UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Cerita Warga Rohingya Korban Perkosaan Kepada Paus Fransiskus

Desember 11, 2017

Cerita Warga Rohingya Korban Perkosaan Kepada Paus Fransiskus

Paus Fransiskus bertemu dengan para pengungsi Rohingya pada sebuah pertemuan antaragama di wisma uskup agung di Dhaka. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Kala itu, tengah malam, tentara datang tanpa pemberitahuan. Mereka membakar desa, membunuh para pria, dan memerkosa para wanita dan remaja putri.

Peristiwa itu terjadi September lalu di Kota Maungdaw, sebelah utara Rakhine State di Myanmar. Namun bagi para korban yang selamat, khususnya para wanita, kejadian itu masih segar dalam ingatan mereka.

Salah satunya Sayeda, seorang wanita etnis Rohingya. Ia bertemu Paus Fransiskus saat Paus mengunjungi Banglades beberapa hari lalu. Ia pun menceritakan kepada Paus tentang pengalaman sedihnya.

“Saya bilang ke Paus apa yang telah kami alami,” katanya kepada ucanews.com di sebuah tenda pengungsi yang padat di Cox’s Bazar.

Ia menceritakan kepada Paus bagaimana empat tentara memerkosanya setelah mereka membunuh satu dari empat saudara laki-lakinya dan seorang sepupu di tengah malam pada Hari Raya Idul Adha.

“Paus meyakinkan saya bahwa ia akan melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk membantu kami,” katanya.

Sayeda, kini berusia 25 tahun, tiba di kamp pengungsi itu Oktober lalu setelah desanya dibakar dan diserang oleh tentara Myanmar.

“Tentara dan (massa) membunuh anak-anak kami dan menghancurkan rumah kami,” kenangnya.

“Allah menyelamatkan kami sehingga kami tidak dibunuh. Dan kami mengungsi ke Banglades untuk menyelamatkan hidup kami,” katanya.

Korban perkosaan lainnya, Hajera, juga menceritakan kisah sedihnya kepada Paus Fransiskus. Tentara menculik anak-anaknya sebelum memerkosanya.

“Saya bilang kepada Paus bahwa kami sangat menderita. Kami tidak bisa melarikan diri karena mereka akan menembaki kami. Mereka membakar mesjid-mesjid kami,” kata wanita berusia 29 tahun itu.

Ia dan tetangganya bersembunyi di hutan selama 13 hari. Suatu hari, anaknya yang masih berumur delapan tahun minta air minum.

“Saya membawanya ke sumber air. Tentara menangkap saya dan memerkosa saya selama berhari-hari,” katanya.

Sekitar 16 tentara memerkosa Hajera dan sedikitnya 20 wanita selama lima hari. Ketika tentara meninggalkan mereka, mereka menyeberangi sungai menuju Banglades, tempat Hajera bertemu suami dan tiga anaknya.

“Paus bilang kepada saya bahwa ia akan mengatakan kepada dunia tentang kisah kami. Ia juga minta saya untuk berdoa kepada Allah,” katanya.

Sedikit demi sedikit para wanita menceritakan kepada dunia tentang pengalaman sedih mereka.

Sambil menangis, Rabeya, 34, menceritakan bagaimana tiga tentara memerkosanya dan anak perempuannya di ruangan yang berbeda.

Sejak saat itu, ia mengungsi bersama suami dan lima anaknya ke kamp pengungsi di seberang sungai di Cox’s Bazar.

Ia menceritakan kepada ucanews.com bagaimana tentara mengusir para pria keluar dari desa dan meninggalkan istri dan anak-anak mereka kepada para penyerang.

“Para penyerang memilih wanita dan remaja putri yang menurut mereka cantik dan memerkosa mereka satu per satu,” kata Rabeya.

“Kami sampai pingsan. Tentara mengira kami meninggal,” lanjutnya.

“Banyak wanita lain dibunuh setelah diperkosa,” katanya.

Suami dari Hafiza, 28, dibunuh sebelum empat tentara memerkosanya. Anaknya yang berumur 14 tahun mampu melarikan diri, tapi belum ditemukan hingga sekarang.

“Saya duga ia ditangkap, diperkosa dan juga dibunuh,” kata Hafiza.

Setiap malam ia terbangun dari mimpi buruk dan memanggil anaknya.

Sejumlah dokter yang melayani pengungsi di tenda pengungsi di Banglades mengatakan banyak korban perkosaan enggan menceritakan kisah sedih mereka karena stigma sosial yang melekat pada kejahatan seksual.

“Saya sudah bicara dengan beberapa wanita. Mereka mengatakan bahwa mereka terluka, tapi tidak menyebut perkosaan,” kata Dokter Misbahuddin Ahmed, seorang staf keluarga berencana di Kota Ukhiya di Cox’s Bazar.

Namun ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa sebagain besar wanita etnis Rohingya yang mencari pengobatan di klinik yang didirikan di kamp pengungsi merupakan korban perkosaan.

Seorang wanita etnis Rohingya yang mengklaim diperkosa beberapa kali oleh tentara di Rakhine State, Myanmar, menceritakan kepada Paus Fransiskus tentang kisah sedihnya saat bertemu Paus di Dhaka. (Foto: Joe Torres)  

 

Perkosaan yang sistematis dan meluas

Laporan yang dikeluarkan oleh Human Rights Watch (HRW) pada 16 November lalu menyebutkan bahwa insiden perkosaan yang dilakukan tentara Myanmar meluas dan sistematis dalam beberapa minggu terakhir ini.

Wawancara yang dilakukan HRW kepada 52 wanita dan remaja putri etnis Rohingya yang mengungsi di Banglades mengungkap bahwa “semua perkosaan, kecuali satu, merupakan perkosaan yang dilakukan secara beramai-ramai yang melibatkan satu atau lebih pelaku.”

“Dalam delapan kasus, wanita dan remaja putri dilaporkan diperkosa oleh lima atau lebih tentara. Mereka menggambarkan diri mereka diperkosa di rumah dan saat mengungsi dari desa mereka yang dibakar,” kata HRW.

Pramila Pattern, perwakilan khusus PBB untuk isu kekerasan seksual di wilayah konflik, menyebut “sebuah pola kekejaman yang meluas termasuk perkosaan, perkosaan secara beramai-ramai oleh banyak tentara, penghinaan dan penelanjangan paksa di muka umum serta perbudakan seks.”

Menurut International Organization for Migration (IOM), lebih dari 620.000 warga Muslim Rohingya mengungsi ke Banglades sejak tiga bulan terakhir menyusul serangan di Rakhine State setelah milisi Rohingya dilaporkan menyerang pos-pos polisi pada Agustus lalu.

Kelompok hak asasi manusia (HAM) meminta komunitas internasional untuk membaca berbagai laporan terkait kekejaman yang meluas tersebut, tuduhan yang sering dibantah oleh pejabat Myanmar.

Tin Mg Swe, pejabat senior pemerintah di Rakhine State, mengatakan kepada ucanews.com bahwa laporan pelanggaran HAM merupakan “tuduhan tak mendasar yang berusaha menciderai citra tentara (Myanmar).”

Dikatakan, pemerintah dan polisi di Rakhine State tidak menerima keluhan terkait perkosaan terhadap wanita dan remaja putri etnis Rohingya.

Selain itu, laporan HAM merupakan bagian dari konspirasi internasional yang menggambarkan kaum Muslim Bengal sebagai korban.

Namun Chris Lewa, Direktur Arakan Project – sebuah kelompok advokasi Rohingya, mengatakan insiden perkosaan yang dilakukan oleh tentara di bagian utara Rakhine State telah didokumentasikan.

“Kebiadaban terrburuk nampaknya telah terjadi di sana, anak-anak dibuang ke dalam api, para pria dibunuh secara brutal, para wanita diperkosa dan lalu dikunci di rumah yang kemudian dibakar,” katanya kepada ucanews.com.

Sultan, seorang pria etnis Rohingya dari Kota Maungdaw, mengatakan bahwa seorang wanita yang diperkosa oleh tentara perbatasan pada Oktober lalu mengajukan keluhan. Namun keluhan ini tidak ditanggapi.

“Bagaimana mungkin para wanita dan remaja putri merendahkan martabat mereka dengan membuat cerita tentang perkosaan?” tanyanya.

Pengusiran Tiada Akhir

Nampaknya penderitaan warga Muslim Rohingya yang miskin tidak akan berakhir karena ribuan orang terus menyeberangi perbatasan bagian selatan Banglades dan Myanmar.

Awal tahun ini, pejabat Banglades menolak menerima pengungsi. Mereka bahkan memaksa kapal-kapal pengungsi untuk kembali ke laut.

Namun eksodus terus berlanjut ketika ribuan orang yang tidak mau ditangkap atau ditembak oleh penjaga perbatasan berenang melewati Sungai Naf di tengah malam.

Myanmar menganggap warga etnis Rohingya sebagai imigran ilegal dari Banglades. Namun menurut Dhakar, mereka adalah warga negara Myanmar karena Myanmar telah menandatangani kesepakatan dengan Banglades untuk menerima orang-orang yang mengungsi akibat persekusi tahun 1979, 1994 dan 2011.

Warga etnis Rohingya pun telah mengeluhkan persekusi di tanah kelahiran mereka akibat perbedaan etnis, agama dan budaya dengan masyarakat Myanmar yang mayoritas beragama Buddha.

Warga etnis Rohingya telah menetap di Myanmar bagian barat sejak lama. Tahun 1982, pemerintah mencabut kewarganegaraan mereka. Akibatnya terjadi persekusi yang semakin meluas, seperti apa yang dialami mereka saat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Vietnam
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi