UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ketika Konversi Agama Menjurus Pada Penculikan di Malaysia

Pebruari 2, 2018

Ketika Konversi Agama Menjurus Pada Penculikan di Malaysia

Dalam simulasi perjalanan haji, anak-anak TK Little Caliphs di Shah Alam, Malaysia, membuat lingkaran layaknya di depan Kabah, formasi paling suci menurut ajaran agama Islam di Kota Suci Mekah. Foto ini diambil 24 Juli 2017. (Foto: Mohd Rasfan/AFP)

Indira Gandhi kali ini menangis terharu. Sembilan tahun setelah mantan suaminya merebut anak perempuannya yang berumur dua tahun pada tahun 2009, polisi kini diminta untuk beraksi.

Senin itu, 29 Desember, Pengadilan Tinggi menyatakan bahwa konversi agama yang dilakukan secara sepihak tidak sah.

Dulu mantan suami Gandhi – Muhammad Ridhuan Abdullah atau K. Pathmanathan – menggunakan konversi yang dilakukan secara sepihak untuk mendapatkan hak asuh atas anak-anak mereka dengan bantuan para pejabat Muslim.

Abdullah melakukan konversi agama terhadap ketiga anaknya hanya tiga minggu setelah ia masuk Islam. Pengadilan Syariah memberinya hak asuh atas ketiga anaknya tersebut tidak lama setelah mereka masuk Islam.

Ini adalah awal perjuangan di pengadilan bagi Gandhi, seorang guru Taman Kanak-Kanak (TK) berusia 43 tahun. Satu-satunya penghiburan baginya adalah kedua anak tertuanya – Tevi Darshiny, 20, dan Karan Dinesh, 18. Keduanya masih bersamanya.

Sementara anak bungsunya bernama Prasana Diksa. Ia berumur 11 bulan saat diculik oleh ayahnya dan diduga tinggal bersamanya. Namun sekarang mereka menghilang.

Tahun 2013, Pengadilan Tinggi menyatakan bahwa konversi agama yang dilakukan secara sepihak terhadap ketiga anak Gandhi oleh mantan suaminya bertentangan dengan norma-norma internasional, dan pengadilan negeri sipil memiliki kekuatan lebih besar dibanding pengadilan Syariah.

Tahun 2014, Gandhi mendapat surat perintah pengadilan yang memaksa polisi untuk mencari Diksa dan mengembalikannya kepadanya. Namun Kepala Kepolisian Nasional Khalid Abu Bakar mengatakan konflik yurisdiksi antara pengadilan sekular dan pengadilan Syariah sulit diatasi.

Kasus itu akhirnya ditangani oleh  Mahkamah Agung. Mahkamah Agung memperkuat putusan Pengadilan Tinggi.

“Sekarang sudah sembilan tahun, dan saya belum melihat anak bungsu saya. Sebagai seorang ibu, saya ingin sekali melihat anak saya dan berkumpul dengannya menyusul putusan hari ini,” kata Gandhi kepada media seusai sidang.

“Satu-satunya bagian yang menyedihkan adalah saya tidak bisa membagikan momen ini bersama anak bungsu saya yang tidak tinggal bersama saya dan keluarga saya. Sudah sembilan tahun saya tidak melihatnya,” lanjutnya.

Putusan tentang konversi agama terhadap anak bisa mengakhiri praktek pemberian hak asuh atas anak secara cepat oleh para pejabat Muslim di Malaysia.

Putusan pengadilan mendefinisikan kata ‘orangtua’ sebagai sesuatu yang jamak ketika kata ini berkaitan dengan isu konversi agama terhadap anak yang sering digunakan oleh para orangtua yang bercerai guna mendapatkan hak asuh atas anak dengan ijin dari para pejabat Muslim.

Hakim Ketua Zulkefli Ahmad Makinudin mengatakan putusan itu bulat. Ia menekankan bahwa pengadilan tidak digoyahkan oleh keyakinan agama.

Kelima hakim juga berpendapat bahwa pengadilan Islam di Malaysia memiliki kekuatan yang sama dengan pengadilan negeri sipil. Tapi pengadilan negeri sipil memilki hak lebih tinggi dibanding pengadilan Syariah dalam sengketa apa pun.

Dalam lembar putusan setebal 99 halaman, para hakim menulis bahwa mekanisme check and balance berdasarkan konstitusi “tidak bisa dibatalkan atau diubah oleh parlemen” (dan) “perbedaan terkait pembentukan pengadilan negeri sipil dan pengadilan Syariah menunjukkan bahwa keduanya beroperasi atas landasan yang berbeda secara bersamaan.”

Para hakim mengatakan pendampingan iman anak merupakan pertimbangan terpenting bagi pengadilan untuk menjamin kesejahteraan anak dan karena hak asuh atas anak telah diberikan kepada ibu, maka ibulah yang membimbing hidup mereka.

“Mengijinkan pasangan lain melakukan konversi agama secara sepihak tanpa persetujuan istri akan menimbulkan masalah serius terkait gaya hidup,” kata mereka.

Dalam kasus pemohon, para hakim mengatakan anak-anak berasal dari perkawinan yang dilakukan menurut agama Hindu.

Seraya menyebut Undang-Undang Perwalian Anak 1961, Hakim Zainun Ali mengatakan kedua orangtua memiliki hak yang sama terkait hak asuh atas anak dan dalam hal membesarkan anak.

“Konversi agama Islam yang dilakukan suami tidak bisa mengubah kondisi bahwa persetujuan kedua orangtua diperlukan sebelum sertifikat konversi agama Islam dikeluarkan untuk anak,” katanya.

Untuk itu, sertifikat konversi agama untuk ketiga anak itu tidak berlaku dan harus dikesampingkan.

Pengacara Gandhi, M. Kulasegaran, mengatakan pengadilan akhirnya melakukan apa yang parlemen tidak bisa lakukan selama ini.

Pemerintah mengumumkan tahun lalu bahwa UU itu akan diamandemen untuk membatalkan konversi agama yang dilakukan secara sepihak. Namun kemudian pemerintah mundur karena pertimbangan politik di negara mayoritas Muslim itu.

Philip Koh, pengacara dari Dewan Konsultasi Malaysia untuk Agama Buddha, Kristen, Hindu, Tao dan Sikh, mengatakan putusan hakim itu “menekankan bahwa beginilah seharusnya Malaysia bertindak sebagai komunitas multi-budaya dan multi-agama.”

Organisasi Bantuan Perempuan menggambarkan putusan hakim itu sebagai “sebuah kemenangan besar bagi semua masyarakat Malaysia.”

“Putusan hakim itu menegaskan bahwa kedua orangtua memiliki hak yang sama untuk memutuskan agama anak mereka,” kata Sumitra Visvanathan, direktur kelompok itu.

“Konversi agama yang dilakukan secara sepihak merupakan pelanggaran berat terhadap hak-hak perempuan dan mengarah pada pelanggaran yang lebih berat termasuk penculikan anak,” lanjutnya.

Sementara itu, Abdullah, orang yang masuk daftar pencarian orang polisi, telah menghilang bersama Diksa. Keberadaan mereka tidak diketahui.

Nenek Diksa, S. Vengammah, yang juga mengikuti sidang hari itu, mengkritik keras polisi.

“Inspektur jenderal polisi tidak punya alasan sekarang, dan ia harus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia harus mulai (mencari cucunya) sekarang,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi