UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengakuan Trump Atas Yerusalem Picu Kemarahan Di Seluruh Asia

Desember 12, 2017

Pengakuan Trump Atas Yerusalem Picu Kemarahan Di Seluruh Asia

Para demonstran di Banda Aceh membakar foto Presiden Donald Trump pada 10 Desember dalam protes menentang pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibukota Israel. (Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP)

Keputusan Presiden AS, Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel telah memicu kemarahan di negara-negara dan komunitas Muslim di Asia, Malaysia mengatakan bahwa pihaknya siap untuk berperan dalam konflik yang diakibatkannya.

Pada 11 Desember, ribuan anggota Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok garis keras Muslim lainnya menggelar demonstrasi di depan kedutaan AS di Jakarta.

“Kami ingin Presiden Trump membatalkan keputusannya,” kata Slamet Maarif, juru bicara FPI, kepada ucanews.com.

“Kami juga ingin Presiden Indonesia Joko Widodo mengambil langkah konkret untuk menanggapi masalah ini, jika tidak, kami akan menanganinya dengan cara kami. Kami siap menjadi jihadis di Yerusalem,” katanya.

Demonstrasi serupa yang dipimpin oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai berbasis Islam dan Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam terbesar kedua di tanah air, juga mengadakan aksi di depan kedutaan tersebut pada 8 dan 10 Desember.

Yenny Wahid, direktur eksekutif Yayasan Wahid, yang mempromosikan toleransi dan dialog, mengatakan bahwa dia telah memberi tahu duta besar AS untuk Indonesia, Joseph R. Donovan, pada salah satu demonstrasi minggu lalu bahwa langkah Trump telah memicu ketegangan di negara-negara Muslim termasuk Indonesia.

Ketua NU Said Aqil Siradj mengatakan bahwa keputusan Trump telah membuat perdamaian dunia. “Yerusalem bukanlah ibukota Israel, melainkan Palestina,” katanya.

‘Pelanggaran’ resolusi PBB

Jokowi mengatakan bahwa pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel telah “melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum dimana Amerika Serikat adalah anggota.”

Dia menambahkan bahwa dia akan mengangkat isu tersebut di KTT Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang merupakan Organisasi Kerjasama negara-negara Islam yang dijadwalkan pada 13 Desember di Istanbul, Turki.

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan dalam sebuah pidato pada 9 Desember sebagaimana dilaporkan oleh Malay Mailonline, bahwa negaranya telah siap untuk mengirim pasukan militer ke Yerusalem.

“Kami siap menerima perintah dari Panglima Angkatan Bersenjata … semoga layanan kami dibutuhkan,” katanya.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan bahwa penolakan terhadap keputusan Trump, tidak akan mempengaruhi hubungan bilateral, menurut laporan surat kabar The Star pada 10 Desember.

Tapi tindakan Trump bisa mempersulit kemajuan untuk solusi dua negara antara Israel dan Palestina, kata Najib.

Jam malam di Jammu dan Kashmir

Demonstrasi terhadap pengumuman Trump memaksa pemerintah negara bagian di Jammu dan Kashmir – satu-satunya negara mayoritas Muslim di India – memberlakukan jam malam di daerah-daerah sensitif di ibukota Srinagar pada 8 Desember.

Masjid Jamia Kashmir (masjid raya) juga ditutup untuk sholat Jumat karena takut akan demonstrasi yang anarkhis.

Ulama Mirwaiz Umar Farooq, yang dijadwalkan akan berceramah kepada jemaat dari mimbar masjid, ditahan dan di bawah ke rumah tahanan.

Namun, larangan pemerintah tidak dihiraukan orang-orang tetap turun ke jalan dalam jumlah besar.

Gambar Trump juga dibakar oleh para pemuda yang marah dan polisi menembakkan gas air mata dan memasang kawat di tengah jalan untuk membubarkan para demonstran.

Cendekiawan Muslim terkemuka Ghulam Ali Gulzar mengatakan bahwa keputusan AS mengguncang perdamaian dunia dan mendorong pemuda Muslim untuk melangkah ke jalan radikalisasi.

Israel merebut Yerusalem Timur dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan mengumumkan kota itu sebagai ibukotanya tahun 1980, sebuah langkah yang telah dikutuk oleh masyarakat internasional sampai sekarang.

“Yerusalem adalah kota suci bagi kita semua – Muslim, Kristen dan Yahudi, namun telah dirampas oleh tentara tahun 1967, dan saat ini AS telah membenarkan tindakan tersebut, akan menyebabkan kesalapahaman yang makin dalam Muslim melawan Barat,” kata Gulzar.

Organisasi keagamaan di Kashmir bersatu, dan meminta kepada negara-negara Muslim di seluruh dunia untuk meningkatkan suara mereka terhadap keputusan presiden AS.

Front Persatuan Cendekiawan, gabungan dari berbagai organisasi keagamaan menganggap keputusan Trump “anti-Muslim” dan “anti-Palestina”, mereka menyebut sebagai langkah  “menusuk hati setiap Muslim di seluruh dunia.”

Keputusan tersebut juga disambut dengan cemas oleh beberapa kelompok Kristen di wilayah tersebut.

Pendeta Gomar Gultom, sekretaris umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, menganggap langkah Presiden Trump sebagai “suatu bentuk pengabaian perjalanan panjang yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dan masyarakat internasional untuk mendapatkan resolusi dua negara atas konflik Israel dan Palestina.”

Uskup Agung Ignatius Suharyo dari Jakarta, yang juga ketua presidium Konferensi Waligereja Indonesia, percaya bahwa “siapapun yang mengendalikan Yerusalem, kota ini akan tetap menjadi Kota Suci, dan iman Katolik tidak akan berubah karenanya.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi