UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengadilan Sepakat Putuskan Hukuman Mati Bagi Mary Jane  

Januari 15, 2018

Pengadilan Sepakat Putuskan Hukuman Mati Bagi Mary Jane  

Para aktivis perempuan mengadakan demonstrasi di Manila tahun 2015 untuk menyerukan agar tidak mengeksekusi Mary Jane Veloso yang dihukum Karena perdagangan narkoba di Indonesia. (Foto: Mark Saludes)

Pengadilan di Manila memutuskan bahwa seorang wanita Filipina yang divonis hukuman mati di Indonesia tidak dapat memberikan kesaksian terhadap perekrut yang dituduhkan di luar pengadilan di Filipina.

Keputusan tersebut telah  dijatuhkan bulan lalu, namun baru dipublikasikan ke media pekan lalu itu dinilai membahayakan kehidupan Mary Jane Veloso, yang terbukti melakukan perdagangan narkoba di Indonesia tahun 2010.

Indonesia memberikan kesempatan kepada Veloso yang seharusnya  dieksekusi pada  April 2015 untuk mengizinkannya bersaksi tentang  perekrutnya yang dituduhkan terkait perdagangan manusia dan tuntutan perekrutan ilegal di Filipina. Dia mengaku telah ditipu dalam perdagangan heroin.

Kesaksian Veloso dalam kasus ini sangat penting untuk penuntutan.

Namun, perekrut yang diduga – Maria Cristina Sergio dan Julius Lacanilao – meyakinkan Pengadilan Banding Filipina untuk melarang hakim Filipina Anarica Castillo-Reyes pergi ke Indonesia untuk mengambil keputusan tersebut.

Veloso seharusnya memberi pernyataan bulan ini di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan, di mana dia ditahan.

Dalam putusannya, pengadilan pemohon di Filipina mengatakan bahwa mengizinkan pernyataan tanpa kehadiran Sergio dan Lacanilao “melanggar” hak mereka untuk menghadapi Veloso secara langsung.

Juga dicatat bahwa “umumnya, pemeriksaan saksi harus dilakukan secara lisan di depan hakim di pengadilan terbuka” agar hakim dapat menguji kredibilitas saksi.

Pengadilan mengatakan bahwa “tidak lupa akan nasib menyedihkan dan tidak beruntung yang menimpa” Veloso, namun menambahkan bahwa keadaan dalam kasus Sergio dan Lacanilao menuntut penerapan peraturan pengadilan.

Pengadilan menambahkan bahwa, “tugas pertama dan mendasar dari pengadilan adalah menerapkan hukum.”

Pengacara Veloso menyatakan kekecewaannya, dengan mengatakan bahwa keputusan pengadilan “membuat frustasi dan ironis.”

Edre Olalia dari National Union of Peoples ‘Lawyers mengatakan apa yang diminta tim hukum Veloso adalah agar dia menceritakan keseluruhan ceritanya dan dengan jaminan prosesnya yang masih utuh.

“Tidak ada hak fundamental yang dilanggar jika (Veloso) diizinkan untuk menjawab interogasi tertulis karena terdakwa melalui nasihat mereka akan hadir saat pernyataannya diambil,” kata Olalia.

“Biarkan dia berbicara dan biarkan ceritanya berdiri sendiri,” kata pengacara itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi