UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Krisis Timor-Leste Mengarah pada Pemilu Ulang

Januari 29, 2018

Krisis Timor-Leste Mengarah pada Pemilu Ulang

Presiden Timor-Leste Francisco Guterres, 'Lu Olo,' menyerukan untuk pemilu ulang. (Foto: ucanews.com)

Timor-Leste akan mengadakan pemilu  kedua dalam sembilan bulan setelah presiden membubarkan parlemen di tengah tuduhan adanya praktek politik yang tidak konstitusional oleh pemerintah minoritas Fretilin.

Ada juga kekhawatiran keamanan karena ketegangan antara kelompok politik yang bersaing telah berkembang dalam enam bulan terakhir karena pemerintah Perdana Menteri Mari Alkatiri telah gagal mengumpulkan cukup suara untuk mengeluarkan undang-undang (UU).

Akhirnya, hal itu  telah memicu peringatan penurunan ekonomi.

“Saya yakin bahwa rakyat harus dipanggil untuk memilih sekali lagi untuk membantu mengatasi tantangan yang ada di depan demokrasi kita yang masih berumur muda,” kata Presiden Francisco Guterres, yang dikenal sebagai Lu Olo.

Dia meminta seluruh pemilih untuk memberikan suara dalam pemilihan parlemen yang baru, ia menambahkan “mari kita semua, memilih  demi penguatan demokrasi, untuk supremasi hukum.

“Rakyat tidak memberikan mayoritas mutlak (dalam pemilihan terakhir) kepada salah satu pihak, ini sebuah pesan yang dapat kita pahami sebagai undangan kepada para pemimpin partai … untuk berkomitmen pada demokrasi yang lebih mendalam, untuk menyetujui usulan politik dan untuk lebih baik melayani kepentingan rakyat.”

Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk pemilihan tersebut, dan sementara konstitusi meminta agar diadakan dalam 60 hari, negara Asia yang paling Katolik tersebut dapat menunda pemungutan suara sampai setelah 40 hari Prapaskah dan perayaan Paskah.

Ini adalah kali kedua Alkatiri gagal menyelesaikan masa parlementer penuh setelah dipaksa keluar dari jabatannya selama krisis politik tahun 2006, empat tahun setelah terpilih.

Pengamat dari ibukota, Dili, mengatakan bahwa para pemimpin Partai Fretilin sudah merayakan apa yang mereka lihat sebagai sebuah kemenangan, setelah melihat potensi pembubaran parlemen dimana parlemen yang tidak percaya diri dengan menunda setiap rapat legislatif sejak Desember.

Hal ini  yang dituntut oleh para kritikus Fretilin, yang mengendalikan tiga jabatan politik teratas di negara tersebut dianggap pelanggaran konstitusional dan manipulasi politik.

Presiden terpilih secara terpisah dalam sebuah pemilu pada  Maret 2017 dan dia menunjuk anggota parlemen Fretilin, Aniceto Guterres, sebagai ketua Parlemen.

“Kemenangan ini” bagi Fretilin ini sangat mahal bagi proses demokrasi Timor-Leste yang rapuh dan telah merusak kemampuan parlemennya untuk berfungsi sebagai forum debat politik yang transparan dan tepat,” kata dosen hukum senior Universitas Katolik Australia, Martin Hardie kepada ucanews .com.

“Banyak yang percaya bahwa sikap keras kepala kedua anggota Fritilin, Alkatiri dan Presiden Lu Olo, bisa menyebabkan terulangnya kekerasan seperti  krisis tahun 2006 yang membuat Alkatiri dipaksa untuk mengundurkan diri. Mereka tampak bersedia melakukan apapun untuk tetap berkuasa namun, tampaknya pada akhirnya manuver mereka akan menjadi bumerang. ”

Pemimpin oposisi Xanana Gusmao telah absen dari negara tersebut sementara krisis sedang terjadi, namun malah berfokus untuk menegosiasikan kembali batas-batas maritim negara tersebut dengan Australia setelah memenangkan sebuah tuntutan di pengadilan tetap Arbitrasi  PBB melawan tetangganya, Australia tahun 2017.

Perundingan baru dijadwalkan pada  Maret 2018, namun kemungkinan akan ditundah menunggu sampai pemilu ulang.

Camilo Ximenes, analis politik dari Universitas Nasional Timor Leste, mengatakan bahwa Presiden Guterres telah mengambil keputusan yang berani untuk menyelesaikan kebuntuan politik di antara pemerintah Alkatiri dan parlemen.

“Presiden telah membuat keputusan yang tepat, mengembalikannya kepada masyarakat untuk diputuskan melalui pemilihan ulang,” kata Ximenes kepada ucanews.com pada  26 Januari.

Dia mengatakan bahwa meskipun ada tantangan tentang pendanaan untuk pemilihan baru, dan juga keamanan untuk proses pemilihan, “Saya pikir ini adalah saat yang masyarakat tunggu.”

“Saya menantikan Fretilin, mitra koalisinya Partai Demokrat, kelompok oposisi di parlemen, militer, dan polisi yang bekerja sama untuk menjamin keamanan,” katanya.

“Elit partai politik tidak hanya harus berbicara tapi juga bersosialisasi dengan konstituen mereka di kabupaten,” tambahnya.

Pastor Martinho Gusmao, seorang profesor filsafat di Seminari St. Petrus  dan Paulus  di Dili, dan seorang yang mengkritik keputusan untuk pemilihan baru mengatakan bahwa pasti sulit bagi Presiden Guterres untuk memutuskan pemilihan ulang.

“Kami hanya berharap dan berdoa agar tidak terjadi krisis politik,” kata Pastor Martinho.

Manuel Tilman, seorang pengacara yang membantu merancang Konstitusi Timor-Leste, mengatakan pada  25 Januari bahwa dia mengharapkan pemilihan baru akan diadakan pada  Mei, dan bahwa tidak ada pihak yang akan muncul sebagai pemenang mutlak.

“Dampaknya ada pada partai kecil. Pihak yang sekarang duduk di parlemen akan kehilangan suara,” kata Tilman dalam sebuah wawancara di televisi.

Hardie juga memperingatkan konsekuensi ekonomi dari keputusan tersebut, karena tidak ada anggaran baru sebelum pemilu pada pertengahan tahun, dan ia menambahkan bahwa para pebisnis asing sudah mengkhawatirkan investasi mereka.

“Beberapa orang telah berbicara dengan saya karena takut untuk melakukan penerbangan ke ibukota. Orang-orang Timor-Leste, harus menunggu empat atau lima bulan lagi sebelum sejumlah modal besar dapat didanai adalah kehilangan besar di negeri ini, karena pemerintah sementara akan berusaha untuk bermain dengan anggarannya dan menggunakannya untuk tujuan politik dalam beberapa bulan mendatang”.

 

One response to “Krisis Timor-Leste Mengarah pada Pemilu Ulang”

  1. David says:

    Pemilu ulang boleh anggarannya dari mana?kalau ada dana lebih banyak aspal jalan dari Dili ke lospalos.supaya dapat menumbuhkan ekonomi rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi