UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Karitas Didik Warga Sri Lanka tentang Sistem Pemilu Baru  

Januari 30, 2018

Karitas Didik Warga  Sri Lanka tentang Sistem Pemilu  Baru  

Lebih dari 300 peserta termasuk para imam dan tokoh awam menghadiri pertemuan di St. Joseph Vaz Center untuk belajar tentang sistem pemilu baru di Sri Lanka. (Foto: Karitas Colombo)

Karitas Colombo membuat masyarakat sadar akan sistem pemilu   baru yang diperkenalkan untuk digunakan dalam pilkada  di Sri Lanka.
 
Pemilu  pada 10 Februari akan menjadi yang terbesar dalam sejarah negara tersebut. Lebih dari 15,8 juta orang yang memenuhi syarat untuk memilih 8.293 anggota untuk 341 pemerintah daerah dalam pilkada  yang akan diikuti oleh 30 partai politik dan 100 kelompok independen. Ini juga akan menjadi pertama kalinya pilkada  untuk semua pemerintah daerah diadakan pada hari yang sama.
 
“Sekali lagi, ini kesempatan untuk menggunakan suara kita untuk memilih yang benar. Pertama, kita harus terbiasa dengan sistem pemilu baru,” kata Pastor Lawrence Ramanayake, direktur Karitas Colombo, kepada para imam dan pemimpin awam pada 23 Januari. di St. Joseph Vaz Center, Borella, Colombo.
 
“Kami berharap para pemimpin awam akan membawa pesan ini ke tingkat paroki dan mendorong orang untuk menggunakan suara mereka dengan cara yang bijaksana.”
 
Karitas Colombo adalah cabang kegiatan sosial Keuskupan Agung Kolombo.
 
“Menurut sistem baru, pemilih harus memilih partai, bukan kandidat,” kata Mahinda Deshapriya, ketua Komisi Pemilihan Umum.
 
Kandidat di tingkat daerah nama mereka tidak tertera dalam surat suara.  Pemilih harus mencoblos di lambang  partai. Suara yang diterima masing-masing pihak akan dihitung untuk mendapatkan bagian suara masing-masing partai di otoritas lokal.
 
Para calon harus menjaga reputasi baik agar partai mereka mendapatkan suara, kata Deshapriya.
 
Dalam pemilihan ini, setidaknya 25 persen kandidat dari setiap partai politik harus perempuan.
 
“Pemilu ini akan membuka lebih banyak ruang untuk menuntut hak-hak kita,” kata Gangga Dilrukshi, 38, pemimpin awam dari Negombo.
 
Meskipun perempuan mewakili 52 persen populasi Sri Lanka, perwakilan perempuan sekitar 4 persen di dewan provinsi dan sekitar 5 persen di kabinet. Sri Lanka berada di peringkat ke-180 dari 190 negara untuk perwakilan wanita di parlemen.
 
“Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui sistem yang baru. Kita harus memanfaatkan pemilihan ini untuk menunjuk orang-orang yang sesuai yang dapat bekerja untuk daerah kita,” kata Lesli Aththanayaka, anggota dewan paroki di Palliyawatta, Wattala.
 
Aththnayaka sedang mempersiapkan sesi sosiolisasi mengenai sistem pemilihan baru di bawah bimbingan pastor paroki.
 
“Sistem pemilihan ini sedang diuji pada pemilihan ini, mungkin perlu sedikit waktu untuk melihat apakah ini lebih efektif dalam mengubah kehidupan masyarakat. Kami menghargai peran Gereja Katolik dalam mendorong orang untuk menyelenggarakan pemilu  yang adil dan bebas,” kata Saman S. Rathnayake dari Komisi Pemilihan Umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi