UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Lingkungan Terancam Rusak Akibat Mega Proyek di Sri Lanka

Januari 31, 2018

Lingkungan Terancam Rusak Akibat Mega Proyek di Sri Lanka

Akademisi Sri Lanka telah mengkritik tidak adanya perlindungan lingkungan dalam proyek Kota Pelabuhan yang didanai Cina. Mereka berkumpul pada 27 Januari di Pusat Cardinal Cooray di Negombo. (Foto: ucanews.com)

Sejumlah akademisi di Sri Lanka mengingatkan bahwa dampak pembangunan Kota Pelabuhan terhadap lingkungan kurang diperhatikan, termasuk kaitannya dengan pemanasan global.

Menurut para kritisi, proyek pembangkit listrik tenaga fosil yang didanai Cina – baik selama pembangunan dan operasi nanti – akan mengakibatkan perubahan iklim.

Mereka juga mencemaskan peningkatan permukaan air laut yang akan memperburuk banjir dan erosi wilayah pesisir yang secara langsung disebabkan oleh pengerukan pasir untuk reklamasi dari proyek tersebut.

Proyek yang dibangun di atas lahan seluas 269 hektar itu berdekatan dengan pelabuhan utama Ibukota Kolombo. Tahap awal pembangunan proyek senilai 1,4 miliar dolar AS tersebut diprediksi akan meraup kembali sekitar 13 miliar dolar AS dalam bentuk investasi.

Awal Januari lalu, tambahan dana sebesar 1 miliar dolar AS telah dijanjikan oleh pengembang yakni China Harbour Engineering Co., Ltd., untuk tiga gedung bertingkat sebagai pusat perputaran uang.

Ketiga gedung tersebut akan mencakup sebuah pemecah gelombang, hotel, pusat perbelanjaan, perumahan dan fasilitas rekreasi kelas atas termasuk olahraga air.

Kota Pelabuhan diharapkan akan ditempati oleh 75.000 orang dan 200.000 orang pergi ke sana untuk bekerja melalui terowongan bawah tanah dan kereta.

Nampaknya proyek itu merupakan bagian dari apa yang disebut “One Belt, One Road” yang menghubungkan Asia dan Afrika, Timur Tengah dan Eropa – seperti rute kuno Silk Road.

Proyek yang didanai oleh Exim Bank Cina tersebut secara efektif menguntungkan kepentingan politis dan strategis Beijing di Asia Selatan.

Meski pemerintah Sri Lanka akan membuat negara itu menjadi pusat perdagangan dan perputaran uang, para penentang mengklaim bahwa dampak lingkungan dari proyek itu terlalu besar.

Hemantha Withanage, seorang peneliti lingkungan hidup dan direktur eksekutif Pusat Keadilan Lingkungan Hidup, mengatakan penahanan air yang keluar dari Danau Beira di Kolombo akan memperburuk banjir.

Ia memberikan sambutan kepada para imam, biarawati, aktivis lingkungan hidup dan akademisi pada 27 Januari lalu di Pusat Kardinal Cooray di Kota Negombo, 35 kilometer sebelah utara Kolombo.

Isu meningkatnya kadar garam di berbagai sumber air tawar juga belum ditangani dengan baik, katanya.

Selain itu, pengerukan pasir untuk reklamasi akan mengurangi tangkapan ikan, kepiting dan udang bagi sekitar 15.000 nelayan.

Para pengembang asal Cina telah mengeruk 70 juta meter kubik pasir untuk proyek mereka dan berencana akan mengeruk kembali 40 juta meter kubik.

Withanage mengatakan tidak ada bukti untuk mendukung klaim yang mengatakan bahwa terumbu karang buatan yang akan dibuat mampu membantu perkembangbiakan ikan.

Ia pun mengeluhkan tidak adanya studi tentang potensi dampak dari pengerukan pasir dari proyek Kota Pelabuhan itu dan meningkatnya permukaan air laut akibat pemanasan global.

Pakar zoologi Carmel L. Corea mengatakan dampak penggunaan 3,45 juta ton batu besar dari proyek itu terhadap lingkungan laut termasuk terumbu karang belum diuji dengan baik.

Batu besar tersebut termasuk dua piramida Mesir, katanya.

Para pengembang mengatakan sekitar 60 persen lahan reklamasi telah dibuat dan diharapkan akan rampung pada pertengahan 2019.

Aruna Roshantha dari Perhimpunan Seluruh Nelayan Ceylon mengatakan panen nelayan telah mengalami penurunan. “Kami cemas akan hari esok,” katanya.

Ia mengatakan erosi laut akibat pengerukan pasir sudah terlihat jelas dan tiga rumah sudah tersapu.

Uskup Asiri Perera dari Gereja Metodis Sri Lanka mengatakan ada klaim yang mengatakan bahwa 80.000 pekerjaan akan diciptakan.

“Tapi kami tahu dampak negatif dari proyek itu bagi masyarakat, ekonomi dan lingkungan kami. Untuk itu, sebagai umat Kristiani, kita hendaknya memutuskan apa yang baik,” katanya.

Para pengembang proyek menolak klaim terkait kerusakan besar terhadap lingkungan laut termasuk hilangnya habitat ikan dan penggenangan wilayah pesisir.

Mereka mengatakan penilaian dampak lingkungan dilakukan oleh kelompok para ahli di berbagai bidang dan investigasi yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan dan Penelitian Sumber Daya Air Nasional.

Menteri Pengembangan Barat dan Megapolis Patali Champika Ranawaka mengatakan pada media briefing yang digelar 26 Januari lalu di Kolombo bahwa penilaian terkait dampak sosial dan lingkungan lebih lanjut telah selesai dilakukan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi