UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ziarah pribadi untuk berdoa bersama Paus Fransiskus

Desember 13, 2017

Ziarah pribadi untuk berdoa bersama Paus Fransiskus

Maria Ja Taung, seorang pengungsi Kachin dari Kamp St. Paulus IDP di Myitkyina, Negara Bagian Kachin di Gereja St. Anthonius, Yangon, dimana ia tinggal selama kunjungan Paus Fransiskus ke Myanmar. (Foto: ucanews.com)

Maria Ja Taung, seorang pengungsi etnis Kachin dari kamp St. Paulus, sangat memperhatikan kesehatannya, dia khawatir apakah dia dapat melakukan perjalanan ke Yangon untuk mengikuti  Misa di lapangan terbuka yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada bulan lalu.

Tapi secara ajaib, rasa mual, batuk, dan sakit kepala Ja Taung hilang dan dia sanggup melakukan perjalanan dengan bis selama 24 jam dari Myitkyina, ibukota Negara Bagian Kachin menuju Yangon.

Itu adalah perjalanan pertama Ja Taung, ibu tujuh anak berusia 46 tahun, dan beberapa temannya yang telah lebih dahulu pergi ke Yangon.

Ziarahnya selama empat hari dimulai pada 26 November ketika dia meninggalkan Myitkyina, yang terletak di dekat perbatasan Cina, tiba di Yangon pada hari berikutnya, perjalanan kurang lebih  1.200 kilometer, untuk menyambut Paus Fransiskus pada saat kedatangannya.

Ketika mereka tiba di Gereja Santo Antonius, bersama dengan ribuan etnis Kachin lainnya, banyak orang berkumpul di kompleks gereja.

Ja Taung dan teman-temannya mengambil sebuah ruang kosong di dekat pintu gerbang dan meletakkan barang-barang mereka saat mereka bergegas ke jalan-jalan di Yangon untuk menyambut kendaraan Sri Paus.

“Perjalanan yang panjang dan melelahkan berakhir dengan lega, sukacita dan puas saat saya dan teman-teman saya mendapat kesempatan untuk melambaikan tangan saat konvoi paus melewati jalan di Yangon pada  27 November,” ujar janda dan ibu tujuh anak itu kepada ucanews.com.

Ja Taung mempersiapkan perjalanan mereka dengan baik, termasuk membawa cukup banyak makanan untuk tiga hari karena harga makanan lebih mahal di Yangon.

Perencanaan keuangan, secara bijak sangat dibutuhkan. Dia memelihara babi di kamp St. Paulus untuk para pengungsi sehingga ia memiliki cukup banyak tabungan untuk membayar perjalanan setelah dia mengetahui pada bulan Agustus tentang rencana kunjungan Bapa Suci.

Tiket bus pulang-pergi dari Myitkyina ke Yangon menghabiskan biaya 76.000 Kyats (US $ 56) menjadikan Ja Taung adalah satu-satunya di keluarganya yang bisa pergi ke Misa.

Ketujuh anaknya ingin pergi juga.

“Saya mengatakan kepada anak-anak saya bahwa kalian masih muda dan kalian masih mungkin mendapat kesempatan di masa yang akan datang. Dan saya sudah tua dan saya mungkin tidak mendapatkan kesempatan ini lain kali, jadi saya harus pergi dan mendapat berkat dari Bapa Suci,” katanya.

Ja Tung meyakini akan mengalami semua yang dia bisa. Jam 8 pagi pada 28 November, setelah penampilan penari tradisional di pagi hari, dia dan teman-temannya pergi ke lapangan olah raga Kyaikkasan di Yangon untuk memastikan mereka memiliki tempat yang bagus untuk Misa terbuka bersama Paus Fransiskus yang akan dimulai pada pukul 8:30 pagi hari berikutnya.

Sekitar 10.000 etnis Kachin berpartisipasi dalam Misa dimana Gereja memperkirakan lebih dari 120.000 umat Katolik dan orang-orang dari agama lain hadir.

“Saya tidak bisa tidur semalaman di lapangan olah raga,” kata Ja Tung. “Tapi saya dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera ketika saya melihat paus saat dia berkeliling menyapa umat yang hadir sebelum memimpin Misa.”

“Kurangnya tidur dan kepanasan kami hilang setelah kami mengikuti Misa.”

Seorang pria Katolik dari Myanmar memakai kemeja berbendera Tentara Kemerdekaan Kachin berlutut di kalangan umat ketika Paus Fransiskus mengadakan Misa di Yangon pada 29 November  2017. (Foto: Lilian Suwanrunpha)

 

Usai Misa, sekitar pukul 10.30 pagi, dia dan teman-temannya menuju ke stasiun kereta api namun tersesat. Mereka berjalan berjam-jam sebelum mereka bertemu dengan seorang pastor Katolik yang membantu mereka naik taksi ke  Gereja Santo Antonius.

Di gereja mereka tidur berjam-jam sebelum mengikuti Misa malam.

Ja Taung melarikan diri dari desa Gadayan dekat Laiza, markas Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), saat pertempuran hebat di dekat rumahnya pada Juni 2011 dan berlindung di kamp pengungsi St. Paul sampai saat ini.

Perang sipil terus mengganggu banyak negara minoritas etnis di Myanmar, terutama negara bagian Kachin Kristen. Konflik juga menyebar ke negara bagian Shan Utara.

Sejak 2011, ketika gencatan senjata 17 tahun pecah, lebih dari 120.000 orang meninggalkan rumah-rumah mereka.

 

Ja Taung melihat undangan Aung San Suu Kyi kepada Paus Fransiskus untuk membawa pesan perdamaian di Myanmar karena membantu mengakhiri perang saudara selama beberapa dekade.

“Mudah-mudahan kata-kata Bapa Suci akan menyentuh hati semua pemangku kepentingan sehingga mereka bisa bernegosiasi untuk membawa perdamaian. Saya percaya perdamaian itu akan datang,” kata Ja Taung.

Pagi hari itu tanggal 30 November, Ja Taung menghadiri Misa di Gereja Santo Antonius dimana dia dan etnik Kachin lainnya menginap selama di Yangon dan kemudian dia mengemasi pakaian dan barang-barangnya untuk kembali ke rumah sementara, kamp pengungsi, di Myitkyina.

“Saya tidak merasakan beban keuangan, tapi merupakan sebuah berkah dan kesempatan langka untuk bertemu dengan Bapa Suci di negara kami sendiri,” kata Ja Taung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi