UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Masyarakat Diajak Memilih Pemimpin Muslim

Desember 7, 2017

Masyarakat Diajak Memilih Pemimpin Muslim

Umat Islam mengibarkan bendera HTI saat aksi menentang pemerintah yang digelar di Jakarta pada 18 Juli lalu untuk mengecam aturan yang membolehkan negara untuk melarang kelompok-kelompok yang menentang ideologi negara. Kelompok-kelompok garis keras meminta umat Islam di Indonesia untuk hanya memilih pemimpin Muslim pada aksi protes yang digelar di Jakarta pada 2 Desember lalu. (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

Sejumlah pemimpin kelompok Islam garis keras meminta kaum Muslim di Indonesia untuk memilih pemimpin seiman dalam pemilihan umum mendatang.

Pertimbangannya adalah jika tidak memilih pemimpin seiman maka penerapan ajaran Islam tidak akan berjalan dengan baik.

Sabtu lalu (2/12), sekitar 40.000 umat Islam berkumpul di kawasan Monumen Nasional (Monas) untuk memperingati aksi protes yang digelar setahun lalu. Saat itu, aksi protes ini menargetkan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, seorang Protestan.

Ahok dihukum dua tahun penjara atas kasus penodaan agama setelah menantang klaim bahwa Alquran mewajibkan umat Islam hanya dipimpin oleh pemimpin seiman.

Sebenarnya Ahok mengklaim bahwa ayat Alquran disalahgunakan oleh para lawan politiknya yang beragama Islam.

Aksi protes akhir pekan lalu tersebut diadakan oleh beberapa kelompok Islam termasuk Front Pembela Islam (FPI). Tujuannya untuk mempromosikan para calon pemimpin Muslim menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Beberapa orator mendorong masyarakat yang memiliki hak pilih untuk meminta nasihat dari para ulama sebelum menentukan pilihan.

“Saat ini Indonesia butuh lebih banyak pemimpin Islam – baik di tingkat nasional maupun daerah – yang bisa membela Islam dan memastikan bahwa ajaran Islam diterapkan,” kata Ketua Umum FPI Ahmad Sobri Lubis kepada ucanews.com seusai aksi protes.

“Kami tidak ingin orang seperti Ahok untuk memimpin,” lanjutnya.

Namun, beberapa umat Islam radikal mengkritik Presiden Joko “Jokowi” Widodo karena menargetkan kelompok-kelompok intoleran termasuk melarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Slamet Ma’arif, koordinator Aksi 212 untuk menentang Ahok yang digelar tahun lalu, juga kecewa dengan pemerintahan saat ini meski pemimpinnya seorang Muslim.

“Umat Islam dipecahbelah dan hanya pemimpin Muslim yang baik yang bisa menyatukan mereka dengan menerapkan ajaran Islam,” katanya.

“Saya yakin ini bisa mengatasi permasalahan bangsa,” lanjutnya.

Sementara itu, pemimpin FPI Muhammad Rizieq Shihab hanya bisa menyapa para pendukungnya lewat telekonferensi. Ini dikarenakan ia masih berada di Arab Saudi sejak polisi menetapkannya sebagai tersangka utama dalam sebuah kasus skandal seks.

“Mari kita berjuang untuk NKRI bersyariah,” katanya, merujuk pada Syariat Islam yang mengandung hukuman berat bagi suatu kesalahan.

“Itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara ini dan melindungi agama-agamanya dari penodaan agama,” katanya.

Mitha Aulia, mantan anggota HTI, bergabung dengan aksi protes itu karena kecewa dengan Presiden Jokowi yang telah membubarkan kelompoknya.

“Saya ikut dalam acara ini untuk menunjukkan keprihatinan bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan seorang pemimpin yang bisa menyatukan umat Islam,” kata wanita berusia 23 tahun itu.

Namun, Mafud, seorang mahasiswa Muslim lainnya, tidak sepakat dengan imbauan itu.

“Kita butuh pemimpin yang bisa memajukan Indonesia, tidak peduli agamanya apa,” katanya.

Sementara itu, Bonie Hargens, pengamat politik dari Universitas Indonesia, menyebut aksi protes itu bernuansa politik. Targetnya adalah Presiden Jokowi.

“Setelah Ahok, sekarang mereka menargetkan Presiden Jokowi,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa imbauan mereka adalah hak mereka.

“Indonesia adalah sebuah negara demokratis. Mereka boleh saja menentukan kandidat mereka sendiri atau bahkan membentuk partai politik,” katanya.

One response to “Masyarakat Diajak Memilih Pemimpin Muslim”

  1. Jenny Marisa says:

    “Agama” seperti itu bisa bikin penganutnya kerdil dalam cara berpikirnya, dan celakanya menjadi jahat pula.. Bukan suatu keuntungan bagi bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi