UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Blokade Bantuan, Militer Filipina Dikecam

Desember 5, 2017

Blokade Bantuan, Militer Filipina Dikecam

Kaum muda dari komunitas warga suku menuntut penarikan tentara dari sekolah dan desa mereka yang terletak di wilayah pegunungan (Foto oleh Mark Saludes)

Sejumlah pejabat Gereja di Filipina bagian selatan mengatakan militer memblokade bantuan untuk sekitar 2.000 warga suku yang meninggalkan rumah mereka di tengah operasi militer yang semakin gencar dilakukan guna melawan pemberontak komunis di Mindanao minggu lalu.

Pada 26 November lalu, lebih dari 257 keluarga dari 14 komunitas suku meninggalkan rumah mereka yang  terletak di wilayah pengunungan di Kota Lianga, Propinsi Surigao del Sur. Mereka menuju pusat emergensi terdekat.

Pastor Raymond Montero Ambray dari Keuskupan Tandag mengatakan bantuan makanan dan obat-obatan dari Gereja dan beberapa lembaga bantuan dilarang masuk.

“Militer juga melarang warga biasa yang ingin membawa makanan dan bantuan kepada para pengungsi yang kelaparan dan sakit,” katanya.

Chad Booc, seorang guru dari Pusat Belajar Alternatif untuk Pengembangan Pertanian and Mata Pencaharian, mengatakan militer menutup jalan-jalan di wilayah pegunungan menuju kota itu. Hanya tim kesejahteraan sosial dari pemerintah setempat yang bisa mengantar suplai makanan yang sangat terbatas untuk para pengungsi.

Sementara itu, Richmond Seladores, sebuah kelompok multi-agama yang beranggotakan 70 orang, pernah membawa bantuan untuk para pengungsi. Kelompok ini melakukan negosiasi selama beberapa jam untuk bisa masuk ke pusat pengungsian, namun gagal.

“Para keluarga itu harus bertahan hanya dengan lima kilogram beras, dua kaleng sarden dan dua kardus mie instan yang mereka terima minggu lalu,” kata kelompok itu dalam pernyataannya. “Ini tidak cukup untuk kebutuhan setiap keluarga.”

Militer tidak membantah tuduhan itu. Namun mereka mengatakan bahwa mereka mencegah “evakuasi taktis” yang dilakukan oleh elemen-elemen komunis dari New People’s Army (TRB, Tentara Rakyat Baru) di wilayah itu.

Menurut pernyataan militer, pemberontak berusaha “menarik warga setempat dan organisasi asing supaya pemimpin mereka tidak ditangkap oleh pasukan keamanan,” menyusul berhentinya pembicaraan damai antara pemerintah dan sayap politik pemberontak komunis – National Democratic Front (NDF, Front Demokrasi Nasional) bulan lalu.

“Pasukan pemerintah sedang memonitor semua aksi yang mungkin dilakukan oleh para konspirator. Mereka bisa saja memberi bantuan atau mendukung organisasi teroris ini,” kata militer.

Pada 29 November lalu, warga sipil, sejumlah pemuka agama dan guru sekolah untuk warga suku di Kota San Luis, Propinsi Agusan del Sur, meninggalkan komunitas mereka setelah terjadi serangan yang diduga dilakukan oleh pasukan paramiliter.

Michael Lumbian, seorang relawan guru dari Program Literasi Filipina dari Misi Pedesaan, mengatakan sekitar 103 keluarga dari enam desa warga suku di kota itu telah pergi sejak 16 November lalu.

Menurut Kepala Suku Manobo Datu Makapukaw, pasukan paramiliter memberondong rumah warga suku dengan peluru karena curiga bahwa warga suku merupakan pendukung atau anggota TRB.

Bulan lalu, Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan bahwa pemerintah akan mengejar para aktivis dan kelompok yang mengelola sekolah untuk komunitas warga suku. Menurut pemerintah, mereka melakukan konspirasi dengan pemberontak komunis.

Presiden menyebut pemberontak dengan sebutan “teroris” dan “segerombolan penjahat” setelah ia mengakhiri negosiasi damai dengan NDF, kelompok pemeberontak komunis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi