UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Meski Pernah Diekskomunikasi, Semangat Imam OMI Ini Terus Menyala

Januari 22, 2018

Meski Pernah Diekskomunikasi, Semangat Imam OMI Ini Terus Menyala

Pastor Tissa Balasuriya, yang terkena sanksi ekskomunikasi di bawah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, tidak pernah takut untuk menantang ajaran Gereja. (Foto; ucanews.com)

Sejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM) ingin melanjutkan misi seorang teolog asal Sri Lanka yang pernah melayani para penghuni perkampungan kumuh, perempuan, yatim piatu, pekerja HAM, pelapor pelanggaran dan aktivis perempuan.

Pastor Tissa Balasuriya OMI adalah seorang imam dan juga aktivis yang sangat vokal. Ia terkena sanksi ekskomunikasi di bawah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II.

Ia adalah salah satu pendiri Asosiasi Ekumene Teolog Dunia Ketiga yang didirikan tahun 1975. Ia juga mendirikan Pusat Masyarakat dan Agama di Kolombo tahun 1971 untuk meningkatkan dialog antar-etnis dan antar-agama. Selain itu, ia adalah imam pendamping internasional pertama untuk Gerakan Mahasiswa Muda Kristen.

Pastor Balasuriya meninggal tahun 2013. Namun sebelumnya ia menulis 35 buku tentang HAM, teologi dan agama.

Menurut aktivis HAM Ruki Fernando, Pastor Balasuriya memperjuangkan kaum marginal dan mengkritik Gereja karena tidak menanggapi isu-isu sosial di negara itu dan di dunia.

“Ia selalu bertindak seperti seseorang yang memiliki sifat sosial yang menghabiskan waktu bersama kaum marginal dan memperjuangkan keadilan sosial bagi mereka yang tertindas. Pastor Balasuriya melayani para penghuni perkampungan kumuh di Summit Pura,” katanya.

Summit Pura (Kota Summit) merupakan wilayah yang mulai dihuni oleh para pengemis dan keluarga miskin yang tinggal di pinggir ibukota negara tersebut tahun 1971.

“Pastor Balasuriya aktif menangani isu-isu gender dan seksualitas, kemiskinan, hak buruh, isu etnis, lingkungan hidup, rekonsiliasi, pekerja perkebunan perempuan, komunitas nelayan dan petani,” katanya dalam sambutan kepada sejumlah akademisi, aktivis, biarawati dan imam pada sebuah acara yang digelar di Pusat Masyarakat dan Agama pada Rabu (17/1) untuk mengenang wafat imam itu.

Pastor Balasuriya terkena sanksi ekskomunikasi tahun 1990 setelah Vatikan mengingatkan bahwa bukunya, Maria dan Pembebasan Manusia, berisi pemahaman sesat karena dengan jelas menginterpretasikan secara salah doktrin tentang dosa asal dan meragukan keilahian Kristus. Namun setelah publisitas internasional dan juga negosiasi yang dilakukan secara intens, Vatikan  mencabut ekskomunikasi tersebut tahun 1998.

Prabha Manorathna, seorang dosen dari Universitas Kelaniya, mengatakan Pastor Balasuriya selalu melihat isu-isu sosial dari perspektif holistis.

“Dalam bukunya Teologi Tentang Planet, ia mengatakan bahwa akibat pengaruh yang begitu besar dari bangsa-bangsa Barat terhadap pemikiran hampir semua orang di dunia saat ini, ada kecenderungan untuk melihat sejarah dari sudut pandang Barat. Diyakini bahwa mereka membangun dunia, dan negara-negara miskin berada di jalan menuju pembangunan,” kata penganut agama Buddha itu.

Manorathna dan Pastor Balasuriya selalu melihat berbagai isu dengan visi jangka panjang.

Sementara itu, Pastor Ashok Stephen OMI, direktur Pusat Masyarakat dan Agama, mengatakan organisasinya telah mempromosikan visi dari Pastor Balasuriya.

“Kami menerjemahkan Teologi Tentang Planet untuk warga Sinhala dan mencari dana untuk menerjemahkan buku-bukunya yang lain bagi para pembaca setempat,” kata imam aktivis HAM itu.

“Kami akan mengadakan debat tahunan tentang isu-isu sosial bagi para seminaris OMI dan akan memberi tropi berwujud Pastor Balasuriya,” lanjutnya.

Ruki Fernando menyarankan agar Pusat Masyarakat dan Agama menangani isu-isu yang berkembang saat ini seperti tahanan politik, orang yang hilang dalam perang, peringatan akan korban perang, feminisme, aborsi, hak komunitas transgender, ekonomi dan hak budaya.

 

2 responses to “Meski Pernah Diekskomunikasi, Semangat Imam OMI Ini Terus Menyala”

  1. gusty says:

    perjuangan yang hebat. Semoga semangat Pastor T. Balasuriya OMI dicontoh para OBLAT (sebuatan utk para pastor/bruder konggregasi OMI)
    Bravo OMI

  2. Alloys Kris says:

    Bila sudah diekskomunikasi, mengapa web portal berita Katolik ini tetap menyebut Beliau (Balasuriya) dengan “Pastor” yg masih identik dengan sebutan utk kaum biarawan Katolik?

    Ataukah tulisan ini justru hendak menentang atau berkontroversi dgn keputusan ekskom dari St. Yoh. Paulus?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi