UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Natal Kelabu Menanti Keluarga Korban Pembunuhan Terkait Narkoba

Desember 22, 2017

Natal Kelabu Menanti Keluarga Korban Pembunuhan Terkait Narkoba

Seorang wanita meratapi putranya, seorang korban pembunuhan terkait narkoba, yang dimakamkan di Manila. (Foto: Vincent Go)

Dini hari itu, 22 November, beberapa jenazah pemuda berusia di bawah 20 tahun ditemukan di Manila bagian utara. Semua korban tewas ini mengalami luka sayatan di tenggorokan.

Tiga korban memiliki hubungan keluarga. Harrold, 17, adalah sepupu Jerico, 16, dan Jomari, 17.

Mereka berada di rumah kekasih Harrold, Mey, dua malam sebelumnya.

Menurut Ibu Harrold, Mary Jane, anaknya adalah “anak yang baik” dan peduli terhadap anggota keluarga yang sakit.

“Ia anak yang manis dan tampan. Ia populer di kalangan para remaja puteri,” katanya.

Namun segalanya berubah setelah suami Mary Jane, Joel, tewas di pasar tempat ia bekerja. Harrold terlibat dengan “kelompok yang salah,” lanjutnya.

Geng pencuri picik yang diikuti Harrold terkenal di wilayah tersebut. Mereka biasa keluar-masuk tahanan.

Harrold, Jerico dan Jomari hilang selama hampir dua hari ketika Mey menerima sebuah pesan dari Harrold pada pukul 2:32 dini hari itu.

“Sayang, kami ditangkap,” kata pesan yang diposting di media sosial itu.

“Di mana kamu, kami akan pergi ke sana,” balas Mey. “Sayang, saya sangat khawatir.”

Namun tidak ada balasan.

Beberapa menit kemudian, Mey menerima sebuah pesan. Ia menduga pesan ini berasal dari Harrold. “Ia sudah mati. Menyedihkan.”

“Sayang? Hei, jawab saya,” balas Mey.

Sekitar pukul 3:00 pagi, kamera CCTV di wilayah itu menangkap gambar sebuah kendaraan yang berhenti di ujung jalan sebelum melaju kencang.

Petugas keamanan setempat lalu menemukan jenazah Jomari. Jenazah Jerico dan Harrold ditemukan kemudian di wilayah sekitar.

Sepotong kardus bertuliskan sebuah pesan ditinggal di dekat jenazah mereka. “Ini wilayah kami, jangan datang ke sini, kamu akan jadi korban selanjutnya,” tulis pesan itu.

Sejam kemudian, dua jenazah lain ditemukan di wilayah sekitar.

Polisi yakin pembunuhan itu terkait perebutan wilayah kekuasaan.

Ladang Pembunuhan di Manila

Hari itu, Uskup Kalookan Mgr Virgilio Pablo David memimpin Misa untuk keluarga para korban pembunuhan terkait narkoba. Ia juga mengkritik keras kebijakan pemerintah terkait “perang melawan narkoba.”

Jenazah Harrold disemayamkan saat itu.

Jenazahnya disemayamkan selama 17 hari karena keluarganya tidak memiliki uang untuk pemakamannya. Akibatnya, pemakamannya harus ditunda karena keluarga harus mengumpulkan sekitar 140 dolar AS.

Saat pemakaman, Mary Jane meminta peti jenazah dibuka agar ia bisa melihat anaknya untuk terakhir kali. “Ini tidak benar,” katanya sambil menangis. “Seorang ibu tidak seharusnya menguburkan anak-anaknya.”

Dalam homilinya, Uskup David mengatakan “tidak ada satu pun umat manusia yang dilahirkan sebagai orang jahat, tapi ada orang yang akan mencoba menjerumuskan kita ke dalam kegelapan.”

“Mari kita berjuang keras mencari terang dalam diri orang lain dengan penuh belas kasihan,” katanya, seraya menambahkan bahwa para pembunuh yang mengenakan masker telah mengubah keuskupannya menjadi “ladang pembunuhan.”

Ia pun berusaha mencari kata-kata penghiburan untuk keluarga para korban. “Selagi masih ada kehidupan, ada pengharapan,” katanya. “Tidak benar jika orang menghabisi nyawa orang lain.”

“Menjadi korban itu sangat menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan untuk terus menerus menjadi korban,” kata Uskup David. “Tidak baik juga kalau kita kehilangan semua harapan dalam umat manusia dan membiarkan kebencian menguasai kita sehingga kita menjadi seperti orang-orang yang mengorbankan mereka yang tidak berdaya.”

Meningkatnya Jumlah Korban

Jumlah korban dari perang melawan narkoba terus bertambah, namun polisi mengklaim bahwa media telah salah menyampaikan informasi dan membesar-besarkan jumlah korban untuk memberi kesan buruk kepada pemerintah.

Memang sulit memastikan jumlah korban. Dalam sebuah kampanye, Presiden Rodrigo Duterte mengatakan perang akan berakhir dalam tiga bulan, tapi kemudian berubah menjadi enam bulan, lalu setahun dan akhirnya sampai akhir masa jabatannya.

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh Pusat Jurnalisme Investigasi Filipina menyimpulkan bahwa jumlah yang disampaikan pemerintah “bervariasi, tidak nyata, tidak tepat dan memunculkan teka-teki.”

Ketika #RealNumberPh menerbitkan infografis periode 1 Juli 2016 – 30 Mei 2017, kelompok ini menyebut 12.833 kasus pembunuhan. Dari jumlah ini, 2.091 pembunuhan terkait narkoba, 2.447 pembunuhan tidak terkait narkoba, dan 7.888 kasus masih dalam penyelidikan.

Infografis lain menyebut 3.050 tersangka pengedar narkoba tewas dalam operasi yang dilakukan polisi. Sementara kasus pembunuhan meningkat dari 447 pada 15 Mei – 30 Mei tahun ini.

Menurut infografis terbaru periode 1 Juli 2016 – 27 November 2017, polisi nampaknya lebih berhati-hati terkait informasi yang disampaikan dan jumlah kasus pembunuhan. Data hanya menyebut 3.967 “tersangka pengedar narkoba” tewas selama operasi anti-narkoba.

Jose Luis Martin Gascon, ketua Komisi Hak Asasi Manusia Filipina, menyalahkan “tidak adanya transparansi” dari lembaga-lembaga pemerintah atas data yang membingungkan tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Kepala Kepolisian Filipina Ronald dela Rosa menuduh media memberi reputasi buruk kepada polisi dan “membuat sensasi” terkait pembunuhan terkait narkoba.

Gascon mengatakan jumlah pembunuhan yang terjadi melebihi jumlah mereka yang tewas selama masa pemerintahan mantan diktator, Ferdinand Marcos.

Kematian Harrold dan kedua sepupunya, Jerico dan Jomari, mungkin hanya merupakan kisah sedih bagi Presiden Duterte.

Namun bagi keluarga ribuan korban yang tewas dalam “perang melawan narkoba” – hampir 13.000 orang menurut kelompok hak asasi manusia – Natal tahun ini berarti mengharapkan keadilan bagi orang-orang yang mereka kasihi di masa penuh kedamaian ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Vietnam
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi