berusia 37 tahun, mengungsi ke Kamp Pengungsi Balukhali di Kota Cox’s Bazar bersama istri dan ketiga anaknya Oktober lalu.

Seorang pengungsi Rohingya lainnya, Ahmed Hossen, 60, menceritakan kepada Paus Fransiskus tentang kehidupannya di kamp pengungsi. Ia mengungsi ke Banglades bersama enam anggota keluarganya Desember tahun lalu.

Paus Fransiskus meyakinkannya bahwa ia akan membantu pengungsi Rohingya.

“Saya minta keadilan ditegakkan atas pembunuhan orang-orang kami,” kata Hossen.

Bagi Foyez Ali Majhi yang meninggalkan desanya yang dibakar habis oleh aparat keamanan di Myanmar, “saya minta Paus Fransiskus membantu kami memperoleh keadilan.”

Sementara itu, Abu Syed mengatakan bahwa ia minta Paus Fransiskus untuk membantu mendapatkan kembali identitas mereka sebagai warga Rohingya.

“Rohingya” berarti “penghuni Rohang,” atau sebutan bagi umat Islam dari Arakan. Namun justru pemerintah dan militer serta banyak warga negara Myanmar menyebut Rohingya sebagai “etnis Bengali.” Ini mengindikasikan bahwa kelompok minoritas ini merupakan imigran gelap dari Banglades.

Sejumlah besar warga Rohingya tinggal di Myanmar selama beberapa dekade. Kini jumlah mereka mencapai 1,1 juta orang.

“Kami minta kewarganegaraan kami,” kata Syed. Tanpa identitas, warga Rohingya akan selalu berada dalam bahaya.

Menurutnya, warga Rohingya juga minta Myanmar untuk menjamin kepulangan semua pengungsi dengan aman.

“Paus Fransiskus mendengarkan kami. Ia bilang akan membicarakan semua permintaan kami,” katanya.

Seorang wanita pengungsi Rohingya mengaku tidak tahu pasti apakah Paus Fransiskus mampu membantu mereka. Sudah banyak orang berbicara dengan pengungsi Rohingya tapi “kami terus menderita setiap hari.”

Paus Fransiskus mempertegas permohonan bantuan

Paus Fransiskus mendesak para pemuka agama yang hadir pada pertemuan itu untuk terus membantu warga Rohingya dan “menunjukkan kepada dunia bagaimana egoisme bekerja saat ini terhadap citra Allah.”

“Mari kita terus menerus bekerja agar hak-hak mereka diakui. Mari kita buka hati kita. Jangan kita berpaling,” katanya.

Dalam sambutannya, Paus Fransiskus meminta para pemuka agama “untuk merengkuh orang lain” agar penghormatan kepada hak asasi manusia dan perdamaian bisa ditingkatkan.

Menurut Paus Fransiskus, dialog lintas-iman “menantang kita untuk menjangkau orang lain dengan saling memahami dan mempercayai” supaya manusia mampu membangun “persatuan yang melihat keberagaman bukan sebagai ancaman.”

“Keterbukaan hati itu seperti jalan yang menuju pada kebaikan, keadilan dan solidaritas. Keterbukaan hati mengarah pada kebaikan sesama,” kata Paus Fransiskus.

Ditambahkan, keprihatinan terhadap kesejahteraan orang lain bisa “membasahi lahan yang kering dan tandus akibat kebencian, korupsi, kemiskinan dan kekerasan yang merusak kehidupan manusia (dan) memecahbelah keluarga.”

Seorang pemuka agama Islam, Farid Uddin Masud, memuji Paus Fransiskus yang telah menyampaikan sambutan atas nama “orang-orang yang tertindas serta tidak adanya penghormatan terhadap agama, kasta dan kewarganegaraan.”

Pada pertemuan yang diadakan sebelumnya dengan para uskup, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “option for the poor” (keberpihakan kepada orang miskin) merupakan suatu tanda pengampunan dan cinta kasih Allah.

“Inspirasi bagi karya bantuan kalian untuk mereka yang membutuhkan harus selalu bersifat karitatif pastoral karena ini cepat mengenal luka manusia dan menanggapinya dengan kebaikan hati,” katanya.

Sekitar 620.000 warga Rohingya mengungsi ke Banglades dalam beberapa bulan terakhir menyusul pembakaran sejumlah desa, pembunuhan dan pemerkosaan perempuan di wilayah Rakhine State di Myanmar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi