UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemerintahan Timor Leste di Ambang Keruntuhan

Januari 4, 2018

Pemerintahan Timor Leste di Ambang Keruntuhan

Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri setelah upacara pengukuhan parlemen di istana kepresidenan di Dili pada 15 September 2017. (Foto Valentino Dariell de Sousa/ AFP)

Timor-Leste telah mengalami krisis konstitusional setelah pemerintah minoritas Perdana Menteri Mari Alkatiri gagal mengeluarkan kebijakan-kebijakan kunci, termasuk anggaran baru, pada minggu sebelum Natal.

Negara Asia yang memiliki penduduk mayoritas Katolik itu berpotensi memiliki pemerintahan baru, atau pemilihan kedua dalam sembilan bulan, karena parlemen negara tersebut mengalami kebuntuan setelah pemilu pada 22 Juli gagal mendapatkan suara moyoritas di parlemen.

Partai Fretlin yang menaungi Alkatiri, yang memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan, dan mitra koalisinya, Partai Demokrat, memegang 30 kursi di parlemen yang berkapasitas 65 kursi dan harus bergantung pada dukungan anggota parlemen oposisi agar undang-undang disahkan.

Alkatiri yang menggantikan rekan separtai Rui Maria de Araujo sebagai Perdana Menteri mengikuti pemilihan 22 Juli, semula sudah membagun koalisi mayoritas. Tapi hanya beberapa hari sebelum dilantik, mitra ketiga koalisi tersebut, Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan (Khunto) yang memiliki lima kursi, meninggalkan koalisi Alkatiri.

Alkatiri, seorang Muslim di sebuah negara yang berpenduduk lebih dari 90 persen Katolik, terpaksa mengundurkan diri di tahun 2006 sebelum masa jabatannya sebagai perdana menteri pertama di negara itu selesai.

Dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi dari Singapura pada 19 November, para pemimpin oposisi Timor-Leste meyakinkan publik bahwa mereka siap untuk mengambil alih kepemimpinan.

Siaran menampilkan negarawan senior dan mantan presiden dan perdana menteri Xanana Gusmao yang didampingi oleh Taur Matan Ruak, presiden Partai Pembebasan Populer (PLP) dan Jose do Santos Naimori dari Partai Khunto.

“Jika presiden memberi kami tanggung jawab untuk memimpin negara keluar dari krisis saat ini, kami akan menerimanya,” kata Gusmao.

Alkatiri menolak untuk mengadakan sidang parlemen dan mengklaim bahwa pihak oposisi berusaha untuk melakukan kudeta, terlepas dari kenyataan bahwa presidenlah yang bersumpah di parlemen.

Akademisi Australia Damien Kingsbury telah menggambarkannya sebagai “perpecahan pemerintah nasional” dan Alkatiri memiliki “gaya politik yang dapat mengendalikannya”.

Gusmao telah menegosiasikan sebuah perjanjian baru dengan Australia mengenai cadangan minyak dan gas senilai A$ 50 miliar ($U 39 miliar) di apa yang disebut deposit Greater Sunrise di perairan antara kedua negara.

Dia belum berada di negara ini dan secara umum dianggap bahwa kehadirannya dibutuhkan untuk kebuntuan politik agar bisa diselesaikan atau pemerintah dibubarkan.

Apa yang terjadi selanjutnya sangat banyak berhubungan dengan Presiden Francisco Guterres, seorang rekan Fretilin Alkatiri.

Manuel Tilman, seorang pengacara Timor-Leste, setuju bahwa krisis politik akan terjadi jika program pemerintah ditolak oleh parlemen lagi.

“Ini sesuai dengan Pasal 112 undang-undang dasar. Jika program pemerintah ditolak untuk kedua kalinya berturut-turut, pemerintah akan jatuh,” kata Tilman kepada ucanews.com.

Menurut Pasal 112, menurut Tilman, Presiden Guterres harus mempertimbangkan bagaimana membentuk pemerintahan baru jika yang sekarang dibubarkan.

Pilihannya termasuk menawarkannya kepada partai Xanana Gusmao, partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT) yang memperoleh suara terbanyak kedua dalam pemilu 22 Juli, atau membentuk pemerintahan “persatuan nasional”.

Jika dialog antara elit politik gagal, presiden dapat membubarkan parlemen nasional pada awal 22 Januari, kata Tilman.

“Pemilu bisa terjadi pada bulan April 2018, namun pada tanggal tersebut bertepatan dengan Masa Prapaskah dan Paskah di negara yang mayoritas Katolik tersebut, kemungkinan besar akan terjadi pada bulan Mei 2018,” tambahnya.

Dalam hal pemilihan diawal Mei, Timor-Leste bisa mengalami krisis keuangan karena anggaran negara belum disetujui.

“Saya akan membuat keputusan sesuai dengan konstitusi agar tidak membebani rakyat dan tidak akan ada darah atau luka, apalagi kematian,” kata Presiden Guterres pada 4 Desember.

Hal-hal yang lebih penting selanjutnya akan diumumkan pada tanggal 26 Desember.  Australia dan Timor Lorosa’e akan menandatangani sebuah perjanjian baru tahun ini yang menetapkan batas-batas maritim dalam upaya menyelesaikan perselisihan yang masih berlangsung mengenai ladang minyak dan gas yang menguntungkan di Laut Timor Timur.

Perjanjian baru akan ditandatangani pada bulan Maret sesuai dengan arahan dari Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag. Tapi ini perlu ratifikasi dari parlemen yang, pada saat ini, mungkin akan dibubarkan. Parlemen Timor-Leste akan bertemu kembali pada 8 Januari.

Timor-Leste secara resmi mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 2002 setelah 24 tahun berada di bawah kekuasaan Indonesia. Namun lima belas tahun setelah kemerdekaan, ia terus berjuang untuk mengatasi kemiskinan, kurangnya pendidikan dan layanan kesehatan.

35 responses to “Pemerintahan Timor Leste di Ambang Keruntuhan”

  1. Marcal Evaristo says:

    Siapa yg tulis artikel dg judul provokatif dan penuh kebencian. Ini pasti orang sakit hati yg tdk pernah move on. Timor Leste menunjukkan sejatinya demokrasi. Viva Timor Leste

  2. Lourenco de Deus says:

    Pemerintah TIMOR-LESTE, diambang reruntuhan, disebabkan atas kepentingan politik yang lebih diutamakan daripada kepentingan Nasional.sehingga kemungkinan akan jatuh, namum masih ada alternatif yang dapat menyelamatkan pemerintahan, melalui kebijakan Presiden menuntut konstitusi Timor-Leste. alternatif tersebut antara lain, Presiden memberikan kesempatan kepada partai pemenang kedua, apabila partai pemenang kedua tidak sempat membentuk pemerintahan, maka Presiden mengumumkan pemilihan ulang atau dengan istilah elisaun antisipada (antisipasi).

  3. Luis gomes says:

    Kami WNI kelahiran Timor Leste tetap mendukung Kemerdekaan Timor Leste dengan Pemerintahanya agar tetap jalan trs dalam memajukan kesejahteraan rakyat Timor Leste.

  4. Yamugi santoso says:

    Timor leste..Atur aja.. kami WNI jadi penonton aja.. EGP..!!

  5. Tom Jong says:

    Sekali merdeka tetap merdeka. Sekalipun mengalami krisis konstitusional kami sangat yakin bahwa ‘badai pasti berlaku’. Tak ada yg salah dalam proses pembentukan pemerintahan konstitusionl ke 7 TL saat ini. Semuanya melalui pemilu yg demokratis dgn prinsip bebas, rahasia, transparant n accountable. Bahwa kini ada pemerintahan minority vs blok oposisi yg mayoritas ini semata-mata dinamika berdemokrasi yg masih dalam koridor konstitusi. Viva RDTL.

  6. Miguel says:

    Sebagai WNI eks Timtim, tetap mendukung tanah kelahiran kami Timor Lorosa’e , we are support to you, to move you’re accelerate for building state. From us in NTT

  7. VICTOR OKSINUS says:

    keep the fight my brother…

  8. BangSat says:

    Kami melihat sambil minum Kopi pahit dan nonton dari televisi. Yang rukun saja dengan Ausie… so democrazy is true tetep semangat. Indonesia demontrasi sangat demokrasi

  9. Alvian Samudra says:

    Selesaikan saja urusan internal timor leste sesuai aturan yg berlaku, pasti ada jalan terbaik. Jgn cepat putus asa, wujudkan impian Mu menjadi negara makmur dan sejahtera.

  10. Jonson says:

    Masyarakat indonesia tetap menjaga kedaulatan timor leste tapi tak akan rela jika di pecah belah asing

  11. Moh Jumhur Hidayat says:

    Timor Leste bahagia, kami orang Indonesia tentu bahagia. Begitu juga sebaliknya. Kami mendo’akan semoga semua hal sepelik apapun bisa segera diselesaikan dg baik dan indah

  12. iyuz malaka says:

    Saya anak kelahiran timor-timur yg menetap di indonesia…dan saya sbagai anak muda yang prihatin melihat dan mendengar pemerintahan yg skarang Saya berharap timor leste kembali bergabung dengan indonesia….
    Mengapa….timor terlalu kecil,tapi knapa kalian tdak bersatu untuk membangunnya…bukan saatnya untuk berpolitik menjadi penguasa….tpi marilah kita bersatu untuk membangun…apa kata dunia kalau kalian smua berambisi tuk jadi penguasa…timor leste mau di bawah kemana….

  13. Graciano Silva says:

    Komentar yang paling terakhir ini Lucu. Mengajak bersatu kembali untuk membangun sementara bendera Timor-Leste sudah berkibar di PBB. Ya tentunya kita mesti bersatu tapi bersatu dalam semangat anda2 semangat 45 dan kami semangat 99. Kita bergandengan tangan dan maju meraih keberhasilan yang kita impikan bersama. Shalom

  14. hidayatullah says:

    Timur leste setelah memisahkan diri dari indonesia kok jadi negara miskin sih?

    Kalau begitu apa kata dunia?

  15. Roy says:

    Menurut saya mendingan dulu jajak pendapat itu menang pro Indonesia tapi,rakyat Timor Leste harus menerima dalam pangkuan negara Indonesia,mungkin akan tentram seperti saudara serumpunnya yang di NTT,kebutuhan pokok untuk rakyat terjangkau,dan tidak sperti sekarang ini semua kebuhan didatangkan dari indonesia lewat impor resmi,yg sudah tentu membuat barang yang masuk jatuhnya lebih mahal karena melalui bea dan cukai.Tentu akan aman,politik stabil dan pemimpin di timor leste tidak akan kawatir lagi akan dikudeta dan semacamnya.

  16. Frisco says:

    Timor leste bisa maju jika dia dibuat seperti singapore, dibangun pelabuhan dagang untuk barang2 yg mau masuk australia, papua nugini, seladia baru, dan pulau2 kecil sekitarnya.

  17. indra says:

    minta bantuan ke australia,negara yang punya andil besar terlepas timor leste dari indonesia

  18. adiis says:

    bagi aq timor leste g usah di bantu apalagi di urus sama indonesia karna masih banyak pulau propinsi di negara ini butuh pembangunan dia mendirikan sebuah negara bukan untuk kepentingan rakyat karna semua ingin jadi presiden

  19. bandung sn says:

    Sebagai orang indonesia saya cuma melihat saja apa atraksi selanjutnya. Dan untuk pemerintah indonesia semoga membangun batas wilayah indonesia-timor leate dengan tembok 5 meter berkawat duri, agar tidak ada lagi barang pokok, bbm, mobil, motor curian, dll di slundupkam ke timor leste tanpa pajak, dan untuk penjaga perbatasan jgn mau di sogok demi segumpal uang. Jadilah negara yang berdaulat dan terhormat.

  20. Edy lusianto says:

    Masa bodoh ama timor leste. Jangan sekali2 bantu apapun. Anda ingin bebas silahkan. Menangislah kau sekarang. Pemerataan pembangunan dah sampai indonesia timur.

  21. fien says:

    its so funny…bbrp waktu ini salah satu perusahaan TT mengajak joint kami perusahaan Indo untuk pembangunan di sana,notabene mereka sdh mulai malas dgn aussie dan ingin kembali berkerjasama dgn indo-hehehe

  22. Anjir says:

    nasibmu kini

  23. Muhammad Dzun Nun says:

    Rakyat Timor Leste tidak boleh menyesal setelah memutuskan membuat negara sendiri, Kalian pasti bisa mandiri kok apapun yang terjadi, susah gembira kaya atau miskin itu resiko kita semua sebagai manusia yang hidup dibelahan bumi manapun dan dari negara mana saja. Semangat dan Sukses ya Timor Leste.

  24. anas says:

    Bagi warga Indonesia jangan lah memikirkan Timor leste,,dia mau maju atau jadi miskin itu udah kemauannya,,kita pokus di negara besar di Dunia yaitu Indonesia yang subur makmur aman tentram dan sejahtera gak akan kekurangan suatu apapun,

  25. anas says:

    Negara itu harus bisa bikin uang sendiri,,kalau negara itu tidak bisa bikin uang sendiri,,memakai mata uang negara asing,sama aja dengan di jajah,,buat apa mendirikan negara kalau masih nebeng tidak bisa bikin uang,,

  26. anas says:

    Kalau bisa perbatasan Indonesia sama Timor Leste pakai Benteng setinggi 10meter tebal 1meter,,biar tdk bisa mondar mandir keluar masuk warga Timur Leste masuk ke Indonesia,,perketat perbatasan

  27. Ahmad sabarodin says:

    Timor leste daerah tandus nan miskin. Saat jadi propinsi indinesia hanya minta anggaran terus tanpa ada imbal balik ekonomi. Memang sebaiknya dilepas dari indinesia. Biar cari ekonomi sendiri.

  28. Sugihardjo says:

    Semoga TIMOR LESTE dapat mewujudkan impiannya … Salam sukses dari Indonesia

  29. Melissa linda says:

    Berjuanglah sendiri situ,kita penonton aja.gk penting dgn negrimu.bagus indonesia ditinggal.supaya apbn gk terbuang percuma.bpk2 pemimpin,masih banyak sudara2 kita butuh perhatian.ngapain mikirin org yg hanya bisa mghujat.gk butuh dimaafkan.

  30. aly says:

    sy mah nonton aja lah

  31. Rofi Pelealu says:

    Dari dulu Timor Leste adalah sebuah negara, hanya Indonesia saja yang mau dikadalin uncle sam dan antek-anteknya buat invansi Timor Leste.
    Tidak perlu sindir Timor Leste karena krisis, Indonesia pun juga pernah mengalami krisis hampir kritis.
    Timor Leste tidak menyibukkan diri dengan persoalan negara lain, tapi lihatlah Indonesia, tetek bengek dalam negeri belum kelar tapi masih mau sibukin diri dengan persoalan Gaza dan Yerusalem.

  32. Aspri says:

    Jika Timor leste tidak minta merdeka tetap gabung NKRI dengan status otonomi penuh mungkin lebih baik daripada saat ini, mereka tdk sadar Timor leste akan banyak bergantung kpd NKRI negara besar yg paling dekat dgn mereka

  33. Aspri says:

    Kemerdekaan Timor leste bukan utk kemakmuran rakyatnya ttp demi gengsi segelintir orang saja

  34. BUDI RAHARJO says:

    Kalau saya biar saja dengan keadaan Timor Leste saya tdk setuju kalau bergabung lagi dengan negara kita , Indonesia masih punya PR menyelesaikan pulau-pulau kecil di NTT belum lagi di Ambon ,dan Papua masih membutuhkan pembangunan mengapa kita repot-repot mengurusi negara lain . Apabila bergabungpun nanti akan banyak rakyat timor leste yang akan menuntut yang bukan – bukan seperti pengalaman sewaktu masih bergabung 1976 – 1999.

  35. rutan says:

    buat apa indonenesia ngurusin negara miskin kayak timorleste,gaada guna !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi