UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ribuan Orang di Kachin Menderita Akibat Blokade

Desember 12, 2017

Ribuan Orang di Kachin Menderita Akibat Blokade

Dalam foto yang diambil 20 Januari lalu ini, seorang bocah laki-laki harus mengungsi akibat konflik antara kelompok etnis pemberontak dan pasukan militer pemerintah. Bocah ini makan di pinggir jalan di sebuah wilayah evakuasi dekat Desa Lung Byeng di Negara Bagian Kachin. Di Kota Tanai, pengungsi internal tengah mengalami penderitaan akibat blokade militer atas pengiriman makanan dan bahan bakar. (Foto: Hkun Lat/AFP)

Warga lokal dan pengungsi internal di Kota Tanai, Negara Bagian Kachin, Myanmar, tengah mengalami penderitaan akibat blokade militer.

Militan yang berasal dari kelompok minoritas ethnis Kachin telibat dalam konflik berpanjangan dengan aparat keamanan.

Pendeta Je Di dari Gereja Baptis Kachin di Kota Tanai mengatakan militer melarang pengiriman beras dan bahan bakar selama berbulan-bulan.

Kondisi memburuk dalam beberapa pekan terakhir karena harga bahan bakar melambung tinggi dan persediaan beras di pasar menurun.

Harga bahan bakar diesel per galon mencapai 6,60 dolar AS.

Hal ini berdampak buruk bagi sekitar 1.000 pengungsi internal yang mengungsi ke kota itu pasca-pertikaian yang melebar luas di negara bagian tersebut.

Banyak pengungsi yang tinggal di gedung-gedung gereja bergantung pada bantuan dari para pendonor lokal, kata pendeta itu kepada ucanews.com.

Ia juga menyampaikan keprihatinan akan dampak berkepanjangan dari kekurangan pangan ini.

Manam Tu Ja, ketua Partai Demokrasi Negara Bagian Kachin, mengatakan blokade militer mungkin ditujukan bagi para pemberontak dari Tentara Kemerdekaan Kachin (TKK).

Namun mereka yang menderita adalah warga lokal dan pengungsi internal, kata umat Katolik itu.

Pada 4 Desember lalu, Kolonel Myo Tin, seorang pejabat yang menangani isu perbatasan dan keamanan di Negara Bagian Kachin, mengatakan para pengusaha termasuk penambang ilegal diduga kuat mendukung TKK.

Ia menyebut hal ini sebagai alasan terjadinya pemantauan ketat atas pengiriman makanan dan suplai lainnya.

Tambang emas dan amber yang mempekerjakan sekitar 100.000 orang terletak di dekat Kota Tanai.

Menurut sejumlah sumber, sebagian besar pekerja beragama Buddha dan berasal dari Myanmar bagian tengah.

Ratusan warga desa dan ribuan pekerja tambang meninggalkan wilayah itu enam bulan lalu setelah militer mengingatkan mereka tentang rencana “operasi pembersihan” terhadap para pemberontak bersenjata.

Tu Ja, seorang politikus beragama Katolik asal Kachin, menyatakan bahwa tidak ada pertikaian yang serius meski kadang terjadi pertikaian di Negara Bagian Kachin.

Ia pun berharap konflik akan meredam karena pemimpin defacto Myanmar, Aung San Suu Kyi, akan melakukan pembicaraan damai dengan berbagai kelompok minoritas etnis pada akhir Januari nanti.

Masyarakat Myanmar ingin agar perang sipil yang berlangsung selama beberapa dekade ini berakhir, katanya.

Suu Kyi mulai memerintah pada April 2016 setelah memenangkan pemilihan umum pada November tahun sebelumnya.

Namun militer yang telah memimpn negara itu lebih dari 50 tahun tetap menjadi kekuatan besar.

Pemerintah yang dipimpin masyarakat sipil memiliki tugas berat dalam mengelola sumber daya negeri itu, termasuk dalam menghadapi sejumlah perusahaan yang memiliki hubungan dekat dengan militer.

Pemerintahan Suu Kyi telah berjanji untuk mengakhiri konflik, tapi pertikaian baru menghalangi inisiatif damainya.

Perselisihan yang terus berlanjut yang juga melibatkan warga Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine menimbulkan pertanyaan serius terkait seberapa besar pengaruh Suu Kyi terhadap militer.

Sekitar 90 persen penduduk Negara Bagian Kachin adalah umat Kristiani. Mereka mengalami pertikaian sporadis selama beberapa dekade.

Lebih dari 100.000 orang mengungsi sejak pertikaian mulai terjadi Juni 2011 lalu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi