UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Meski Berusia 94, Pria Asal Vietnam Tetap Ajarkan Iman Katolik

Desember 6, 2017

Meski Berusia 94, Pria Asal Vietnam Tetap Ajarkan Iman Katolik

Joseph Tran Minh Quang berbicara dengan umat non-Katolik pada sebuah pertemuan di Gereja Vinh Quang pada 22 Oktober.

Meski sudah berusia 94 tahun, Joseph Tran Minh Nhu tetap membantu warga desa di wilayah pegunungan di Vietnam bagian barat laut untuk mengenal agama Katolik.

Baginya, ini salah satu hal yang paling memuaskan dalam hidupnya.

Dengan selera humor yang baik. ia rutin mengunjungi beberapa desa di Propinsi Yen Bai. Ia memberi warga desa materi ajaran agama Katolik dan mengajak mereka untuk menghadiri Misa.

“Saya sudah melayani warga adat di wilayah ini selama lebih dari 50 tahun,” katanya.

Nhu menguasai Bahasa Thailand dan bahasa Suku Muong.

“Saya tidak bisa berhenti melakukan ini meski saya harus meminjam uang untuk membayar semua pengeluaran saya dan ongkos perjalanan,” lanjutnya.

Belum lama ini, selama beberapa hari, ia mengunjungi beberapa desa. Ia juga mendorong 14 warga Suku Kinh, Muong dan Thai yang bukan beragama Katolik untuk menghadiri sebuah Misa yang khusus diadakan untuk memperingati Hari Misi Sedunia di Gereja Vinh Quang, Distrik Van Chan. Warga suku ini berusia 40-75 tahun, dan banyak diantaranya tinggal sejauh 50 kilometer dari gereja itu.

Pada 22 Oktober lalu, ada suatu perayaan yang dihadiri oleh sekitar 1.000 umat Katolik. Dalam kesempatan ini, umat non-Katolik yang berkunjung itu diperlkenalkan dengan agama Katolik dan diberi hadiah.

Baik umat Katolik dan non-Katolik berbagi pandangan soal iman mereka dan tugas membesarkan anak. Mereka juga mengungkap keprihatinan mereka terkait masalah sosial serta menjalin relasi.

Nhu juga mengundang beberapa warga Suku Thai dan Muong untuk menghadiri Misa yang diadakan di gereja itu November lalu supaya mereka bisa mendoakan keluarga mereka yang sudah meninggal. Ia pun berencana mengajak umat non-Katolik ini untuk mengunjungi gereja itu pada perayaan Natal.

“Saya berusaha membangun hubungan baik dengan mereka, mengunjungi mereka, memberi mereka makan dan obat-obatan ketika mereka membutuhkannya serta menghormati keyakinan mereka,” katanya. “Ini baik supaya hati mereka terbuka untuk merangkul Gereja.”

Ayah dari lima bersaudara itu telah membaptis sekitar 100 warga Suku Muong dan Thai di wilayah-wilayah yang tidak memilki imam tetap.

“Saya rutin mengunjungi dan mendorongg mereka agar menghadiri Misa di gereja,” katanya.

 

Anak Yatim Piatu Yang Diadopsi Keluarga Katolik

Nhu pindah ke Paroki Vinh Quang dari Propinsi Thai Binh tahun 1930. Ia adalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh sebuah keluarga Katolik.

Paroki itu dibangun oleh para misionaris Perancis pada tahun 1909. Saat ini paroki itu memiliki 3.400 umat Katolik, termasuk 900 warga Suku Hmong, Muong, Tay dan Thai.

Tidak ada imam tetap yang berkarya di paroki itu sejak 2014.

“Para misionaris menginspirasi saya untuk melayani warga suku. Mereka melayani kelompok-kelompok minoritas etnis sejak 1905 hingga 1952,” katanya.

Para misionaris membangun sejumlah fasilitas dan mempelajari bahasa dan budaya warga suku. Mereka berjalan dan menunggang kuda untuk melayani warga suku. Mereka juga berdoa dalam bahasa suku, dan bahkan membuat kamus untuk warga suku.

Tiga dari misionaris Perancis meninggal di wilayah itu. Satu misionaris lainnya diusir oleh para komunis pada 1952.

“Saya ingin terus melakukan evangelisasi di sini sebagai ungkapan terima kasih saya yang begitu mendalam kepada mereka,” kata Nhu.

Ia  mulai melayani warga suku sejak 1963 setelah imam asal Vietnam terakhir yang melayani wilayah itu – Pastor Peter Du Kim Khoa – dipenjarakan oleh para komunis selama terjadi persekusi agama.

Di banyak desa di sekitar paroki itu, para penguasa mencegah para imam asing yang ingin mengunjungi warga desa dan melarang mereka untuk mengajarkan agama Katolik. 

Para penguasa juga mengancam akan menarik lahan dan suplai kebutuhan dasar dari siapa pun yang menganut agama Katolik. 

“Banyak orang muda dari Tu Le Commune tidak berani pergi ke gereja dan harus mengubur rosario yang diberikan kepada mereka karena mereka takut akan diancam,” kata Nhu.

Ia mengaku telah mengatasi banyak tantangan seperti ini dengan cara menjalin pertemanan dengan para pejabat desa.

“Saya mengunjungi warga desa ketika ada pemakaman dan perkawinan. Saya memberi mereka ratusan digital audio player supaya mereka bisa mendengar homili tentang Kerahiman Ilahi,” katanya.

Selama kunjungannya, Nhu memberi susu, gula dan obat-obatan herbal bagi warga desa yang sakit. “Saya ceritakan lelucon agar mereka rileks sehingga mereka bisa menemukan kebahagiaan dalam hidup mereka,” katanya.

Banyak warga suku menghormati Nhu karena aksi kemanusiaan dan kepeduliannya.

“Saya sangat mengaguminya karena ia mau mengunjungi dan mengajak kami untuk menghadiri pelayanan baru-baru ini di gereja,” kata Dinh Thi Buom, seorang non-Katolik dari Suku Muong.

Bagi Buom, 68, Nhu membuatnya tertarik untuk mempelajari agama Katolik.

Menurutnya, agama Katolik mengajarkan orang bagaimana menjalani kehidupan yang baik, menghormati orang lain, membesarkan anak dengan baik dan bekerja untuk kepentingan orang banyak.

Bulan lalu, sebagai bagian dari upaya evengalisasinya, Nhu mengundang seorang anggota komunis berusia 75 tahun dan mantan guru untuk menghadiri suatu Misa. Ia berusaha memperkenalkan nilai-nilai Kristiani kepada para pensiunan pejabat dan anggota partai di wilayah pedesaan.

“Saya percaya ketika orang sudah menginjak usia tua, mereka akan mencari nilai-nilai spiritual. Agama Katolik bisa memenuhi kebutuhan spiritual mereka,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi