UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Wanita ‘Leher Panjang’ Mulai Berpaling dari Tradisi

Januari 10, 2018

Wanita ‘Leher Panjang’ Mulai Berpaling dari Tradisi

Tradisi memakai cincin leher berangsur-angsur menghilang di Pan Pet, Myanmar. (Foto oleh Michael Coyne)

Bagi Ma Tha yang berusia 21 tahun, mengenakan setumpuk cincin perunggu di leher merupakan tanda kecantikan dan mempertahankan tradisi suku Kayan.

Dia kembali ke desa Pan Pet yang terpencil di Kota kecil Demoso di Negara Bagian Kayah Myanmar pada tahun 2016 dengan ayahnya setelah sembilan tahun bekerja di Thailand sementara ibu dan saudara perempuannya tinggal di Myanmar.

Ma Tha berharap dengan boomingnya pariwisata dan pendapatan yang lebih besar dari menjual barang-barang tradisional akan memberinya stabilitas ekonomi di tanah airnya.

“Ini adalah situasi yang sulit dan kami tidak memiliki cukup pendapatan untuk kebutuhan keluarga, jadi kami memutuskan untuk meninggalkan Thailand,” katanya kepada ucanews.com.

Ma Tha dan ayahnya sekarang mengelola sebuah toko kecil sederhana yang menjual boneka kayu buatan lokal, syal dan cincin leher perunggu.

“Penghasilan harian kami bergantung pada para wisatawan dan kami memiliki harapan besar untuk mendapatkan penghasilan yang baik di tanah air kami di masa depan,” kata Ma Tha saat ia membuat syal di toko di samping rumah tembok dua lantai.

Seorang wanita single Kayan yang bisa berbicara sedikit bahasa Inggris atau Thailand, Ma Tha tidak menikah dan dengan tersenyum mengatakan bahwa dia tidak punya pacar.

Pada masa lalu dilarang bagi pelancong dianggap sebagai daerah etnik di bawah pemerintahan junta, Myanmar sekarang menjadi objek wisata yang menarik. Sebagian besar Negara Bagian Kayah terlarang bagi orang asing dan dianggap sebagai daerah yang belum dijelajahi selama beberapa dekade di bawah pemerintahan militer yang keras.

Di desa terpencil Pan Pet, jalan baru diaspal dan jalur kabel listrik terpancang di samping rumah tembok yang bagus dan toko yang menjual souvenir hasil kerajinan tangan. Wisatawan berkeliaran mengambil foto potret wanita Kayan tua dan muda.

Selama bertahun-tahun, perempuan Kayan telah pindah ke Thailand untuk menghindari konflik dan kemiskinan dan mendapatkan uang dengan berpose untuk turis di desa-desa Thailand yang dibangun dengan tujuan pariwisata yang dikecam oleh aktivis hak asasi manusia sebagai “kebun binatang manusia”.

Sekitar tiga tahun yang lalu, mereka mulai kembali ke tanah air mereka karena situasi mulai lebih damai, memungkinkan wisatawan bisa mengakses kawasan tersebut dan perbaikan infrastruktur seperti jalan dan listrik.

Gadis Kayan diberi hingga 10 cincin leher untuk dipakai mulai dari usia lima tahun. Mereka kemudian menambahkan yang baru setiap tahun sampai dewasa. Praktik ini memberi mereka penampilan seperti jerapah karena secara menyakitkan memampatkan bahu dan selangkang daripada merentangkan leher mereka.

Banyak mitos dan legenda mengelilingi tradisi tersebut, mulai dari cerita tentang wanita yang memakai cincin untuk melindungi diri dari harimau atau demi meningkatkan kecantikan mereka.

Tradisi Kayan kuno yang telah berabad-abad lamanya dalam praktiknya menghadapi masa depan yang tidak menentu karena modernisasi mulai berkembang bagi generasi muda.

Mu Par, 20, mengatakan bahwa dia akan terus mengenakan cincin perunggu di lehernya tapi tidak mengizinkan anak perempuannya melakukannya. “Saya ingin mereka melanjutkan pendidikan mereka,” katanya.

Hilangnya tradisi secara bertahap jelas terlihat di Pan Pet, di mana lebih dari 1.000 penduduk tinggal.

Seiring modernisasi muncul dengan mudahnya akses ke ponsel dan internet, orang muda memilih untuk berpakaian santai dengan kaos, blus, celana panjang dan longyis.

Margarita, seorang wanita Katolik berusia 20 tahun, mengatakan bahwa dia tidak mengenakan cincin perunggu di lehernya dan lebih memilih gaya bebas dengan mengenakan blus dan longyi.

Dia berasal dari desa Kathanku, sebuah dusun Pan Pet dimana sekitar 80 orang tinggal di komunitas campuran umat Buddha dan umat Katolik. Sebuah gereja Katolik kecil terlihat di dekat rumah Margarita di bawah bukit hijau.

Maria, 80, berpose dalam foto di pondok kecilnya di Kathanku dan mengatakan bahwa dia menjadi seorang Katolik 20 tahun yang lalu dan sebelumnya ia beragama budda.

Generasi yang lebih tua seperti Maria tampak nyaman dan bangga akan kecantikan mereka dengan mengenakan cincin di tengah booming pariwisata di Myanmar timur, namun orang muda menghadapi dilema memilih antara tradisi kuno atau mengenakan cincin demi tujuan komersial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Vietnam
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi