UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik Merespon KLB Campak, Gizi Buruk di Kabupaten Asmat

Januari 18, 2018

Gereja Katolik Merespon KLB Campak, Gizi Buruk di Kabupaten Asmat

Seorang anak balita menderita campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Propinsi Papua (Foto: Romo Hendrikus Hada Pr)

Hingga kemarin (17/1), 67 anak bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Asmat, Propinsi Papua, meninggal dunia akibat campak dan gizi buruk yang melanda wilayah itu sejak September lalu.

Pemerintah setempat telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa tersebut.

Lebih dari 560 anak telah menjalani rawat jalan dan rawat inap di satu-satunya rumah sakit milik pemerintah setempat sejak wabah tersebut muncul empat bulan lalu.

Sekitar 15 anak masih dirawat di RSUD Asmat, kata Steven Langi, kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, kepada ucanews,com.

Penambahkan jumlah dokter diperlukan untuk mencegah wabah campak dan gizi buruk menjadi semakin memburuk, lanjutnya.

Kabupaten Asmat memiliki 26 dokter yang melayani lebih dari 90.000 penduduk.

Menurut Pastor Neles Tebay, ketua STF Fajar Timur di Abepura dan koordinator Jaringan Damai Papua, selama ini kekurangan dokter, kampung-kampung yang terisolir dan rendahnya kesadaran orang Papua dalam hal hidup sehat menjadi faktor penyebab bila terjadi kasus kesehatan yang besar yang menaik perhatian banyak pihak.

Namun ia meminta orang Papua untuk berpikir dan terlibat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan dan memajukan hidup sehat.

“Penanganan masalah kesehatan dan promosi hidup sehat di Tanah Papua mesti dipandang sebagai tanggungjawab dari setiap dan semua pemangku kepentingan, termasuk orang Papua,” katanya, seraya menyarankan agar orang Papua mulai mencari solusi alternatif tepat guna untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pastor Hendrikus Hada, koordinator tim bantuan dari Keuskupan Agats-Asmat, mengatakan timnya telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat soal distribusi bantuan.

Dinas Kesehatan Propinsi serta berbagai organisasi dan individu telah mulai mengirim bantuan ke keuskupan, lanjutnya.

“Masalahnya banyak yang prihatin dan mau membantu tapi sulit atau tidak tahu bagaimana harus mengirim bantuan. Medannya sulit, ketersediaan transportasi terbatas,” katanya.

Yulius Setiarto, koordinator Gerakan Solidaritas Asmat – sebuah kelompok beranggotakan lima organisasi Katolik yakni Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (FMKI-KAJ), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Pemuda Katolik (PK), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), mengatakan kelompoknya telah mulai mengumpulkan donasi dari umat Katolik di seluruh negeri sejak 16 Januari lalu.

Uang yang terkumpul akan dikirim ke Keuskupan Agats-Asmat, katanya.

“Tim dari keuskupan yang akan membelanjakan kebutuhan dan mendistribusikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan. Manakala ada kebutuhan yang lebih mendesak dan tidak bisa dicari di Papua, kami akan berkoordinasi dengan jaringan yang kami punya untuk mengirimkannya ke sana,” lanjutnya.

 

One response to “Gereja Katolik Merespon KLB Campak, Gizi Buruk di Kabupaten Asmat”

  1. kristi says:

    Syalomm pak/bu.
    apakah masih menerima donasi untuk sekarang atau sudah ditutup ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi