UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kepolisian Filipina Luncurkan Kembali Perang Melawan Narkoba 

Januari 16, 2018

Kepolisian Filipina Luncurkan Kembali Perang Melawan Narkoba 

Kepala Kepolisian Nasional Ronald de la Rosa membagikan hadiah kepada keluarga dari para korban pembunuhan terkait narkoba di sebuah komunitas miskin perkotaan di Manila sebagai bagian dari kampanye melawan obat terlarang (Foto: Angie de Silva)

Sejumlah tokoh Gereja di Filipina mengingatkan akan “pembunuhan yang semakin banyak terjadi” setelah kepolisian nasional mengumumkan peluncuran kembali perang melawan narkoba.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) mengatakan kampanye anti-obat terlarang yang dilakukan oleh Presiden Rodrigo Duterte menewaskan sedikitnya 13.000 orang sejak diluncurkan 2016 lalu.

Kepala Kepolisian Nasional Ronald de la Rosa berjanji akan melakukan operasi “tanpa pertumpahan darah,” dan polisi akan menjunjung “semangat sejati” dari “tokhang” atau kampanye anti-narkoba yang dilakukan polisi.

“Tokhang” merupakan gabungan dari dua kata Visayan – “toktok” (ketuk) dan “hangyo” (minta) – dan berarti kampanye dari pintu-ke-pintu yang dilakukan polisi guna meminta para pengguna narkoba agar menyerahkan diri untuk rehabilitasi.

“Semangat ‘tokhang’ jika diterapkan dengan baik tidak akan menimbulkan pertumpahan darah,” kata Ronald. “Makanya disebut ketuk dan minta.”

Meskipun demikian, Uskup Kalookan Mgr Virgilio David ragu jika aparat mampu menyingkirkan stigma pembunuhan yang terjadi saat kampanye tahun lalu.

“Mereka hampir saja menghapus darah dari kasus-kasus pembunuhan yang tidak terselesaikan,” katanya.

Dalam “laporan akhir” yang dikeluarkan bulan lalu, pemerintah mencatat 3.967 “individu yang terlibat narkoba” yang tewas selama operasi anti-narkoba. Sementara itu, sebanyak 16.355 kasus pembunuhan dilaporkan masih dalam penyelidikan.

“Berapa banyak ‘kematian dalam penyelidikan’ yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng yang sudah diselesaikan? Mengapa para pembunuh tidak pernah ditahan, dikejar atau ditangkap?” tanya Uskup Virgilio.

Ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa pembunuhan tidak pernah berhenti bahkan setelah polisi mengumumkan penundaan kampanye anti-narkoba pada Oktober tahun lalu.

Menurut prelatus itu, sedikitnya 19 orang tewas sejak 13 Okotober hingga 13 Januari di dekat kediamannya di Caloocan. Di sini pembunuhan terkait narkoba seringkali terjadi.

“Apa lagi yang kita harapkan (dari peluncuran kembali kampanye itu)? Dugaan Anda sebaik dugaan saya,” lanjutnya.

Suster Mary John Mananzan, seorang biarawati Benediktin yang aktif mengkritik kebijakan pemerintah terkait perang melawan narkoba, juga mengatakan pembunuhan tidak berhenti.

“Peluncuran kembali (kampanye itu) hanya meningkatkan perang melawan narkoba, dan kita akan melihat semakin banyak kematian,” katanya. “Tentu saja orang miskin akan terus menjadi korban.”

Nardy Sabino, sekjen Promosi Respon Umat Gereja, mengatakan peluncuran kembali kampanye anti-narkoba hanya akan “memperkuat budaya impunitas” di negara itu.

“Tidak ada penyesalan dalam kepemimpinan kepolisian nasional terkait begitu banyak kasus penyalahgunaan dan pembunuhan,” katanya.

“Polisi harus fokus pada rantai suplai. Mereka hendaknya menangkap pengedar narkoba yang besar dan bukan membunuh orang miskin yang adalah korban dari industri raksasa ini,” lanjutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi