UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Serangan ke Marawi Tinggalkan Luka Mendalam Bagi Korban Selamat

Januari 5, 2018

Serangan ke Marawi Tinggalkan Luka Mendalam Bagi Korban Selamat

Pembangunan kembali Kota Marawi yang hancur akan dimulai pada bulan ke delapan tahun ini. Sementara itu, banyak warga masih tinggal di kamp pengungsi di luar kota itu. (Foto: Vincent Go)

Konflik mematikan yang terjadi selama lima bulan pada tahun lalu di Kota Marawi, Filipina bagian selatan, tidak hanya meninggalkan kehancuran tapi juga membuat para korban selamat menderita. Mereka akan terus dihantui mimpi buruk sepanjang hidup mereka.

Pada 23 Mei tahun lalu, kota pinggir danau nan indah itu diserang oleh kelompok orang-orang bersenjata yang terinspirasi oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Akibatnya, sekitar 400.000 orang mengungsi.

Bulan-bulan berikutnya menjadi mimpi buruk bagi sejumlah lembaga bantuan pemerintah dan swasta. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan penduduk yang mayoritas beragama Islam.

Seusai pertempuran, pemerintah Filipina melaporkan bahwa 1.100 orang tewas terbunuh. Sebagian besar adalah teroris bersenjata yang melancarkan serangan untuk membentuk sebuah negara Islam di kota itu.

Jamil Ampaso, seorang ayah dari 12 anak, mengecam serangan tersebut. Namun ia juga cemas akan kehancuran sebagai akibat dari serangan udara militer di kampung halamannya.

Menurut pemerintah, rehabilitasi kota itu membutuhkan biaya sekitar satu miliar dolar AS.

“Perang itu tidak hanya merusak sekolah anak-anak kami tapi juga menghancurkan kehidupan kami,” katanya kepada ucanews.com.

“Saya tidak tahu bagaimana kami memulainya kembali,” lanjutnya.

Presiden Rodrigo Duterte telah memberlakukan darurat militer di seluruh wilayah bagian selatan Mindanao. Konggres Filipina memutuskan untuk memperpanjang status ini hingga akhir 2018.

 

Upaya Membangun Kembali 

 

Lebih dari dua bulan sejak perang berakhir, wilayah pertempuran utama di Kota Marawi yang mengapit 14 dari 100 desa tetap tertutup untuk warga sipil.

“Banyak dari mereka yang pergi lagi setelah melihat rumah mereka hancur dan dijarah,” kata Aminoden Macalandap, seorang pengacara dan ketua Integrated Bar of the Philippines.

Ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa banyak orang bahkan kembali ke kamp pengungsi yang disediakan oleh pemerintah atau lembaga bantuan di luar Kota Marawi atau tinggal bersama kerabat mereka di bagian lain dari Mindanao.

Juga dikatakan bahwa layanan dasar belum buka, sementara pasar masih kosong.

Rekonstruksi belum dimulai. Lokasi pemukiman kembali seluas 17 hektar masih tutup karena pekerjaan pembangunan masih berlangsung.

Eduardo del Rosario, kepala satuan tugas yang diorganisasi untuk membantu membangun kembali kota itu, mengatakan 1.100 kamp pengungsi sementara siap ditempati bulan ini.

Rekontsruksi kota itu akan dimulai pada bulan ke delapan tahun ini.

Menurutnya, berbagai lembaga masih memantau situasi. Juga, rekomendasi dari berbagai kelompok masih dipertimbangkan.

Sementara itu, Macalandap mengeluhkan “tidak adanya konsultasi yang jelas dengan warga sipil sejauh ini” dalam tahap perencanaan pembangunan kembali kota tersebut.

“Para korban hendaknya diberi peran penting dalam rehabilitasi itu untuk menghormati sensitivitas budaya dan agama orang-orang Marawi,” katanya.

Penduduk Marawi yang beragama Islam merupakan kelompok etnis mayoritas di kota itu.

Macalandap juga mengingatkan bahwa “isu tajam” terkait kepemilikan tanah hendaknya diselesaikan setelah adanya penemuan yang menunjukkan bahwa sebagian dari Marawi adalah bagian dari reservasi militer.

Selain itu ia juga menekankan perlunya transparansi khususnya tentang uang senilai jutaan dolar AS yang telah disumbangkan untuk pemulihan dan rehabilitasi kota tersebut.

 

Tanggapan Gereja

 

Umat Katolik yang tinggal di sekitar Kota Marawi membantu memenuhi kebutuhan tetangga mereka dengan mengorganisir apa yang mereka sebut “Duyog Marawi” untuk membantu proses penyembuhan bagi para korban selamat.

“Duyog” adalah istilah Visayan yang berarti pendampingan, sering dipahami sebagai tindakan memainkan alat musik untuk mendampingi seorang penyanyi atau penari.

Uskup Edwin dela Pena dari Prelatur Marawi mengatakan sekitar 100 umat Islam dan Kristiani terlibat secara sukarela dalam program tersebut dan bekerjasama dengan para misionaris Redemptoris.

Menurutnya, “Duyog Marawi” – yang melibatkan para tokoh agama Islam, sudah tertanam dalam advokasi Gereja untuk mempromosikan kerukunan lintas-agama “dalam perayaan hidup dan iman.”

Sejumlah keuskupan di Filipina dan beberapa individu mulai mengirim donasi untuk melaksanakan program itu, katanya.

Program itu berfokus pada kesehatan, penyembuhan dan rekonsiliasi, komunikasi dan perlindungan sektor-sektor rawan.

Uskup dela Pena mengatakan program itu bertujuan untuk menjamin bahwa agama dan budaya masyarakat “diperhatikan dan dipertimbangkan dalam proses pembangunan kembali Kota Marawi dan hak masyarakat dilindungi.”

Jamalic Umpar, 24, warga Marawi yang keluarganya mengungsi, mengaku secara sukarela terlibat dalam program itu “untuk membina persatuan dan persahabatan antara umat Islam dan Kristiani.”

Meskipun ada luka yang ditinggalkan oleh konflik itu, para korban selamat berharap tragedi itu akan membawa hal baru bagi kehidupan mereka.

Pastor Teresito Soganub, seorang imam yang disandera oleh orang-orang bersenjata di hari pertama serangan, mengatakan pertempuran itu akan menghantuinya sepanjang hidup.

“Saya marah kepada Allah karena membiarkan saya berada dalam situasi yang mengerikan itu,” katanya. “Namun iman saya akan Tuhan tidak pernah luntur. Malah semakin kuat.”

Ia pun mengaku bahwa siksaan selama 116 hari di tangan teroris bersenjata memperdalam imannya akan Allah dan membuatnya semakin rajin berdoa. “Saya lebih sering berdoa ketimbang dulu,” katanya.

Bagi Uskup dela Pena, umat Katolik di Kota Marawi “ada di sini untuk mendukung dan menemani (Saudara-Saudari) kami sepanjang waktu.”

“Kami sadar bahwa misi membangun kembali kota itu adalah milik orang Marawi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi