UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelaparan dan Penyakit Menghantui Pengungsi Rohingya

Desember 19, 2017

Kelaparan dan Penyakit Menghantui Pengungsi Rohingya

Seorang bocah Rohingya mencari air di sebuah genangan di kamp pengungsi Kutupalong di Cox’s Bazar pada 7 Desember. Pengungsi yang tinggal di wilayah pedalaman mengatakan mereka terpaksa minum air yang tidak sehat (Foto: Stephan Uttom/ucanews.com)

Hamida Begum, seorang pengungsi Rohingya beragama Islam, merasa sangat khawatir ketika harus menghadapi kekurangan makanan untuk dirinya dan sembilan anaknya.

Mereka menerima 50 kilogram beras, dua kilogram minyak goreng, dua kilogram kacang, satu kilogram garam dan satu kilogram gula selama dua kali dalam sebulan.

“Makanan yang kami dapat tidak cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga selama sebulan,” katanya kepada ucanews.com pada 7 Desember di sebuah kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Banglades.

“Kadang kami meminjam tetangga atau kami kelaparan,” lanjutnya.

Ia dan anak-anaknya – lima laki-laki dan empat perempuan – hanya memiliki sebuah terpal untuk berlindung.

Mereka meninggalkan Rakhine State di Myanmar pada Oktober tahun lalu menyusul serangan militer terhadap warga sipil setelah milisi Rohingya membunuh sembilan polisi.

Hamida mengatakan polisi Myanmar menangkap suaminya, Jahur Mian, karena diduga terkait dengan milisi. Sampai saat ini keberadaan suaminya belum diketahui.

Bagi keluarganya, satu-satunya sumber untuk bertahan hidup saat ini di kamp Balukhali yang dihuni oleh sekitar 200.000 pengungsi adalah jatah bantuan yang diberikan selama dua kali dalam sebulan oleh Program Pangan Dunia (WFP, World Food Program) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baru-baru ini keluarganya juga menerima bahan bangunan dari PBB.

Seorang pengungsi lainnya, Osman Gani, mengungsi ke Banglades pada September lalu bersama istri, anak laki-laki dan menantu perempuannya.

Mereka tinggal di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar. Kamp ini merupakan yang terbesar dari 12 kamp pengungsi yang ada di wilayah itu.

Keluarga itu tidak memiliki kartu pangan WFP. Artinya mereka hanya mengandalkan tetangga dan donasi dari warga Bengal setempat.

Gani, 53, menduga seorang pemimpin Rohingya berusaha memeras 200 Taka (sekitar 2,5 dolar Amerika Serikat) darinya untuk mendapatkan kartu pangan WFP. Sementara ia tidak memiliki uang.

Sementara itu, Anwarul Jalil dari WFP mengakui adanya kekurangan dalam sistem suplai makanan.

Keluarga yang beranggotakan lebih dari delapan orang seharusnya mendapat dua kartu pangan. Oleh karena itu, penundaan suplai makanan bisa terjadi karena tidak ada “database” dan beberapa hal lainnya, katanya.

Penyakit dan Kematian

Meski beberapa tempat pengungsian memiliki akses terhadap layanan kesehatan, ada banyak laporan terkait kesulitan mendapatkan layanan kesehatan di sejumlah kamp pengungsi yang terletak di wilayah pedalaman.

Anwara Begum, 50, masih berduka atas kematian cucu perempuannya yang masih berumur dua tahun. Parmina meninggal dunia awal bulan ini setelah menderita ruam dan demam.

Anwara tinggal di kamp Kutupalong. Di sana ada fasilitas pusat kesehatan kecil untuk 300 orang. Namun seringkali dokter tidak ada.

Anwara Begum, 50, seorang wanita Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi Kutupalong di Cox’s Bazar memperlihatkan kartu Parmina, cucunya yang berumur 2 tahun yang meninggal dunia akibat penyakit yang tidak diketahui minggu lalu (Foto: Stephan Uttom/ucanews.com)

 

Kini ia mengkhawatirkan cucu perempuannya yang lain yang tinggal di wilayah perbukitan, sekitar beberapa kilometer dari klinik terdekat. Di sana terjadi kekurangan air minum dan banyak pengungsi mencari air dari sumber yang tidak aman seperti genangan air berlumpur.

Dokter Misbahuddin Ahmed mengatakan pemerintah Banglades dan sejumlah kelompok bantuan memperhatikan kebutuhan kesehatan para pengungsi, termasuk bahaya dari sejumlah penyakit menular.

“Kami berusaha sebaik mungkin, tapi karena kekurangan staf kami bergulat untuk memenuhi kebutuhan,” katanya kepada ucanews.com.

Berkat bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, World Health Organization) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat, katanya, sekitar satu juta pengungsi telah divaksinasi untuk mencegah penyakit kolera.

Sebuah survei yang dilakukan WHO baru-baru ini menyebutkan bahwa 722 anak terinfeksi penyakit kolera dan sembilan di antaranya meninggal dunia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Vietnam
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi