UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pelarangan Agama di  Cina Meningkatkan Kekhawatiran

Januari 29, 2018

Pelarangan Agama di  Cina  Meningkatkan  Kekhawatiran

Uskup Shantou Mgr Huang Bingzhang yang diekskomunikasi (berlutut) menerima pentahbisan uskupnya secara ilegal pada 14 Juli 2011, dan dihukum oleh Takhta Sici Vatikan dua tahun kemudian.

Ketakutan terus meningkat  di kalangan umat Kristiani sejak Undang-Undang untuk Urusan Agama di Cina yang sudah diamandemen akan terus menebarkan tekanan.

Sejak 7 September 2017, ketika Perdana Menteri Li Keqiang mengumumkan berlakunya  undang-undang (UU) tersebut mulai 1 Februari tahun ini, yang berdampak pada praktek  keagamaan di Cina menjadi semakin ketat.

Pihak berwenang menyelenggarakan seminar untuk semua agama dan pejabat pemerintah di seluruh negeri untuk menjelaskan UU baru dan  menerapkan langkah-langkah untuk menekan agama dan semua praktik keagamaan.

Pada hari Natal, pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar tidak mengizinkan siswa dan anggota partai untuk berpartisipasi dalam perayaan keagamaan tersebut.

Sebuah sumber Katolik yang tak ingin menyebutkan namanya mengatakan kepada ucanews.com bahwa sebuah pusat perbelanjaan membongkar hiasan yang menampilkan Santa Claus.

“Mal bukan tempat ibadah, Santa Claus bukan ikon religius, dan Peraturan Menteri Agama yang diamandemen belum mulai berlaku, namun para pejabat masih meminta mal untuk membongkar hiasannya. Saya merasa sangat aneh,” ujarnya.

Dia tidak percaya bahwa Revolusi Kebudayaan akan diulangi, namun mengharapkan tindakan keagamaan diperketat, memperluas kendali pemerintah ke semua lapisan masyarakat.

Seorang Katolik lainnya yang tidak menyebutkan namanya mengatakan bahwa sebelum mengumumkan UU, pemerintah Cina meminta semua imam, termasuk mereka yang berasal dari Gereja ‘bawah tanah’, untuk mendaftarkan sertifikat sebagai “imam” agar pemerintah dapat memantau mereka secara langsung.

“Tapi, setelah mengumumkan pelaksanaan UU itu, pemerintah terus memberi tekanan pada pastor bawah tanah untuk mendaftar diri. Mengenai apa yang terjadi setelah 1 Februari, kita masih belum mengetahuinya, namun pemerintah daerah tentu akan meningkatkan upaya  melayani pemerintah pusat,” katanya.

Ying Fuk-tsang, direktur sekolah ilmu keagamaan Universitas Cina Hong Kong, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pemerintah terus mengkhawatirkan kepercayaan anak-anak di bawah umur, mahasiswa dan anggota partai.

Upaya ini bertujuan melarang sekolah Minggu dan perkemahan musim panas untuk anak di bawah umur, katanya, dan mungkin akan meningkatkan intervensinya lebih jauh dalam kegiatan  remaja dan anak di bawah umur.

Ying mengatakan larangan perayaan Natal baru-baru ini adalah awal dari sebuah kebijakan yang ditujukan terhadap Kristen.

Namun, dia yakin pihak berwenang “tidak akan kembali ke Revolusi Kebudayaan dan menghapuskan agama-agama, namun akan terus meningkatkan kontrol mereka dan mencengkeram agama dengan kuat di bawah perintah Sinisisasi.”

Ying mengatakan bahwa pihak berwenang mengizinkan Gereja-gereja lokal tertentu berkembang dengan lancar dan menjadi panutan dalam menunjukkan bahwa kebijakan agama pemerintah layak dilakukan.

Pihak berwenang mengerti bahwa sulit untuk memberantas agama-agama, jadi beberapa tindakan diambil untuk membedakannya, katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi